KIMIGAYO 君が代

Lagu kebangsaan Jepang ini diciptakan pada 1869 atas anjuran instruktur band militer Inggris, John William Fenton, yang mengemukakan pentingnya kehadiran lagu kebangsaan yang belum dimiliki Jepang saat itu. Lirik lagu tersebut dipetik dari tanka (puisi 31 suku kata) yang terdapat dalam Kokinwakashu 古今和歌集, antologi puisi abad ke-10. Musiknya sendiri digubah tahun 1880 oleh Hiromori Hayashi yang merupakan musikus istana dan lantas dipoles oleh konduktor musik Jerman, Franz Eckert.

Meski pengesahannya sebagai lagu kebangsaan diundangkan pada 1888 dan diperbarui pada 9 Agustus 1999, sekarang pun masih banyak kelompok di Jepang secara terang-terangan menghendaki lagu tersebut tidak dinyanyikan, terutama dari kalangan pendidik. Alasannya, liriknya berisi pendewaan terhadap kekaisaran, tidak mewakili kesadaran rakyat keseluruhan, dan pernah digunakan kalangan militer untuk mengobarkan semangat sovinisme dan nasionalisme rakyat, yang bermuara pada penjajahan dan penderitaan bangsa Asia.

Pada Desember 1974 pemerintah menyebarkan angket mengenai lagu kebangsaan dan mendapat masukan bahwa 76.6% menganggap lagu ini cocok sebagai lagu kebangsaan sedangkan 9.5% menilainya tidak cocok.

Dulu Depertemen Pendidikan Pemda Tokyo menegaskan akan memberikan hukuman kepada guru sekolah umum yang tidak mau menaikkan bendera Hinomaru dan menyanyikan lagu Kimigayo pada upacara sekolah. Ini membuat berang asosiasi guru di sana dan mengumandangkan bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan kebebasan berpikir yang dijamin oleh UUD. Tahun-tahun belakangan ini rakyat yang menyokong keberadaan lagu kebangsaan ini kian meningkat dan sikap asosiasi guru melunak.

Ketua Komite Olimpiade 2020 Tokyo, Yoshiro Mori, yang pula bekas perdana menteri Jepang itu menyatakan bahwa mereka yang tidak menyanyikan lagu kebangsaan tidak bisa dianggap sebagai wakil Jepang. Banyak yang mengamini dan banyak pula yang menolak pernyataan tersebut. Prof. Yoko Shida, eksper UUD, dari Musashino Art University menyayangkan pernyataan sang ketua itu sembari menegaskan bahwa penguasa tidak boleh memaksakan baik jiwa Olimpiade maupun UUD ke dalam hati orang lantaran setiap martabat individu yang bebas perlu dihormati. (Harian Asahi, 23-8-2016)

KIMIGAYO君が代

Kimigayo wa 君が代は
Chiyo ni yachiyo ni千代に八千代に
Sazareishi no さざれ石の
Iwao to nariteいわおとなりて
Koke no musu madeこけのむすまで

Hiduplah sang kaisar!
Dari generasi ke generasi, selama-lamanya
Hingga bebatuan kecil
menjadi karang besar yang tinggi menjulang
berselimut lumut

Ctt: Terjemahan liriknya dirangkum dari beberapa bahan yang saya jadikan referensi, tetapi tidak menutup kemungkinan kurang akurat.

PEJANTAN PENCINTA PEREMPUAN MUDA

“Sudah kawin … sungguh, kalian lelaki yang sudah kawin tidak memberi kesempatan kepada para bujangan.”

Itulah ucapan yang melesat dari mulut gadis manis penyanyi bar saat menyentuh cincin kawin di tangan kiri tamu setengah baya yang menggamitnya menjalin hubungan asmara, sebagaimana yang tertuang dalam novel “Pengemis”, gubahan Naguib Mahfouz, sang peraih Hadiah Nobel.

Novel tersebut menggambar penyelewengan seorang pengacara kaya, yang sudah berbini beranak pula, yang mencari kesenangan ragawi di klub malam di Mesir. Tetapi gambaran tersebut bukanlah hal yang ganjil dalam masyarakat Indonesia, sama tidak ganjilnya dengan berjibunnya lelaki Indonesia yang doyan memperbini gadis yang berusia jauh lebih muda, sejalan dengan tuntutan libido yang mengaliri urat nadinya.

Sekapal laki-laki terkenal yang suka melalap daun muda di luar negeri kita ketahui, seperti Charlie Chaplin, Frank Sinatra, Woody Allen, dan Larry King. Dulu juga heboh di Jepang tentang seorang biksu kaya sebuah biara yang doyan bermain cinta dengan murid SMA. Cerita tentang biksu yang tidur dengan perempuan lain tidak begitu menjadi sorotan betul, tetapi pengakuannya bahwa dia sudah bermain cinta dengan lebih dari 100 murid SMA menerjang kesadaran orang terjungkang. “Dia sakit,” celetuk banyak orang.

Seorang temanku (40 tahun) yang pernah bertugas di Indonesia menyunting dan memboyong ke negaranya perempuan yang berusia 20 tahun lebih muda. Juga, seorang kenalan di Indonesia, direktur perusahaan real estate yang kaya raya, menginjak-injak kesetiaan istrinya demi mengeloni perempuan yang jauh lebih segar. Terbetik pula berita tentang Broeri Marantika yang mati meninggalkan bini yang berusia 30 tahun lebih muda dan tentang Ismet Siregar, jutawan kelapa sawit yang sudah beranak pinak, punya anak di luar nikah dengan biduan Dewanti Bauty yang jauh lebih muda. Yusril Ihza Mahendra (50 tahun) yang menikahi perempuan 23 tahun juga pernah bikin heboh Indonesia. Itu hanyalah segelintir pejantan golongan atas yang terbudur incat matanya menengok perempuan yang beraut wajah jauh lebih muda.

Guruh Soekarno Putra (49 tahun) mempersunting wanita yang berusia 22 tahun. Dari segi umur yang berbeda 27 tahun itu, mestinya gadis itu lebih layak dijadikan anak angkat, dikawinkan dengan anak saudara/kenalan, dan bukannya diperbini sendiri. Adakah dia mewarisi sifat bapaknya yang doyan mengawini gadis-gadis muda?

Presiden Sukarno, sang orator ulung, diktator ulung, sekaligus berlibido ulung, memperbini 9 wanita yang di antaranya:
Haryati 23 tahun; usia Sukarno 40 tahun.
Fatmawati 20 tahun; usia Sukarno 42 tahun.
Ratna Dewi 23 tahun; usia Sukarno 61 tahun.
Yurike Sanger 18 tahun; usia Sukarno 63 tahun.
Heldy Djafar 18 tahun; usia Sukarno 65 tahun.
Boleh jadi banyak pula perempuan muda lain yang menolak dinikahi bandot tua yang bernafsu syahwat kelas kakap ini yang senang gonta-ganti bini, tebal muka tak bermalu. Mestinya gadis-gadis ini, terutama dua yang terakhir yang masih bau kencur sepangkat cucunya, tidak jatuh dalam pelukannya, melainkan dibiarkan menikmati masa remajanya secara alamiah.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari perilaku pejantan ini? Apakah itu bisa dikategorikan sebagai kejahatan sosial?

Kendati tiada larangan menikahi perempuan yang berumur puluhan tahun di bawah umur sendiri dan tidak diharamkan oleh agama impor atau lokal, perilaku para pejantan ini bikin manusia modern menelengkan kepala. Yang lebih mengherankan lagi adalah para pejantan itu tega nian melecehkan keberadaan istrinya selama ini, demi memenuhi ego mengawini perempuan yang lebih segar. Dan, seringnya Tuhan berpihak pada pejantan ini dan membiarkan sang istri meratap lemah, pilu air mata yang bersimbah, tempat bergantung yang patah.

Kita tahu suami bekerja dari pagi hingga sore di tempat kerja. Istri bekerja dari subuh sampai malam, di dalam dan luar rumah, untuk mempersiapkan segala kebutuhan anak suaminya, dengan waktu jam kerja yang jauh lebih banyak. Seandainya terjadi perceraian, wajarlah segala harta benda yang diperoleh selama pernikahan setidak-tidaknya DIBAGI DUA SECARA ADIL, seperti di negara maju yang menempatkan keadilan sebagai sesuatu yang selalu aktual, ideal, universal, dan sakral. Bahkan suami yang ketahuan selingkuh akan beroleh harta yang lebih sedikit daripada bininya.

Tentu saja, pejantan negara berkembang yang berjiwa primitif tidak akan berkehendak berpikiran objektif, untuk mencipta keseimbangan masyarakat yang progresif. Bini yang dicerai terpaksa memagut pilu yang menghujani kalbu, ihwal balutan cinta suci dikhianati secara keji, dan sungguh malang dibuang secara sewenang-wenang.

Seperti karat, fenomena ini mustahil sama sekali dikerat, tetapi bisa dikurangi dengan tekad. Tuhan, yang muak dengan segala kenistaan ini, bisa menciptakan nabi lokal yang membopong wahyu yang berisi prinsipiil adil akan hak bini atau laki yang diceraikan. Agaknya Tuhan belum berkehendak sehingga manusia sendirilah yang mesti turun tangan, untuk mengentaskan masalah ini dengan membuat peraturan yang jelas tegas. Usulanku, bini yang diceraikan mesti beroleh 3/4 dari semua harta yang ada dan begitu pula sebaliknya. Jadi, seandainya semua harta (tabungan, rumah/tanah, dsb.) mencapai nilai Rp2.000.000.000, maka bini mesti beroleh tiga perempatnya, yaitu Rp1.500.000.000. Sesuatu yang adil dan sekaligus konsekuensi ini akan melunakkan fantasi mesum yang lahir dari otak cabul sang lelaki.

