ARIF KATANYA MELEMBING JIWA

Bersua lagi akhirnya dengan teman lama, Yul A., secara imajiner di Kota Padang di akhir kemarau yang panjang. Berkelebat-kelebat cepat bayang-bayang lama memenuhi kepala setentang kami masih sama-sama menimbu ilmu di masa lalu, di mana makan minum dia sehari-hari tidaklah bisa dikata cukup. Sekarang dia sudah menjadi orang yang terpandang, berusaha keras melabrak aral melintang, berkayuh sungguh-sungguh dalam samudra kehidupan, menerjang gelombang yang menghadang.

Masih bagai dulu jua ia, hidup sederhana berpakaian seadanya. Diparkirnya sepeda tua di bawah pokok mangga dan kami mengopi di warung sudut jalan yang sepi. Masih bagai dulu jua ia, kecil pendek seperti Habibie, sesama ilmuwan yang merampung program doktornya di luar negeri. Kalau Habibie menggadaikan kehormatannya lewat perselingkuhan dengan rezim Suharto yang bergelimang darah, teman ini berkiprah membangun daerah.

“Kenapa gelar doktornya tidak dicantumkan?” tanyaku saat menengok kartu nama yang disodorkannya.

“Tak ada artinya. Kalaupun berarti, kecemerlangan gelar itu hanya terbatas pada hari kita sukses meraihnya, buah jerih payah kesungguhan. Selepas itu, hampa belaka adanya, lantaran ianya tak akan memberi nilai apa-apa pada karya atau budi pekerti kita.”

“Oh, ya?”

“Apakah orang Jepang mencantumkan gelar doktor di kartu nama?” tanyanya balik.

“Banyak kuterima kartu nama bertuliskan huruf Jepang dari orang Jepang, tapi tak satu pun yang mencantumkan gelar doktornya.”

“Agaknya mereka juga beranggap bahwa nilai hidupnya tak ditentukan oleh gelar semu itu.”

“Ya, menyombong-nyombongkan diri atau membangga-banggakan pendidikan tinggi adalah sikap murahan di negeri sakura dan dipandang sebagai sepeda reot yang sudah berkarat,” tanggapku, “Bagaimana menurutmu tentang gelar haji?”

“Kalau merendahkan diri dipandang sebagai sikap yang terpuji, mestinya gelar haji itu tidak akan pernah ada di kartu nama.”

“Oh, ya?” tanggapku mengernyit dahi.

“Ya. Di masa lalu yang berhaji adalah yang beruang, berpengaruh dalam masyarakat, sehingga dianggap berbahaya oleh Pemerintah Hindia Belanda. Jadi, sejak 1911 ada kewajiban mencantumkan gelar haji di depan nama yang bersangkutan agar gampang diawasi.”

“Kalau begitu, aturan Hindia Belanda itu terus diwarisi sampai sekarang?”

“Ya. Gelar haji hanya ada di Asia Tenggara, seperti di Indonesia dan Malaysia. Ulama salafy sendiri mengkritik penyematan gelar itu sebagai perbuatan riya, yang tidak pernah disandang oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.”

“Riya itu merujuk pada perilaku kesenangan beroleh pujian, sesuatu yang tercela, ya?” tanggapku.

“Betul. Gelar keagamaan dan sains itu menyesatkan, hanya dibutuhkan oleh orang yang terobsesi pamer-pamer diri untuk menunjukkan statusnya. Gelar itu hanya hampa kosong belaka, tak bernilai sama sekali, tak lebih dari bekas kepompong yang tak berisi.”

Seperti yang sudah-sudah pula, teman yang satu ini tegas bersikap dan selalu bersandar diri pada hal-hal yang rasional, yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara kasat mata. Kusadari lagi betapa pemikirannya bening bagai tiga dimensi dan menolak hal-hal yang tidak masuk akal. Pula, rasa toleransinya yang tinggi melompati pagar-pagar agama yang dia yakini, seperti filsuf Voltaire yang memandang diskusi agama sebagai kebertele-telean yang nihil belaka dan sebaliknya aktif memperjuangkan masalah kemanusiaan yang lebih utama.