Belum pernah kudengar ada kenalan dekat, yang membuatnya bagai meregang nyawa, bila tidak mengawini wanita muda, dan mencampakkan bini pertamanya. Apabila ada di antara kita yang berpikiran begitu, marilah merenung agak ia-ia dalam-dalam akan apa yang sudah dipersembahkan sang bini selama ini. Andai renungan itu tidak juga mampu menggapai kesadaran manusiawi kita, cobalah hunjamkan belati ke rusuk kiri hingga menembus jantung, untuk mengembalikan darah ini ke bumi lagi, sehingga nanti akan kita beroleh jawab atas segala pinta yang buta dan segenap harap yang bau kurap.

Sumber: Wikipedia dll.sukarno

ONLY WITH HONOR

“You are going far away, my son. I have no advice for you. You do not need it. Please go and take care of yourself.” That is all that my mother said to me at our home in Padang as I bowed my head down on the floor without uttering a word to listen to her judicious voice. Then, I stepped up on a bus bound for the harbor in 1981 where I boarded a ship that took me to the promise land, Java Island.

As the second son of four siblings, including an older brother and two younger half-sisters, I frequently helped my mother by sweeping the floor, cooking, and doing other household chores. Since she was busy as an elementary school teacher and my step-father was on the road as a truck driver, they did not have enough time to take care of my much younger sisters. I often took care of them, especially since my older brother did almost nothing to help. His existence around the house was like an extraterrestrial being, as far as I was concerned.

Even though I was a diligent child who liked to do many things around the house, I strongly shunned anything that was against my principles and frame of mind – even advice from my own parents that went against my ideas. So, it was not strange that my mother’s lightning frequently struck. Gradually she realized my stubbornness, which was like a wide-based mountain, was impossible to abolish and accepted it as a matter of course from a super-independent hominid. Consequently, when my departure day came to go study far away, she had refrained from producing the following traditional words from her lips as advice to me,

Karatau madang di hulu

babuah babungo balun.

Marantau bujang dahulu

di rumah baguno balun.

This old adage mentioned here urges young Minangkabau men to go away from their hometown since they are not unusable yet. This concept is like the tip of a sharp sword pointed to my throat, like other males who are born in West Sumatra, too. This is part of our matrilineal society, a society that forces young men to stay far away from their mothers and leave their home region as soon as possible. The tradition is to make them go to as far away as possible, obtain success in that foreign land before returning. The time was ripe for me to cany out the mission of the “ouster”.

Under a heavy cloud that was hanging from a gray sky, the old little bus that I got on roared down the road with an exhausting sound eventually faced the face of the harbor. Upon arrival, my mind was still dim about the fact that I had to leave my own birthplace, even though leaving is embedded deeply in my culture. When I was about ready to board the ship, a heavy drizzle began that made people feel gray. With burdened hearts, everyone got soaked to the skin. The sea birds that grew reluctant to fly dimmed the atmosphere much more.

The ship that would take 3 days to get to Jakarta was very big for that time. I wonder if it was about 50 meters in length. It did not seem to be old yet. A great number of passengers with their big luggage moved very slow to step on the only stair to board the tall ship enduring a drizzle that had turned into a rain that continued to get heavier. I had a trunk and a bundle full of clothes, books, and food.

Needless to say, walking on the stair without luggage would be quicker. One of my friends who I was departing with sparked electricity in his brain with the idea to get on without our luggage and then throw down a rope that was hanging at the side of the ship to retrieve our things. Those who stayed on land, he thought, would tie the luggage to the rope and we would pull it up. It was “a thumbs up” idea, so we began to work on this. Three of us were quite exhausted to pull up the heavy luggage. However, it took only about I0 minutes to do it rather than slowly bring it up the stair. After we finished, other passengers grabbed up on my friend’s idea and did the same thing, too.

About three hours later, the ship weighed its anchor and gradually receded from the harbor accompanied by the “Teluk Bayur” song that was sung by Ernie Djohan. “Teluk Bayur”, which is the name of the harbor. The song was so popular at that time, so it certainly never faded away from those who left their homeland.

Goodbye lovely Teluk Bayur.

I will go across the sea.

I will pursue the knowledge of a foreign land

as for a foothold in my life when I am old. …

By the way, my mother was very strict to educate us, her children, and hated to see someone be a crybaby. Men have to harden their hearts against self-pity. Even though she looked sad at the harbor, she shed no tears. A few years later, a family member told me that my mother cried hard after arriving back home. I think she did not want to pour out her tears to my heart, the one who was leaving for a far away destination.

It seemed the ship was monopolized by graduates of senior high school, Iike me, who would pursue studies elsewhere. Everyone’s faces reflected their sadness and uneasiness mixed with hope for success. Most of us were busy to read books earnestly to prepare for university entrance examinations. There was a silhouette in my brain that some of these young men who were the same age as me will someday be great people, common people, Iower class people, and even thieves. Certainly all of us would be thieves, namely to steal someone’s goods, office supplies, or at least steal a woman’s heart.

Many of the seamen were still young who came from many prefectures in the Indonesian archipelago. One day, a seaman who was already close with us took us to the machine room that was situated in the lower part of the ship. It was a courtesy since the area was private and forbidden for any passengers to enter. There was a water pump working 24 hours a day to suck out water that ran into the machine room from a crack in the wall. If the pump broke, surely the scenario of our life would be broken, too. In spite of realizing that death is a natural process of human beings’ lives, anxiety arose across my face, especially when I thought about the major obligation to my parents to be successful in a foreign place was not repaid yet.

Unwritten information on the ship was flowing from mouth to mouth, and it was not strange that the information would change along the way. The further away the firsthand information went, the weaker the accuracy of reality it became. Water which sometimes leaked out at given times from the shower spouts suddenly stopped altogether, and many passengers were screaming while their bodies were still full of soap. My friend and I could not help but laugh whenever screaming came from the public shower room. During the entire trip, I never had the guts to take a shower and endured a stinking body until we got off in Jakarta.

The toilet tank was full of human excrement and urine which was smelly yellow and chocolate colors. At certain times, a seaman would come to pour water into it. Of course, there was no toilet paper available. Usually I brought a cup of water to the toilet with me to wash my small buttocks.

When I was a senior in high school, I was confused about what kind of road I would have to choose to make my dreams come true. There was no plan to leave for Java Island which is so far away from my hometown. Moreover, I did not have any relatives there. (It is in our culture to try to go to a place where we have some sort of relative living there.) Fortunately, one of my friends strongly encouraged me to go together with him and stay with one of his relatives in Jakarta. Also, when we arrived in Bandung, the city where we would take the university exam, alumnae from our high school let us stay with them until we completed our exam and found our own apartment.

I was stunned into silence pondering with blind jealousy toward friends who had brains that rotated like quick discs to easily accomplish complicated calculations. I suffered from an inferiority complex that made me feel distant from those around me. When I was still in high school, my grades were in the middle range. So, I convinced myself not to choose a department in the university that was allocated for bright students. There were three departments I could choose from in the same or different universities but I chose only two departments. As expected, I could not enter the Economic Department at the Pajajaran University that I really desired due to my entrance exam results. However, the Bandung Institute of Education accepted me for the Japanese Language Department, which had less examinees at that time.

Actually, before boarding the ship, I swore to myself I would never step foot in my hometown again unless I could enter a university on Java Island. So, I felt like I was canying a heavy load on my shoulders when the ship gradually floated further and further away from land. After I passed the university exam, I told my parents I would not go home until I graduated.

Even though I succeeded to graduate, I did not want to show my face in my hometown until I began a job in the big city of Jakarta. This was a matter of honor. After working there for a few months, a study program brought me to Japan for two weeks. Then a few months later, my office sent me to attend a symposium about Japanese education that was held in West Sumatra. It was a golden opportunity for me to see my hometown again after six years.

This new age gave birth to a new breed of Minangkabau males who are developing somewhat different characteristics from the older generations. Most of them still leave their hometown, but most of them become weak-spirited. They tend to return to their parents at any available time before obtaining any substantial success. They are indeed a fountain of emotions. It might be unavoidable that the hegemony of this new age will remove the old tradition entirely one day. These young men whose spirits are fading away through and through as they leave their home to make a way in life is a disappointing phenomenon.

edizal

KEMALINGAN LAGI DAN NEZUMI KOZO 鼠小僧

nezumi kozoBeberapa waktu yang lalu rumah kami di Padang disantroni maling lagi, entah buat yang keberapa kali. Yang disambar adalah komputer laptop mahasiswi yang menyewa salah satu kamar di sini yang bikin kami trenyuh sekali, lantaran rutinitas belajarnya terganggu, dan bahkan dia trauma berhati tak menentu. Tidak tahu aku berapa persen rumah yang belum disinggahi oleh uda maling di Sumbar yang katanya pekat beraroma keagamaan, yang saban hari mendengar ayat suci berbahasa Arab yang tidak mereka pahami dari ribuan masjid di sana-sini.

Kuyakini di antara uda-uda pencuri itu ada yang melakukan gawe demi kelangsungan hidup sendiri atau keluarga sendiri, lantaran tidak mampu beroleh kerja, lantaran tersingkir oleh mereka yang berpunya (pendidikan, akses, dana, dll), suatu produk kesenjangan sosial dalam masyarakat kapitalis yang setengah matang. Saudara kita yang mencuri adalah mereka yang kesempitan dalam persaingan hidup yang tak berkesudahan. Tentu saja, ini bukan suatu pembenaran. Yang jelas, perilaku begini adalah semacam tanggapan yang wajar terhadap nasib yang kurang ajar.

Adakah di antara para maling itu yang berbudi luhur seperti sosok Nezumi Kozo di Jepang atau kisah rekaan Robin Hood di Inggris yang menggasak harta orang kaya untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang hidup merana?

“Nezumi Kozo” yang berarti “Buyung Tikus” adalah sebutan untuk pencuri terkenal yang malang melintang mengembat barang-barang kaum samurai yang berstrata sosial tertinggi dalam masyarakat feodal Jepang pada Zaman Edo (1603-1867). Kendati tahu bahwa mencuri itu berat hukumannya, apalagi menggasak harta milik kaum samurai, dia melaksana panggilan hatinya untuk menyelamatkan kaum yang ketakutan dan menderita di bawah bayang-bayang pedang samurai. Nama aslinya sendiri adalah Nakamura Jirokichi 仲村次郎吉 (1797 – 1831).

Dia tertangkap pada 1822, ditato, dan diusir dari Tokyo. Saat tertangkap lagi pada 1831, dia mengaku sudah menggasak lebih dari 100 rumah kaum samurai dengan jumlah kerugian yang amat besar. Lantaran hasil kerjanya itu disuplai untuk orang miskin, dia hampir tidak beruang saat tertangkap terakhir kalinya. Sesudah diikatkan ke kuda dan diarak dalam kota, hukuman pancung di depan umum digelarkan dan kepalanya dipancangkan sebagai pelajaran buat orang banyak. Dia menyerahkan surat cerai sebelum tertangkap demi menjaga kehormatan sang bini agar tidak terbawa-bawa oleh kegiatan relawan yang dia jalani. Namanya tetap dikenang sampai kini sebagai sosok terpuji yang berhati suci, buat kaum miskin, yang menapaki jalan hidup berduri.

Kalau di Nottingham (Inggris) Anda bisa menemukan patung Robin Hood, di daerah Asakusa (Tokyo) boleh jadi Anda kaget setengah mati melihat patung Nezumi Kozo yang mencogokkan wajah, mengendap-ngendap di atap bangunan dengan kotak curian yang dikepitnya. Boleh jadi dia juga mau merampas uang Anda, uang yang merupakan hak orang miskin.

Ada kleptomania, sifat mencuri yang disisipi Tuhan ke dalam kromosom manusia, yaitu yang bersangkutan senantiasa beroleh kepuasan dengan mencuri, kendati uangnya banyak sekali. Para maling, termasuk pegawai negeri yang banyak menyambar uang/barang rakyat, tanpa risi, tentunya tidak bisa dikategori ke dalam penyakit kleptomania ini.

Perlu kita berhati-hati, tidak teledor, dengan memanfaat nalar secara optimal untuk menghambat gawe tamu yang tidak diundang ini. Selagi Tuhan tidaklah berkehendak, seperti karat, mustahil gejala buruk ini bisa dientaskan habis dari masyarakat. Tetapi, jelas bisa dikurangi. Mengurangi jumlah penduduk dan mengekang nafsu, sembari menyelamatkan mereka yang kurang diberkahi oleh Tuhan, akan membuat hidup ini lebih indah, lebih sejuk, lebih beraroma wangi kesturi yang berlantai pualam dan berdinding tersulam alun bosanova yang temaram.

Sang maling boleh jadi menikmati derita hidup dalam kabut yang bersinar redup, berpikiran buntu lantaran tidak ada tempat untuk mengadu. Jumlah penduduk yang menggelembung tak terbendung, tak pelak lagi, menjadi pemicu fenomena yang tidak diingini ini. Perut-perut yang menggelembung juga menjadi bukti nyata betapa banyaknya manusia egosentris dengan urat malu yang menipis, mengabaikan kaum miskin yang hidup meratap tangis.

Perlu dibikinkan patung sebagai pengingat bagi banyak manusia yang jahat. Jadi, baiknya di Sumbar atau di provinsi lain didirikan patung pencuri yang pejantan atau yang bersosok pegawai negeri yang memegang kitab suci, yang enteng saja mencuri uang/barang rakyat tanpa risi.

MENAPAKI JALAN PANJANG MENUJU NEGERI SAKURA

Perjumpaan awalku dengan bahasa Jepang adalah manakala menikmati majalah, yang disumbangkan oleh Kedubes Jepang, Jakarta, di SD tempat kubelajar di Pulau Sumatra pada awal 70-an. Di dalamnya juga tercantum, selain berkenaan dengan pemandangan empat musim, perayaan, dan teknologi canggih Jepang, beberapa ungkapan bahasa Jepang dasar seperti “arigatō, dō itashimashite, sayōnara” yang kuhafal dan kubangga-banggakan kepada teman-teman. Selebihnya, sampai lulus SMA, sentuhan dengan Jepang hanya terbatas pada melihat kendaraan Jepang yang banyak lalu lalang di jalanan.

Bapakku, yang sopir truk dengan pekerjaan yang tidak tetap, dan ibuku, yang guru SD, menyekolahkan empat anak serta seorang anak famili dari dusun. Datangnya usia 18 tahun adalah datangnya waktu memikirkan jalan hidup setamat SMA. Terpikir olehku, “Seandainya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bakal lebih menyusahkan orang tuaku. Tak mungkin kuberbuat hal yang kasihan begitu”, jadi kuputuskan hendak bekerja saja segera selepas SMA. Dengan begitu, bisa kukurangi beban orang tua yang kepayahan sekali membesarkan anak-anaknya. Alasan tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah pun lantaran daya ingat dan nilai raporku di sekolah yang rata-rata belaka. Penyebabnya, boleh jadi faktor DNA atau kehidupan sampai kelas 2 SD di dusun yang kebanyakan hanya menyantap nasi, garam, dan buah pohon saja, yang membuat otakku tidak berkembang dengan baik.

Suatu hari, tatkala berdiri di denah jalan hidup yang kabur, tiba-tiba seorang teman sekelas SMA menyampaikan keinginannya untuk masuk perguruan tinggi di Pulau Jawa dan mengajakku sekalian ikut ujian di sana. Aku dihadapkan pada dilema yang sulit antara keinginan untuk meneruskan pendidikan dan keadaan keuangan orang tua. Lantaran pun dalam masyarakat matriarkad di Sumatra Barat adalah wajar anak lelaki pergi merantau, seusai menyelesaikan pendidikan menengah, dengan setengah hati kusampaikan ajakan teman tersebut kepada ibuku. Tak dinyana, ibuku berujar, “Pergilah, Nak! Akan berusaha bunda penuhi biaya kuliahmu.”

Kala itu kurasakan betapa kasih ibu terhadap anak lebih besar daripada deretan angka yang tak berbatas. Jelas, sedih kuberpisah jauh dengan ibuku, tetapi terasa lebih sedih lagi mengingat ibuku harus berusaha lebih keras dan terpaksa memangkas-mangkas biaya hidup sekeluarga, untuk biaya kuliahku.

Dengan kapal kutuju Pulau Jawa dan menempuh ujian di Kota Bandung pada 1981. Lantaran ingin memenuhi harapan ibuku yang pasti akan berbahagia melihatku menjadi mahasiswa, lagi pula ada tekad tegas yang tidak akan pernah lagi menginjak kampung halaman seandainya tidak bisa masuk perguruan tinggi di Jawa, kupatrikan jelas sumpah di cadas bukit pelabuhan itu, suatu visi hidup yang sudah ditandatangani pun tersegel dan menaiki kapal. “Ibu, maafkan bila aku tak berhasil,” lirihku memandang ke arah pelabuhan yang sudah tenggelam di balik horizon.

Mati-matian kupersiapkan diri untuk ujian masuk agar kelak dapat lagi menapaki tanah kelahiranku. Pilihan pertamaku waktu ujian adalah Jurusan Ekonomi, yang jelas sangat banyak peminatnya, sedangkan pilihan kedua adalah bahasa Jepang, yang saat itu saingannya relatif rendah.

Pilihan pertama, sebagaimana yang kuduga, jatuh, namun pilihan kedua Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di UPI (dulunya IKIP Bandung) lulus. Kenyataan ini membuat jiwaku melambung setinggi langit, lantaran dengan sendirinya jalan buntu menuju kampung halaman, yang kelihatan samar-samar di kejauhan, tersibak lebar. Tetapi, di sini pun bersumpah aku kepada langit dan bumi dalam episode baru hidupku, bahwa tungkai ini tidak akan diayunkan di kampung halaman, sebelum upacara wisuda berhasil kuhadiri. Bekerja sambilan di sebuah percetakan, semasa kuliah, untuk penambah-nambah biaya hidup, merupakan pengalaman yang sangat berharga bagiku.

“Tulisan bahasa Jepang terdiri dari hiragana, katakana, dan kanji,” tutur seorang teman setingkat, pada hari pertama orientasi, yang telah mempelajari bahasa Jepang semenjak SMA di Jawa Barat. Termangu kudengar ucapannya yang sudah menguasai huruf hiragana dan katakana serta sedikit kanji itu, di samping juga tata bahasa dasar bahasa Jepang, sementara sama sekali kusendiri berpengetahuan hampir nol. Perbedaan itu kentara. Sewaktu mulai belajar bahasa Jepang, kian kusadari betapa susahnya tata bahasa Jepang. Perasaan tidak mampu bersaing dengan teman setingkat, yang sudah belajar bahasa Jepang sebelumnya, berwujud berupa kecemasan yang sejenak betul-betul kuat menghantam jiwaku.

Banyak ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Jepang salah satu bahasa yang tersulit di muka bumi ini. Menurut Japanologi Amerika, Prof. Marius Jansen, penutur asli bahasa Inggris membutuhkan waktu dua kali lipat untuk menguasai bahasa Rusia dibandingkan dengan bahasa Prancis, dan membutuhkan waktu empat kali lipat untuk menguasai bahasa Jepang. Menurut Japanologi Indonesia, Prof. Arifin Bey, waktu yang dibutuhkan untuk menguasai bahasa Jepang bagi orang Indonesia pada hakikatnya sama dengan waktu untuk menguasai bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman, dan bahasa Spanyol keempat-empatnya.

Namun, kecemasan akan sukarnya mempelajari bahasa Jepang tidaklah mampu memiuh tekadku, yang ingin menguyupkan diri habis-habisan dalam bahasa Jepang. Juga, mau kucari tahu sebab mengapa Jepang yang babak belur seusai Perang Dunia II itu bisa begitu cepatnya bangkit. Pokoknya, merasa tertantang aku untuk segera menguasai bahasa Jepang.