Terus kami berceloteh ria dalam petang, santai menapaki halaman kenangan masa silam yang lama terpendam, saling berlepas cerita yang sudah menumpuk dalam kepala. Boleh jadi lelaki kecil ini tersungkur bila dilepur ayam jago yang lagi birahi, tetapi tulang punggungnya selalu lurus, raut wajahnya selalu kudus berbunga lotus. Kalau ditakdir sebagai pengkhotbah agama, lebih cocok dia menjadi seorang biksu agama Buddha yang selalu berwajah teduh, tenang bicara perlahan kepada pemeluknya, dan bukannya berwajah liar berteriak-teriak sangar dari atas mimbar.

Ya, kagumku padanya tidak pernah menipis, orang yang berhati seluas langit, sedalam lautan, berupa gambaran utuh dari sifat manusia yang mendekati kesempurnaan. Beda amat dengan diriku yang berjiwa dan berpengetahuan ke langit tak sampai ke bumi tak nyata.

“Semasa masih sama-sama menghirup udara di kota ini, pemikiranmu banyak memperkaya wawasanku, Yul!,” jujurku, “Terkadang dadaku penuh terisi keirian akan kedalaman daya nalarmu, ketinggian daya tangkapmu.”

“Aku hanya orang yang biasa-biasa saja. Yang kupunya hanyalah rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Saat kita hilang rasa ingin tahu dan berhenti bertanya, saat itu kita sudah menjadi renta.”

Ujarnya selalu jelas segar, berprinsip tegar, berjiwa besar. Bagaimanapun juga sikap ilmu padi yang disandangnya, kian berisi kian merunduk, melahirkan decak kagum yang tulus di mulut orang banyak. Petuahnya senantiasa menyemangati, meneduhi, sekaligus memakuk sikap hidupku yang dulu cenderung tak terkendali, bernaluri primitif hewan yang belum termurnikan.

“Terkadang gagal aku, kendati sudah ikuti pandanganmu sungguh-sungguh,” curhatku.

“Oh, ya?”

“Halnya pengulangan, seperti yang sering kamu utarakan, sebagai inti pembelajaran dapat kupahami. Kadangkala untuk ingat satu kata bahasa Inggris, kutulis berulang kali di secarik kertas, tapi tak jua bisa di otak membekas.”

“Berapa helai kertas kau habiskan untuk tulis kata bahasa Inggris yang sama?”

“Terkadang sampai 2 halaman.”

Nanap aku ditatapnya, “Kalau begitu tulis kata yang sama dua kali lipat, tulis di 4 halaman. Kalau belum jua ingat, tulis dua kali lipat lagi, di 8 halaman. Begitu seterusnya.”

Ucapnya bikinku terdiam. Bergumam aku dalam hati, betapa susahnya bersitekun melakukan sesuatu berulang kali, tanpa kehadiran rasa bosan yang meliliti.

“Tapi …,” cetusku hampir tak kedengaran.

“Tak ada tapi-tapinya, Edi! Kalau mau berdiri kuat dalam persaingan hidup yang pekat ini, jangan pernah patah semangat!” hardiknya, “Citra kehidupan mesti dibangun atas keceriaan, bukan kemurungan. Percaya diri yang berlanjut dalam hidup bakal melipatgandakan kekuatan.”

Sungguh beku aku tak berkutik mendengar suaranya menggelegar, bagai petir menyambar, bagai palu raksasa menghantam jiwaku yang guyah, bagai ribuan anak panah yang dilepas dari segala arah.

“Semangat rapuhmu sedari dulu bagai sehelai daun kerontang musim kemarau, keropos, yang segera saja lumat digilas musim hujan. Sebagai lelaki, daripada beriba-iba kuyu dan bermelas-melas begitu, akan lebih terhormat bagimu menjadi kambing saja. Dasar cengeng!” gelegarnya lagi.

Kebenaran ucapnya di ujung lidah. Aku mati kutu, lidahku kaku, bungkam membisu. Benar-benar aku bagai seonggok jubah usang yang terbuang. Ngeri menyelimuti hati, kecut nyali bagai bergelantung di lambung pesawat terbang yang melaju di landasan pacu. Sontak amarahnya lebih menyentak kesadaran, betapa buruknya sifat cengeng ini, dan mestilah kuberpikir positif lagi permisif.