Adalah hal yang wajar pentingnya menyukai negara tempat bahasa dipelajari. Tanpa menyukai Jepang, kuyakini, kemampuan bahasa Jepang tidak akan meningkat dengan baik. Ada keharusan bergaul dengan bahasa Jepang seakan-akan bergaul dengan orang yang sangat dicintai. Sudah tentu, kurasakan adanya kebanggaan pada diri sendiri tatkala mampu menguasai bahasa Jepang yang susah. Lantas, perjumpaan nasib dengan perempuan Jepang di kemudian hari adalah impianku yang kedua.

Laiknya bahasa asing yang lain, mempelajari bahasa Jepang sangatlah menarik. Yakni, tidak hanya bisa kita berbicara bahasa Jepang, melainkan juga memahami kebudayaan Jepang yang berbeda dengan kebudayaan Indonesia dan mengadopsinya sebagai nilai tambah dalam kehidupan. Huruf bahasa Jepang seperti gambar, jadi kita bisa latihan menulis huruf Jepang seolah-olah menggambar. Berbeda dengan bahasa Inggris, ucapannya mirip dengan ucapan bahasa Indonesia, sehingga relatif tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai ucapannya dengan benar. Pemikiran kita akan menjadi kaya dengan meningkatkan kemampuan kosakata bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari. Mempelajari banyak kata yang baik bakal memperkaya kemanusiaan dan kepribadian kita. Juga, kita bisa menjelaskan sesuatu dalam bahasa Indonesia, dengan menggunakan kata-kata yang lebih tepat, yang pula dapat diarsir dari kosakata bahasa Jepang yang terhimpun dalam otak.

Pertama seringkali kusesali diri sendiri yang susah sekali ingat semua pelajaran. Namun, lama-kelamaan kusadari bahwa tak ada gunanya menyesali diri dan sebaliknya lebih baik berpikiran positif serta belajar sungguh-sungguh. Dengan kata lain, kendati dipahami ambisi tidak mampu menyelaraskan langkah dengan kemampuan otakku, itu bukanlah alasan untuk tidak belajar dengan keras. Walau berotak sedang-sedang saja, kurasakan semangat juangku melampaui siapa pun di antara teman setingkat. Tak pelak lagi, ambisi tanpa kompromi hendak menjadi yang teratas di antara rekan setingkat pulalah yang mencambukku belajar tekun dan mampu memelototi buku pelajaran rata-rata tiga jam saban malam. Kendati kami bersaing, kami adalah “kawan selapik seketiduran” dan tali persahabatan antara rekan setingkat tidak pernah mengendur. Adalah amat esensial bagi siapa pun memiliki ketegaran untuk berhasil; pintu menuju dunia mestilah dikuakkan dengan tangan sendiri.

Lantaran usaha itu menyangkut kelangsungan hidup, kuatnya tekadku “genggam bara api biar sampai jadi arang”, juga merupakan nilai tambah yang penting dalam hidupku. Pun senantiasa menyembul keniscayaan yang kental menikmati keindahan bunga sakura, dengan mata kepala sendiri di kemudian hari, yang hanya dapat diwujudkan dengan mengalahkan yang lain dalam persaingan hidup yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, dalam ranah seleksi alam yang terus berjalan ini. Harapan adalah kepercayaan yang akan mempertalikan seseorang dengan keberhasilan.

Walau faktor keberuntungan juga berperan dalam pemetaan jalan hidup kita, faktor kesungguhanlah yang menjadi motor pendorong sebenarnya untuk berhasil, kuyakini, sebagaimana yang terbias dalam pandangan Thomas Alva Edison lewat ucapannya yang terkenal, “Genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration”. Pada hakikatnya, seseorang harus memeras keringat untuk maju, atau seseorang akan bisa lebih cepat mendapatkan sesuatu daripada orang yang berkemampuan otak lebih, asalkan yang bersangkutan berusaha lebih banyak. Adagium ini menjadi motor pendorong yang kuat bagiku dan merasa bisa mengalahkan orang yang ber-IQ tinggi dengan memanfaatkan EQ-ku seoptimal mungkin.

Ada banyak cara yang kugunakan untuk menguasai bahasa Jepang selekas mungkin, di antaranya adalah senantiasa berupaya mengucapkan salam dan bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengan rekan sejurusan. Boleh jadi aku adalah mahasiswa yang paling aktif berbicara bahasa Jepang di antara teman setingkat. Saban hari kubaca buku teks berulang kali, sehingga kata atau tata bahasa yang hanya mampu diingat beberapa persen pada satu hari bakal meningkat beberapa persen lagi dikala membacanya pada hari berikutnya, dan yang sudah ingat kian menempel dalam kepala. Kata dan kanji baru kutulis berulang kali di secarik kertas sampai mendekam dalam memoriku. Pokoknya, dalam pemerolehan bahasa asing, kupahami pengulangan yang berkelanjutan adalah kunci seperti ungkapan “Pengulangan akan menjadi tenaga”, dan itu senantiasa kupraktikkan.

Keberadaan pengajar lokal dan penutur asli di Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, seperti Ibu Setsuko Kanemoto, sangat membantu pemahaman bahasa Jepang yang alami. Ibu Setsuko Kanemoto tidak hanya mengajarkan bahasa Jepang, tetapi juga karakter manusia Jepang, seperti “tepat waktu, melakukan apapun dengan rapi”, dan sebagainya, serta kebudayaan Jepang, seperti kimono, masakan Jepang, dan lain-lain, yang menjadi motivasi besar bagiku untuk mempelajari bahasa Jepang lebih banyak. Lantaran cara mengajarnya yang menarik, mudah dipahami, dan penuh kesungguhan -ramah dalam ketegasan- selalu kutunggu dengan senang hati pelajaran yang dibawakannya.

Ibu Kanemoto tidak hanya mengajar kami di kampus saja, melainkan juga seringkali menyediakan waktu khusus bagi mahasiswa untuk belajar di rumahnya, seraya menikmati masakan Jepang. Hal ini juga menginspirasiku untuk berbuat hal yang sama sekarang ini, sebagai guru bahasa Indonesia di Jepang, yaitu mengundang pelajar ke apartemenku; membuat mereka merasakan budaya Indonesia sembari menikmati masakan Indonesia; belajar bahasa Indonesia dengan senang yang merupakan bagian integral dari pelajaran.

Sebetulnya, tujuan utamaku mempelajari bahasa Jepang adalah untuk bekerja di perusahaan Jepang yang menawarkan gaji yang relatif lebih tinggi daripada perusahaan lokal. Namun, saat tingkat tiga, ada panggilan batin agar menjadi guru menelusuri jalan yang ditempuh ibu dan kakak laki-lakiku. Sudah barang tentu, muncul hasratku yang kuat untuk berkiprah dalam dunia pendidikan dengan memanfaatkan pengetahuan kependidikan, yang kukumpulkan selama memamah bangku kuliah. UPI (IKIP Bandung), yang waktu itu adalah institut keguruan, menyediakan banyak mata pelajaran mengenai kependidikan, yang tidak terdapat dalam kurikulum perguruan tinggi biasa.

Kupercayai bahwa kesempatan bukannya dinanti-nanti, melainkan harus dicari, dicaplok sesigap mungkin, dan begitu pula penting menjalin hubungan yang baik dengan siapa pun. Oleh karena itu, sedari tingkat tiga hingga menjelang kelulusan, sedikit demi sedikit kutambahkan ke dalam daftar khusus, siapa yang sebaiknya kuhubungi dan di mana atau SMA mana saja yang membutuhkan guru bahasa Jepang. Dengan mengantongi daftar ini, lebih siap diri kuhadapi secara konkrit keadaan seusai wisuda. Di samping itu, berbuat baik dan menghormati siapa pun adalah suatu hal yang kuanggap bijak untuk maju dan beroleh pekerjaan.

Manakala kuliah hampir rampung dan kutetapkan prioritas SMA yang barangkali menerimaku sebagai guru bahasa Jepang, kuperoleh berita tentang didirikannya Pusat Penelitian Kejepangan, Universitas Nasional, di Jakarta yang boleh jadi membutuhkan pegawai. Lantaran berlalai-lalai bukanlah tabiatku, begitu saja kuberangkat ke Jakarta menemui direkturnya, Bapak Arifin Bey, dan memperlihatkan kepada beliau hasratku yang besar menjadi pegawai di sana, seandainya diperlukan dan aku memenuhi syarat. Beliau memberikan wawancara dan menyuruhku membaca suatu artikel surat kabar berbahasa Jepang yang bisa kuselesaikan dengan baik di luar dugaan. Selepas itu, beliau menyatakan bahwa aku bisa bekerja di sana, sebagai pekerja sambilan, seraya menyelesaikan skripsiku. Mendengar itu, betapa senangnya aku yang serasa bagai mau melonjak kegirangan. Pada waktu itu kusampaikan dengan terus-terang akan kesiapanku diberhentikan kapan pun, seandainya kemampuanku tidak mencukupi untuk melaksanakan pekerjaan di pusat penelitian tersebut. Beliau hanya menganggukkan kepala. Dengan begitu, mulailah aku bermukim di Jakarta dan kadangkala berangkat ke Bandung untuk menemui dosen pembimbing skripsiku.

Selama bekerja di Pusat Penelitian Jepang, sosok Bapak Arifin Bey terlalu tinggi bagiku dan banyak tidak mampu kuselesaikan permintaannya dengan baik, yang membuatku merasa rendah diri. Tetapi, beliau orang yang sangat sabar, rendah hati, sangat ramah mengajariku tentang kerja, budaya Jepang, dan sebagainya. Hal lain yang kutemukan dalam diri beliau dan sangat kukagumi adalah cara pikir beliau, yang menarik garis yang tegas antara barang pribadi dan barang kantor yang tidak boleh digunakan untuk keperluan pribadi. Cara pikir beliau yang mengesankan itu di kemudian hari sangat kuat memengaruhi jalan hidupku.

Bapak Arifin Bey dan saya terlahir di provinsi yang sama. Lantaran tradisi masyarakat matriarkad, kami mengemban nasib akan amat susahnya balik ke kampung halaman, kalau sudah berangkat ke provinsi lain. Beliau dikirimkan Pemerintah Jepang sebagai salah seorang pelajar khusus yang brilian dari wilayah selatan ke Jepang pada 1944, semasa Perang Dunia II. Beliau yang menjadi korban bom atom di Hiroshima cepat-cepat saja ditinggal mati oleh istrinya (perempuan Jepang), kembali ke Indonesia dan mendirikan surat kabar berbahasa Inggris, menyelesaikan program doktor di Universitas Georgetown, Amerika, dan bertugas di banyak lembaga. Pernah kuberharap agar beliau bisa menuliskan kisah perjalanan hidupnya, bagaimana dapat fasih berbicara bahasa asing, termasuk bahasa Jepang, serta bagaimana strategi yang baik dari segi sosiopsikologis dalam bersentuhan dengan masyarakat Jepang. Sayangnya, harapanku tidak pernah terwujud, lantaran beliau disibukkan sekali dengan kegiatan penelitian, menjadi profesor tamu di Jepang dan Malaysia, ikut simposium di luar negeri, dan sebagainya. Andai saja buku perjalanan hidupnya bisa berbentuk, tentulah dapat pula dijadikan referensi yang berharga bagi pembelajar bahasa Jepang dan peneliti kejepangan di Indonesia. Kendati menanggung penyakit akibat bom atom, beliau aktif berkiprah untuk orang banyak, dan berpulang pada usia 85 tahun.

Sedikit kurang dari dua tahun selepas bekerja di sana, sangat terpukul aku lantaran beliau berangkat ke Jepang sebagai profesor tamu di sebuah universitas, sebab ingin kubelajar lebih banyak tentang Jepang dan hakikat hidup darinya. Di sisi lain, juga aku senang sekali, lantaran memperoleh surat rekomendasi darinya, untuk mendapatkan beasiswa belajar tentang pengajaran bahasa Jepang di Universitas Hiroshima.

Sewaktu mendarat di Jepang pada 1987, yang bersimbah dedaunan musim gugur yang indah berwarna-warni, kendati telah mengantongi banyak informasi tentang kehidupan di Jepang, kecanggungan berada dalam negara maju tidak begitu saja terpelanting dengan segera. Bagai orang utan yang masuk kota, celingukan kumemandang ke sana kemari dalam negeri sakura yang senantiasa kuat bergelora denyut nadinya. Segala sesuatunya berjalan dengan rapi dan getar-getar roh peradaban yang sudah mapan dalam diri manusia Jepang bisa kurasakan di sini. Angkat topi aku pada bangsa ini, yang selalu berlaku logis, yang melahirkan ide-ide bernas, agar bisa hidup nyaman di atas kepulauan yang bergunung-gunung dan miskin sumber daya alam ini.

Jelas, di Indonesia sudah kupahami betapa pentingnya tepat waktu dan disiplin dalam melakukan apa saja bagi orang Jepang, tetapi tetap saja banyak kejutan budaya yang kualami, tatkala mulai bermukim di negeri sakura, yang sangat tinggi teknologinya, yang membuatku ternganga. Cara pikir orang Jepang yang rasional, yang memisahkan agama dengan politik secara kasatmata, sangat kupujikan pula. Itu berbeda sama sekali dengan kebanyakan orang Indonesia, yang masih banyak menyandarkan jalan hidupnya pada hal-hal yang berbau irasional, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Banyaknya berkomunikasi dengan orang yang berasal dari negara lain juga lebih membukakan hatiku betapa dunia ini diisi oleh manusia dan budaya yang beragam. Kesempatan mengajar bahasa Indonesia kepada mahasiswa dan pegawai perusahaan, semasa belajar di Universitas Hiroshima, juga merupakan pengalaman yang berharga bagiku, lantaran bisa mempraktikkan pengetahuan metodologi pengajaran yang kuperoleh hingga saat itu.

Kutengok orang Jepang tidak terlena dengan pencapaian luar biasa yang telah diraih, melainkan terus berpikir-pikir memperbaiki kualitas hidupnya. Tidak suka menjelek-jelekkan orang lain dan tidak mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Kagum aku akan orang-orang Jepang yang begitu. Sayang sekali, kendati banyak belajar dari masyarakat Jepang, impianku banyak yang tak mewujud dan bergeletakan di tengah jalan, yang terutama disebabkan oleh kesalahan sendiri, tetapi kehidupan di Hiroshima banyak menjadikanku lebih matang.

Beberapa bulan menjelang masa kuliahku berakhir, seorang teman yang bekerja di Kedubes Indonesia di Tokyo memintaku menduduki kursi kosong di sana. Lantaran membenci pemerintahan diktator Indonesia saat itu, aku menolak bekerja di lembaga pemerintah. Sekitar tiga minggu sebelum balik ke Indonesia, dengan tiket yang sudah berada dalam genggaman pada 1990, tiba-tiba kuperoleh berita dari Bapak Arifin Bey bahwa ada lowongan mengajar bahasa Indonesia di lembaga (JOCV, JICA) yang mengirimkan tenaga relawan ke negara berkembang di seluruh dunia. Aku betul-betul senang dan sangat tertarik menjadi pengajar bahasa Indonesia di Balai Latihan JICA di Provinsi Nagano; sekaligus kesempatan yang baik untuk memperdalam kemampuan bahasa Jepangku. Alasan lain yang membuatku enggan balik ke Indonesia cepat pada waktu itu, tak pelak lagi, adalah keberadaan pemerintahan diktator militer Suharto yang membunuh demokrasi yang mencakup hak kebebasan mengemukakan pendapat.

Beberapa hari selepas diwawancarai, kuperoleh berita dari JICA bahwa mereka mau mempekerjakanku sebagai guru bahasa Indonesia, yang membuatku melonjak kegirangan. Kurasakan ini adalah pekerjaan yang penuh makna, lantaran mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada relawan Jepang, yang tidak memandang bangsa dan agama, yang akan menyampaikan pengetahuannya di tanah airku. Rasa terima kasih mendalam atas budi baik Bapak Arifin Bey yang banyak mengajariku dan memberikan bantuan bertahun-tahun, sampai aku menjadi sekarang ini, tidak bakal pernah lenyap dari hati walau terbelah dua ini bumi.

Sudahlah pasti bahwa hal yang sangat menunjang dalam kelancaran pengajaran di lembaga tempat kubertugas adalah penerapan pengalamanku sendiri mempelajari bahasa Jepang, serta pengetahuan tentang aspek-aspek pendidikan yang kuperoleh di UPI dan di Universitas Hiroshima. Kumanfaatkan pengetahuan tersebut dengan baik dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang sejalan dengan lingkungan pengajaran bahasa intensif untuk relawan Jepang di Balai Latihan JICA. Tidak perlu diutarakan lagi bahwa pemahaman dan pengetahuan tentang pola sosial honne dan tatemae dari pandangan khas Jepang menjadi aset yang berharga pula, dalam membimbing pelajar (anggota JOCV), yang mengemban kebudayaan Jepang ini.

Di sini kuterapkan metode eklektis secara umum pada pelajaran tahap awal dan lambat laun digantikan dengan metode langsung. Kugunakan bahasa Jepang pada minggu-minggu pertama pelajaran dalam mengajarkan kosakata dan tata bahasa. Seiring dengan gerakan waktu, aku mengajar dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah dipahami pelajar, sehingga penggunaan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dicampur-campur. Sebulan lebih sedikit, manakala ujian pertengahan selesai, pelajaran hampir semuanya dibawakan dalam bahasa Indonesia saja dan sistem denda diterapkan. Jadi, pelajar harus membayar uang denda, apabila mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang, untuk kata atau kalimat yang sudah dipahami.

Salah satu cara belajar bahasa asing yang senantiasa kuanjurkan kepada pelajarku, suatu cara yang tidak kukenal semasa kuliah di UPI dulu, adalah berpikir dalam bahasa asing sedari bangun pagi hari sampai tidur malam hari, seolah-olah diri sendiri berada di luar negeri. Segala apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan berusaha diucapkan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, berusaha mengucapkan satu per satu aktivitas harian dalam bahasa Indonesia, “Saya bangun pukul 6. Malam tadi saya tidur nyenyak kira-kira tujuh jam. Kelihatannya hari ini cerah. Saya akan pergi ke toilet yang bersih. Sesudah itu, menggosok gigi yang sehat dan mencuci muka yang cantik. Saya suka berbicara bahasa Indonesia dengan guru bahasa Indonesia yang tidak tampan. …”. Kuanjurkan kiat ini diterapkan oleh pembelajar bahasa Jepang di Indonesia, sebagai salah satu cara belajar yang terbaik, untuk menguasai bahasa Jepang.

Saat ini aku mengajar bahasa dan budaya Indonesia di Lembaga Latihan JICA, di negeri sakura, dan melaksanakan proyek beasiswa bagi anak-anak Indonesia yang lemah secara ekonomi dengan istriku (Natsuko Adachi). Kujumpai banyak orang Jepang, yang berhati mulia, yang mau mengulurkan tangan untuk anak-anak lewat NGO yang kami kelola. Lebih dari seratus anak-anak dusun sudah menerima berkah dari proyek ini; beberapa orang di antaranya sudah merampungkan program pascasarjana dan menjadi dosen di Indonesia. Amat terharu aku akan adanya bekas anak asuh yang berposisi menjadi orang tua asuh. Mengajar bahasa Indonesia dengan antusias, sembari terus membantu orang yang berkesusahan, adalah kegiatan yang mau terus kulaksanakan sampai tenaga ini habis terkuras. Kupikir ini adalah semacam balas budi yang bisa kuberikan kepada semua orang yang sudah menolongku selama ini.