“Sebagai sobat karib merasa berposisi kusampai pandang padamu,” tuturnya lagi bersuara tenang sembari ke arah lain lurus memandang, “Marah kamu, ya, calon kambing?”

Menggelengku bagai kerbau, berucap garau, “Tidak. Malah berterima kasih aku atas nasihatmu. Memang aku mesti terus berupaya bagaimana bikin jiwa ini tak berongga-rongga.”

Sejenak kemudian suasana tegang meleleh dan mulailah kami mengoceh, gelak tawa lagi terkekeh-kekeh, setentang perjalanan hidup yang sudah ditoreh. Pula, seputar teman-teman yang berhasil buka warung di pinggir jalan dan yang menjadi petani, yang senantiasa mengguna nalar dalam menakar. Pula, seputar teman-teman yang berhasil menjadi dosen dan pejabat negara, yang benaknya belum jua mampu membeda mana yang rasional dan mana yang irasional, sembari terus bersuka ria menyikut kaum minoritas secara kurang waras.

Di rembang petang kami melepas pantat yang lama terpaku di bangku, berjabat tangan erat-erat berangkulan dalam aroma persahabatan yang lebih terkebat. Berlalu dia mengayuh sepeda bututnya yang terus kuperhatikan. Dari kejauhan dilambaikannya tangan ke arahku lagi menjelang mhilang di bengkolan musim kemarau yang mendesau.

Lebih kusadari akan semangat hidupku yang sangatlah kuyu, bila dibanding dengannya; ia yang habis-habisan belajar tekun, enggan dibantu oleh siapa pun; ia yang selalu menempa diri, untuk bisa berdikari tanpa entri “cengeng” dalam kamus hidupnya yang terpuji. Arif katanya sungguh melembing jiwa lemah guyah ini, yang sering kali minta dibelaskasihani.

Tiba-tiba wujudku berubah menjadi lelaki Jepang yang bertubuh pendek sebelum Perang Dunia Kedua. Bahkan lebih pendek daripada temanku yang sudah lenyap dari pelupuk mata. Perlahan kubungkukkan badan dalam-dalam ke arah bengkolan jalan, tempatnya menghilang, sebagai tanda hormat tulusku padanya, yang tak akan pernah lekang.

WARNA PETANG DI DUSUN ITU

Lengang dusunku merangkak menjelang petang bersebab orang-orang mengakas di sawah atau di ladang, memupuk bulir-bulir kehidupan yang akan mereka rangkum pada musim yang akan menjelang. Terkadang seorang tani dari dusun lain terpandang memanggul gabah melintasi jalan tanah di depan rumah. Lenguh sapi yang kian menjauh, kesunyian yang kian merengkuh, dikawal pohon-pohon peneduh yang saling menyentuh melingkari dusun secara utuh.

Hanya sesekali burung kutilang berkicau di pokok mangga mewarnai angin sepoi yang bertiup menyusupi rumah-rumah kayu yang teduh kelabu. Nyanyian merdu alami yang dilagu setiap waktu menghibur semua makhluk berlaku. Bunyi kasar dari mesin, yang berderik-derik dari peradaban liar modern yang gelisah, gagal menjamah kehidupan dusun yang ramah. Barisan zombi-zombi yang sakit hati, lantaran senjang ekonomi, tidak hadir dalam masyarakat yang mengedepankan gairah kekerabatan yang membulat.

Ujung petang berawal memanggil anak-anak balik pulang selepas membantu ayah emaknya bertani, penyambung nasib dari hari ke hari. Semerbak huma membiasi wajah legam mereka yang tersaput kasih mentari; sebait gambaran estetis dari seruling kehidupan yang ditiup dalam kehangatan udara tropis. Ayah biasanya hanya bercelana saja, tanpa baju; anak-anak biasanya tidak bercelana, tanpa baju; duanya-duanya berkaki ayam, sembari mengepit topi pandan, menggosok-gosokkan kaki bertanah di tangga rumah, dan menyimpan cangkul yang akan dipanggul ke sawah lagi esok hari.