Sumber: Buku “Pekerjaan Rumah di Tahun ke-33: Berangkat dari Kenangan dan Pengalaman”, Departemen Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2015

BUAH KAMBING MENTAH

buah kambingSetentangan orang Jepang yang menyantapi sashimi (ikan mentah) yang katanya nikmat, baru masuk telingaku tatkala mulai melapal hidup di Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di Bandung, di mana hal-hal yang berbau kejepangan mulai bergayut-bergelantung di dinding jiwa ini. Sudah barang tentu saat itu muncul perasaan bergidik membayangi makan ikan mentah itu dan tidak ada keinginan untuk mengicapnya, lantaran ianya tidak pernah tersilang berpotong dalam makanan sehari-hariku.

Semasa kuliah itu pernah pula kudengar orang Jepang yang makan daging sapi mentah yang bikin nafsu makanku hilang musnah. Namun, keseringan mendengar makanan mentah tersebut dalam persentuhan budaya yang beda-beda, apalagi sesudah diperlaki wanita sakura, perasaan ngeri dan bergidik itu tidak lagi menggelitik perasaanku yang udik.

Banyak jenis sashimi yang umum dalam masakan Jepang. Di bawah ini dibariskan beberapa jenis sashimi lain beserta daging mentah yang bisa dinikmati. Perlu dicatat, tidak semua makanan tersebut populer di setiap daerah di Negeri Sakura.

Gyusashi 牛刺し: Irisan daging sapi mentah.
Basashi 馬刺し: Irisan daging kuda mentah yang cukup spesial di Provinsi Kumamoto, Nagano, Gifu, dan Toyama.
Torisashi 鶏刺し: Irisan daging dada ayam mentah yang cukup spesial di Provinsi Kagoshima dan Miyagi.
Butasashi 豚刺し: Irisan daging babi mentah.
Yagisashi 山羊刺し: Irisan daging kambing mentah yang cukup spesial di Provinsi Okinawa.
Torisashi 鳥刺し: Irisan daging ayam mentah.
Rebasashi レバ刺し: Irisan hati sapi mentah.
Ikizukuri 活き造り: Ikan hidup disiangi cepat, dipotong-potong, dan lantas disusun lagi di atas nampan khusus dengan menyertai kepala + ekornya. Ikan yang masih bernyawa bergelinjangan tersebut kelihatan lebih segar (katanya).
Odorigui 踊り食い: Hal menyantap hidup-hidup ikan kecil.

Makan larva lebah mentah-mentah, yang masih berupa ulat, di daerah pedalaman Provinsi Nagano dan Provinsi Yamanashi mengingatku pada saudara kita di pedalaman Papua yang pula menikmati ulat besar mentah-mentah yang diperoleh dari dalam pohon yang sudah lama tumbang. Protein yang banyak terkandung dalam ulat tersebut pastilah diperlukan amat oleh batang tubuhnya.

Sewaktu bertandang ke provinsi paling selatan di Jepang, Okinawa, lebih dari 30 tahun yang silam, yang kuketahui adalah mereka sangat doyan menyantap babi dengan berbagai jenis masakan. Lama sesudah itu baru kuketahui bahwa orang di sana juga menyantap kambing yang dimasak, daging kambing mentah, bahkan buah kambing mentah. Kalau berkunjung ke Tokyo, yang berminat mencoba masakan begitu bisa mampir di Restoran Little Okinawa (Ritoru Okinawa).

Seandainya Tuhan melahirkan kita di Provinsi Okinawa, boleh jadi tidak muncul perasaan risi, ngeri, atau jijik disuguhi makanan buah kambing mentah, tempat bersemayamnya jutaan sel sperma kambing itu. Di mana kita dibesarkan, ilmu dan pengalaman hidup yang kita dapatkan, berpengaruh amat besar dalam menempa indera dan dari tataran ini menjauhkan kita dari saudara sedunia yang diberkahi jalan hidup yang beda.

Sewaktu ibuku berkunjung ke Jepang, selalu saja daya sentrifugal bekerja yang membuat ia menjauh dari daging babi yang dipajang berderetan dengan daging sapi. Wajahnya yang berkerinyut-kerinyut mewakili suasana hatinya yang carut marut menengok daging babi yang diharamkan oleh agamanya. Hal yang sama pasti juga dirasakan oleh saudara kita yang beragama Hindu menengok sapi, binatangnya yang suci, disantap oleh penganut lain saban hari. Andai Tuhan melahirkan ibuku di Provinsi Okinawa, mungkin sumringah dia menikmati kambing mentah dan babi mentah.

HATI TERORIS

Kiprah yang melelahkan bagiku yang berusaha menyelamatkan seorang teman dalam pertempuran sengit di wilayah padang pasir Palestina di ujung petang yang suram terukir. Ketakutan + kengerian yang sungguh kuat membuat kekuatan badan kawan itu luluh-lantak, terkulai, hampir ambruk, dan hanya bisa melangkah terseok-seok atas bantuanku.

Tiba-tiba serdadu Israel yang kencang mengendarai sepeda motor becak di belakang kami memuntahkan peluru senapan mesinnya, tepat menghantam tulang punggungku, dan begitu saja terjungkang aku terkapar bersimbah darah. Modar, akhirnya.

Tersentak kuterbangun di pagi yang dingin dan menyadari keberuntungan hidup yang masih bisa makan minum tiga kali sehari, tanpa harus bercanda dengan maut di negeri itu, itu, dan itu. Beberapa hari yang lalu peledakan bom di Istanbul’s Ataturk Airport yang membunuhi lebih dari 40 orang dan mencederai ratusan yang lainnya bagai sudah menjadi tradisi rutin sebagai festival yang membahagiakan hati teroris.

Terpikir benar akan orang tua Palestina yang senantiasa menyumpalkan doktrin kepada calon pahlawan yang akan meledakkan dirinya dalam kerumunan bangsa Israel yang berdosa dan tidak berdosa. Sementara calon pahlawan yang Islam tersebut dianggap sebagai calon teroris oleh Israel yang Yahudi. Sebaliknya, hal yang sama juga dilaku oleh orang tua teroris Israel. Tentu saja, kita tidak boleh menggeneralisasi perilaku begitu terhadap kedua bangsa yang notabene bersaudara ini.

Terkenang juga akan diri ini, berhati penerjang badai, yang hendak meledakkan diri ke mobil diktator Suharto semasa mahasiswa dulu atas nama agama dan menghendaki masuk surga. Dengan begitu, akan mati konyol sebagai pahlawan dan teroris sekaligus, tetapi jutaan orang akan terlepas dari injakan sepatu lars Suharto. Jiwa muda mentah yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Zaman sekarang menghendaki manusia hidup berjiwa sosialis, toleransi, tanpa menyombongkan keunggulan agama masing-masing yang menjadi benih pertentangan abadi.

Ah, aku mau tidur lagi dan bermimpi akan orang Minang yang mengaku egaliter dan demokratis tersebut bisa tuntas menyumbang pemikiran dan tenaga terhadap pembasmian teroris, pelenyapan neraka dunia yang diizinkan oleh Tuhan. Ah, pikiran naif karena tradisi pemikiran yang rasional begitu sudah menipis digerus udara irasional yang memekat di Ranah Minang, yang orang-orangnya sibuk mengedepankan ritual, dan menjauh dari logika jalan pikiran yang masuk akal.
stop terrorism

UNAND DAN HAFAL QORAN

Dalam laman internet Universitas Andalas terdapat artikel berjudul “Rektor Berkomitmen Memberi Kesempatan kepada Para Hafidz Kuliah di Unand” (31 Maret 2016) di mana Rektor Unand (Tafdil Husni) menegaskan lagi bahwa Unand tetap berkomitmen seperti kebijakan tahun lalu yang menerima 19 orang yang hafal Qoran minimal 5 juz.

Ternyata dua universitas lain, Universitas Nasional Sebelas Maret dan Universitas Airlangga, juga punya kebijakan ganjil yang menyediakan kebijakan di luar jalur mekanisme ilmiah itu sebagaimana yang dipaparkan oleh Ade Armando dalam laman “Madina” dengan judul “Buat Apa, Perguruan Tinggi Negeri Membuka Kuota Bagi Penghapal Al Quran?” Di Sumbar sendiri juga ada lembaga lain yang berkebijakan mirip sebagaimana yang terbaca dalam Harian Haluan online yang berjudul “Hafal 2 Jus Alqurán, Gratis Kuliah di STMIK Indonesia Padang”.

Hal ini bertentangan amat dengan sosok perguruan tinggi sebagai lembaga sains yang menyandarkan diri pada hal-hal yang rasional, yang dapat diukur secara kasat mata dengan bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Berangkat dari pandangan sains ini, agama itu cenderung bersifat irasional dan jelas berkontradiksi dengan dunia rasional. Mestinya ditoreh garis pemisah yang tegas antara ranah akademik dengan ranah agama/keyakinan yang bersifat pribadi itu.

Dalam era kompetisi yang kian menjadi-jadi ini yang menuntut sentuhan-sentuhan nilai rasional, universitas mesti serius menciptakan lulusannya yang bisa berbahasa Inggris yang baik supaya berdaya saing secara global dan bukannya bahasa Arab. Saya tidak melihat adanya relevansi antara kepintaran berbahasa Arab dengan dunia masa depan yang menuntut perlunya generasi muda menguasai bahasa internasional (bahasa Inggris), agar bisa menyimak karangan ilmiah yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris. Tidakkah ini bertentangan dengan misi Unand sebagai penyedia pendidikan yang berkualitas serta penyelenggara kegiatan Tridharma yang bermutu dan relevan dengan tantangan nasional serta global? Penerimaan mahasiswa dengan cara begitu bukanlah budaya ilmiah, prinsip dasar yang dianut oleh Unand. Logikanya di mana?

Apakah kebanyakan dosen profesional serta guru besar Unand yang berjiwa kritis dan berotak logis, yang mendasarkan pemikirannya atas dasar sains, terpaksa bungkam dan menerima begitu saja kebijakan tersebut demi kelangsungan hidupnya? Alam demokrasi yang menuntut adanya keterbukaan, kejujuran, konsistensi, dan bertanggung jawab mesti terpatri dalam setiap pikiran dosen dan peneliti. Seandainya sang rektor tidak memedulikan pandangan ilmiah orang-orangnya, tentulah wajar dia dianggap sebagai seorang fasis yang tidak memenuhi persyaratan sebagai pemegang tampuk pimpinan tertinggi di suatu lembaga pendidikan. Kalau memang begitu, Unand akan terjajar mundur, paling kurang jarum jam tradisi keilmiahannya berdetik berhenti.

Karena dunia ini maju didirikan atas landasan logika dan ilmu empiris, apa jadinya masa depan Unand yang harus tunduk pada rektor yang menyusupkan agama ke dalam sivitas akademikanya? Apa jadinya masa depan Sumbar yang kemajuannya juga bergantung pada kinerja lembaga pendidikan yang mencampuradukkan antara urusan agama dengan urusan sains?

Dalam laman Unand tersebut tidak dicantumkan alasan kebijakan, misalnya mengorelasikan hafalan ayat Qoran dengan dunia ilmiah secara masuk akal. Semuanya harus terus terang agar semuanya terang terus dalam dimensi konsistensi dan kejujuran. Kebijakan yang tidak bijak ini mesti dijelaskan secara terbuka kepada publik yang juga menyokong keberadaan Unand dengan pajak yang disetorkannya. Tanpa adanya penjelasan yang masuk akal, tanda tanya besar akan tinggal terus dalam kepala setiap orang, termasuk adakah kebijakan itu disebabkan oleh desakan dari kaum agama atau pesanan dari Timur Tengah (Arab Saudi?) yang memberikan sumbangan kepada Unand. Setiap orang, terutama generasi pengemban masa depan, mesti terus-menerus menyoroti dan menyatakan keberatan terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pikiran logis mereka.

Kebijakan Unand ini sudah tercatat dalam sejarah pendidikan Sumbar, yang akan dipandang oleh generasi mendatang sebagai suatu kehebatan atau kebodohan.

——————————-

Rektor Berkomitmen Memberi Kesempatan kepada Para Hafidz Kuliah di Unand
31 Maret 2016

Menanggapi banyak pertanyaan seputar kebijakan Unand dalam menerima siswa yang hafal Alqur’an, maka Rektor Unand menegaskan bahwa Unand tetap berkomitmen seperti kebijakan tahun lalu. Pada tahun 2015, melalui pola penerimaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Unand menerima 19 orang yang hafal Alqur’an minimal 5 juz. Sebanyak 12 prodi menerima mahasiswa yang mampu menghafal Alqur’an tersebut.

Rektor Unand menegaskan bahwa calon mahasiswa yang hafal Alqur’an minimal 5 juz tersebut dapat dipertimbangkan diterima setelah melalui serangkaian tes mengenai hafalan Alqur’an di bawah penilaian 3 orang Penguji yang mempunyai reputasi level nasional. Satu hal lagi, penerimaan jalur khusus ini merupakan bagian dari pola seleksi melalui SNMPTN, artinya hanya berlaku bagi lulusan SMA/ MA/ SMK yang lulus pada tahun tersebut (fresh graduate). Penerimaan calon mahasiswa yang hafal Alqur’an ini juga tidak terlepas dari daya tampung suatu prodi. Jika terlalu banyak siswa mendaftar pada prodi yang sama (misalnya Pendidikan Dokter), maka belum tentu semua diterima, tergantung kepada hasil tes dan ketersediaan kursi kuliah yang ada.

Rektor berharap berita ini dapat meredam kesimpangsiuran dan sekaligus membantah berita-berita yang tidak benar, dan berharap semua pihak selalu merujuk kepada berita resmi yang dikeluarkan oleh pihak Unand. Jangan mempercayai berita-berita yang tidak diketahui sumber atau dasar berita tersebut.

Sumber:
http://www.unand.ac.id/id/berita-peristiwa/berita/item/652-rektor-berkomitmen-memberi-kesempatan-kepada-para-hafidz-kuliah-di-unand

————————————-

Hafal 2 Jus Alqurán, Gratis Kuliah di STMIK Indonesia Padang

30 Mei 2016
PADANG, HALUAN— Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Indonesia Padang memberikan peluang besar bagi lulusan SMA sederajat dengan menggratiskan biaya kuliah dari awal hingga tamat bagi yang hafal dua jus Al qurán. Program ini sudah dilakukan oleh STMIK jauh sebelum pemerintah melontarkan program hafalan kitab suci umat islam tersebut.

Menurut Ketua STMIK Indonesia Padang Prof. Dr. Hj. Safni, M. Eng seusai mewisuda 123 orang lulusan STMIK di Aula kampus tersebut, Sabtu (28/5) lalu, ini merupakan kesempatan emas bagi lulusan SMA sederajat untuk menimba ilmu di STMIK Indonesia dengan gratis. Selain itu, STMIK Indonesia Padang saat ini merupakan satu-stunya STMIK yang berada di luar pulau jawa yang terakreditasi B.

“Saat ini STMIK Indonesia menjadi satu-satunya sekolah tinggi bidang komputer dengan nilai akreditasi terbaik di pulau Sumatera,” papar Ketua STMIK Indonesia Padang Safni.  (h/ows)

————————————-

BUAT APA, PERGURUAN TINGGI NEGERI MEMBUKA KUOTA BAGI PENGHAPAL AL QURAN?
Posted by: Madina

oleh Ade Armando

Setidaknya tiga universitas negeri di Indonesia sudah menerapkan kebijakan untuk menerima calon mahasiswa yang mampu menghapal Al Quran tanpa mengikuti seleksi masuk seperti mahasiswa lainnya.

Universitas Andalas (Padang) mensyaratkan mahasiswa yang dibebaskan ujian masuk itu mampu menghapal 5 Juz Al Quran; Universitas Nasional Sebelas Maret (UNS, Solo)  mensyaratkan mahasiswa hapal 15 Juz; sementara Universitas Airlangga (Surabaya) mensyaratkan mahasiswa hapal 20 Juz.

Di luar itu, sejumlah Universitas negeri ternama memberi beasiswa khusus bagi mahasiswa yang diketahui mampu menghapal Al Quran, antara lain: Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dan Institut Teknologi Bandung (ITB)

Saya mempertanyakan manfaat kebijakan semacam ini. Sekadar catatan, saya selama ini juga menolak kebijakan perguruan tinggi negeri untuk memberi kemudahan ujian masuk dan beasiswa untuk atlet olahraga. Bagi saya, apa urusannya atlet olahraga dipermudah masuk ke perguruan tinggi umum? Kalau sang atlet dipermudah masuk sekolah tinggi olahraga, tentu layak. Tapi apa gunanya universitas yang dibiayai uang rakyat memperbanyak jumlah mahasiswa yang berpretasi dalam olahraga?

Memberi kemudahan peluang masuk ke universitas negeri pada para penghapal Al Quran, saya nilai sama tidak bermanfaatnya. Perguruan tinggi negeri membutuhkan mahasiswa-mahasiswa terbaik di disiplin ilmunya masing-masing. Perguruan tinggi negeri membutuhkan mahasiswa yang pintar, gigih, bekerja keras.

Saya menghargai orang yang mampu menghapal Al Quran. Tapi kemampuan itu bukanlah keunggulan yang diperlukan perguruan tinggi umum. Keunggulan para penghapal Al Quran adalah menghapal. Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian.

Kebijakan semacam ini juga bisa berdampak buruk pada siswa itu sendiri. Alih-alih berusaha menjadi siswa pintar di ilmu-ilmu umum yang diujikan dalam ujian masuk universitas, sebagian siswa bisa saja justru memilih untuk memperkuat hapalan Al Quran mereka. Padahal begitu kuliah dimulai, hapalan itu sama sekali tidak akan membantu penguasaan ilmu umum yang dipelajarinya.

Kebijakan ini juga bisa menjadikan bukan siswa terbaik yang akhirnya memperoleh kesempatan berkuliah. Siswa-siswa pintar bisa tersingkir karena kursinya sudah diisi oleh mereka yang mungkin prestasi akademiknya biasa-biasa saja, tapi mampu menghapal Al Quran.

Tambahan lagi kebijakan semacam ini akan terkesan diskriminatif terhadap mahasiswa non-Islam. Kemudahan ini hanya diberikan pada siswa muslim dan sama sekali tak mungkin dimanfaatkan oleh siswa non-muslim. Kalau mau adil, seharusnya perguruan tinggi negeri ini juga memberikan kesempatan khusus bagi mahasiswa nonmuslim berdasarkan penguasaan ilmu agama mereka. Kalau ini dianggap tidak masuk akal, ya begitu juga kebijakan memudahkan penghapal Al Quran ini tidak masuk di akal.

Kalau saja kebijakan ini dijalankan oleh perguruan tinggi swasta, tentu tak jadi masalah. Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta sudah lama menerapkannya. Itu boleh-boleh saja karena UII tidak didanai negara.

Masalahnya, perguruan tinggi negeri pada dasarnya dibiayai rakat. Negara ini membutuhkan orang-orang pintar untuk menjadikan negara ini lebih baik. Orang-orang pintar ini diharapkan nantinya akan mengisi posisi-posisi kunci baik dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan dan memimpin bangsa ini sehingga lebih kompetitif, lebih maju, dan lebih sejahtera. Tantangan Indonesia masih sangat berat. Karena itulah ada dana besar dialokasikan bagi pendidikan tinggi negara ini agar di Indonesia lahir orang-orang pandai yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Dengan demikian, proses seleksi mahasiswa di perguruan tinggi negeri harus dilakukan secara sangat selektif. Dalam konteks in, kemudahan bagi para penghapal Al Quran nampak tak layak.

BURUNG DAN MANUSIA TERORIS

Musim semi sudah lama menghalau habis musim salju yang beku ke arah utara dan kota kami mulai menikmati kehangatan udara selatan. Pakaian musim salju yang tebal-tebal pun sudah dibenahi dan disurukkan ke sudut lemari yang terpojok, untuk diguna lagi pada pertengahan musim gugur mendatang yang elok.

Sel-selku terasa ria membelah-belah inti sendiri dan lebih aktif menggiatkan sekujur tubuhku bernyanyi. Pengaruh udara yang hangat ini tidak hanya dirasakan oleh manusia melulu, melainkan juga oleh semua makhluk yang ada di sekitarku.

Dari flat di tingkat dua sering kali kunikmati burung-burung pipit yang kecil atau burung yang besar bersiul riang di atas pepohonan yang hijau merindang. Terkadang sepasang burung mampir istirahat di berandaku yang kecil tanpa izin. Kemudian, begitu saja terbang melayang meninggalkan ciritnya.

Beberapa waktu yang lalu seekor burung jantan sibuk bersuara nyaring, melakukan ritual menari-nari di sekeliling sang betina, mengepak-ngepak sayap, dan menggoyang-goyangkan ekor dengan semangat yang tinggi, untuk meyakinkan bahwa dia memang memenuhi persyaratan diterima sebagai pasangan.

Agaknya beda dengan manusia, mereka tidak mengembangkan “semantic encoding” dalam berkomunikasi dan sebaliknya menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana, tanpa perlu berpikir jauh ke mana-mana. Jelas, bahasa begitu sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan pesan dalam dunia mereka.

Sang betina, dengan keanggunannya sebagai calon ibu yang baik, sering kali terlihat hanya bertengger santai di ranting dan dahan kayu, seraya menanti pejantan membawakan makanan segar berupa ulat hijau dan sebagainya. Sang suami harus membanting tulang meloncat ke sana ke mari mencari nafkah demi sang calon bayi, pewaris DNA-nya. Pejantan itu juga tahu betul kapan betina siap bermain cinta, jadi tidak seenak perutnya saja mengumbar nafsu berahinya.

Berita di Yahoo News “Men In Pakistan Encouraged To ‘Lightly Beat’ Their Wives” kemarin bikin manusia normal geleng-geleng kepala. Salah satu isi proposal yang diajukan oleh the Council of Islamic Ideology tersebut adalah membuat undang-undang yang mengizinkan suami memukul bini, seandainya bini menolak bermain cinta, atau tidak berbusana sebagaimana yang disukainya. Suatu proposal menjijikkan yang keluar dari otak cabul atas ketakmampuan pejantan mengendalikan libidonya dan keinginan mengontrol hidup wanita. Kelihatannya para tirani jahiliyah ini tidak pernah merasa puas mengendalikan wanita yang melahirkan mereka.

Berita perendahan terhadap martabat wanita begini sering terjadi di negara berkembang yang terkebelakang. Para pejantan bersilantas angan pada bininya yang berstatus lemah dalam keluarga. Berita tentang suami yang enteng saja memukuli istri yang tidak siap melayaninya terkadang juga terbaca di media massa di Indonesia. Itu hanya yang muncul media massa saja. Lantaran memiliki fisik yang lebih besar dan punya pekerjaan, para bajingan itu berlaku kurang ajar lagi beringas pada bininya dan memperlakukannya seperti budak saja, yang dalam banyak segi bisa dikategorikan sebagai teroris dalam keluarga. Acap tidak peduli mereka bagaimana kondisi fisik/perasaan bini yang merana mengurusi urusan keluarga dari pagi hingga malam dan kesal saja, bahkan main gampar atas ketaksiapan sang bini meladeni nafsu syahwatnya.

Sistem matriarkad bisa dijadikan rujukan untuk mengurangi keberingasan para pejantan yang menguasai dunia sekarang ini. Dalam masyarakat tradisional Minangkabau, seusai menikah, lelaki harus tinggal di rumah mertua yang bisa mengekang naluri liarnya untuk memaksa bini harus berlaku sebagaimana yang dikehendakinya. Pada dasarnya harta yang diperoleh dari hasil jerih payah orang tua semuanya diwariskan kepada anak perempuan saja. Ini adalah hal yang logis, karena perempuan relatif lebih lemah daripada lelaki yang bisa lebih bebas bekerja di mana pun dalam situasi apa pun. Dengan begini, sifat liar bajingan sangar itu bisa dicekal pepat dan kesetimbangan dalam masyarakat bisa diperdapat.

Dalam batas-batas tertentu, pejantan manusia jauh lebih bodoh daripada binatang. Banyak yang perlu kita pelajari dari binatang, termasuk dari burung yang sangat menghargai betinanya, yang tidak berlaku teroris pada betinanya.


Dewan Islam Usulkan Suami Boleh Pukul Istri jika Menolak Berhubungan Seks
Selasa, 31 Mei 2016 | 07:46 WIB

ISLAMABAD, KOMPAS.com — Dewan Ideologi Islam (CII) di wilayah Negara Bagian Punjab, Pakistan, mengusulkan aturan baru yang mengizinkan suami untuk melakukan “pukulan ringan” dan “kekerasan terbatas” terhadap istrinya.

Seperti dilaporkan situs berita Express.co.uk, Senin (30/5/2016), CII pekan lalu telah mengajukan proposal mereka ke parlemen Punjab.

CII juga menyarankan pemerintah Pakistan untuk segera membuat undang-undang yang memungkinkan suami untuk melakukan lightly beat terhadap istrinya.

Tindakan itu dilakukan jika istri menolak berhubungan seks, tidak memakai jilbab, atau jika mereka berbicara terlalu keras “sehingga para tetangga bisa mendengar”.

Dewan Islam itu juga mengatakan, seorang suami boleh menggunakan kekerasan terbatas (limited violence) terhadap istri yang tidak mandi setelah berhubungan atau selama datang bulan.

Selain itu, dewan juga menyediakan panduan tentang cara-cara melakukan pukulan ringan dan kekerasan terbatas terhadap para suami atau pria yang sudah berkeluarga terhadap pasangannya.

Ketua CII Maulana Muhammad Khan Sherani mengatakan dalam konferensi pers di Islamabad, pekan lalu, “Jangan memukul kepala dengan sepatu atau sapu, atau memukul hidung dan mata”.

“Jangan mematahkan tulang atau melukai kulitnya atau meninggalkan tanda apa pun (di badan istrinya,” kata Sherani.

“Jangan memukulnya karena dendam, tetapi hanya untuk mengingatkan istri tentang kewajiban agamanya (yang harus dijalankan),” katanya.

Saat ini CII sedang berusaha untuk merampungkan 160 halaman draf naskah peraturan yang akan diusulkan kepada parlemen di wilayah Punjab, Pakistan, yang akan mengesahkannya atau tidak.

Namun, CII sangat berharap agar parlemen mengesahkan rancangan peraturan yang mereka usulkan itu demi tegaknya ajaran Islam secara baik dan benar.

Setiap pria yang tidak mengindahkan aturan itu harus dituntut secara hukum.

Proposal peraturan dari CII itu untuk menanggapi munculnya gerakan liberal di wilayah Punjab, yang menginginkan kesetaraan jender yang bertujuan untuk memberikan kesetaraan dalam hak.

Gerakan kesetaraan jender itu termasuk penggunaan gelang elektronik pada istri, yang mudah dideteksi jika istri mendapat perlakuan kasar atau dipukul oleh suami mereka.

Allama Tahir Ashram, mantan anggota CII yang mengundurkan diri di  “daerah religius” itu, mengatakan, “Ini sulit dipercaya!”

“Jadi, apa yang dimaksudkan dengan ‘light beating’ dan ‘limited violence’ itu? Tidak untuk memenggal kepala mereka, tetapi hanya mengatakan, membakar mereka dalam minyak?” Ashram bernada retoris sambil menambahkan, “Kekerasan dilarang oleh Islam”.

Namun, CII juga mengatakan, wanita dibolehkan untuk mewarisi properti, dilindungi dari kawin paksa, serangan atau pembunuhan demi kehormatan.

Draf yang diusulkan CII juga mengatakan, perempuan juga harus dipukuli jika mereka tidak memakai jilbab, berbicara keras sehingga para tetangga bisa mendengar, atau memberikan uang kepada orang-orang lain tanpa izin suaminya.

Jika draf UU itu jika disahkan oleh parlemen, maka perempuan akan dipaksa untuk menyusui sampai anak mereka berusia dua tahun. Mereka dilarang menggunakan kontrasepsi tanpa izin suaminya.

Proposal dari CII itu dinilai sangat mengerikan. Padahal, soal kesetaraan jender, Pakistan adalah negara Islam pertama yang memilih seorang perdana menteri perempuan, yakni Benazir Bhutto, yang kemudian dibunuh pada tahun 2007.

Pakistan merupakan salah satu negara terburuk dalam memperlakukan perempuan, entah soal pekerjaan dan pendidikan.

Lebih dari 1.000 kasus pembunuhan perempuan terjadi tahun lalu demi kehormatan keluarga.

Pengacara hak asasi manusia Pakistan, Asma Jahangir, berkomentar soal peraturan yang diusulkan oleh CII itu, “Menjijikkan, tetapi kita tidak perlu khawatir. Wanita Pakistan tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri.”

1

熊本地震

熊本地震による人の被害、住宅の被害、避難生活の長期化などを思うと、たいへん心が痛みます。による人の被害、住宅の被害、避難生活の長期化などを思うと、たいへん心が痛みます。熊本地震

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.