“Kasih ubi jalar ini ke emakmu.”

“Ya, Ayah!”

“Kacang panjang ini setengah buat Mak Tuo.”

“Ya.”

Emak dan anak perempuan menapaki dusun lebih cepat untuk menyiap hidangan yang hendak disaji malam hari. Dusun yang bungkam dalam gemingnya mulai menggeliat mengepul asap, yang membubung tinggi putih, mengiringi tawa ceria anak-anak yang diasuhnya penuh kasih. Warna aroma petang kian mengeras bagai setanggi yang mengambang di udara bercahaya emas kencana.

Sekelumit rutinitas petang hari dimulai lagi. Satu per satu anak-anak, dalam waktu yang terserak-serak, datang berkumpul tak serempak, mencecah pantat sekenanya di atas tanah atau di atas batu gombak, berkisah ke sana ke mari menumpah apa yang melintasi benak, sembari sekali-sekali menanggalkan lumpur yang masih melekati muka, tangan, atau kaki. Cerita kehidupan kota tidak pernah ada karena tidak pernah tiba, jadi naluri tidak pernah puas adalah sesuatu yang asing bagi kami, yang sudah bahagia dengan segala yang ada.

“Sudah menguning padiku.”

“Oh, ya?”

“Burung mulai melakukan patroli di atasnya.”

“Oh, ya?”

“Terkadang aku dan ayahku menakut-nakuti mereka.”

“Oh, ya?”

“Terkadang tanah keras dari ketapelku melayang menuju mereka, yang hinggap di pohon nangka.”

“Kasihan mereka.”

“Lebih kasihan padiku.”

Begitulah, kami berbincang-bincang duduk mencangkung sembari menggubah masa depan sebagai petani yang senang hati menyulami hari-hari dengan bercocok tanam dalam asuhan kodrat alam. Yang satu tidak melebihi yang lain, berpakaian compang-camping, tetapi mempunyai makanan yang lebih baik daripada kambing. Kami tidak tahu apa-apa tentang hidup di kota. Yang kami tahu hanyalah tikus sesungguhnya di sawah, bukan tikus kota yang konon kabarnya dipanggil politikus yang disunat, tetapi doyan menyunat pajak rakyat.

Ada semacam UUD tak tertulis di antara kami untuk menanti rekan lain yang belum balik dari ladang atau sawah, sebelum menapak kaki bersama-sama ke tepian mandi.

“Kenapa belum juga nongol si Kalonok?” tanya Irin.

“Lambat benar dia balik,” tanggap Ayen.

“Ke mana dia, ya?” tanya Irin lagi.

“Entahlah,” celetuk Undin.

“Sudah habis diterkam harimau barangkali,” putus Cilik.

Namun, konsep pengiyaan atas bayangan itu tidak pernah terlintas dalam benak kami. Semua orang tanpa terkecuali, termasuk si bisu Ngeak barangkali, sudah paham betul kalau Kalonok itu mustahil bisa dikerkah oleh taring harimau yang tertajam sekali pun. Badannya yang gempal dengan jangat alot kelam seperti karet ban traktor itu akan bikin gigi harimau rumpang niscaya bila memaksa diri mengerkahnya.

Kalonok yang berjangat kenyal adalah sosok yang pendiam saja, melontarkan kesan lugu saja, hanya berucap hal yang penting-penting saja, dan banyakan menyimak-nyimak saja. Nampaknya lebih suka dia memanfaat energi untuk memikir ulang apa yang dilihat, didengar, dan dirasa secara mendalam daripada mengumbar-umbar isi kepala beraneka ragam secara tak beraturan. Memang diam hampa kelihatannya, tetapi dalamnya berwarna emas dan penuh jawaban.

Walau terjadi debat di antara kami hebat menggila, dia bersama si bisu Ngeak melongo saja dengan mulut sedikit ternganga, sepertinya tidak paham akan apa yang kami ributkan tanpa reda. Di antara keduanya, jelas yang paling netral adalah Ngeak, yang telinganya tak bisa mendengar apa-apa, tak mampu menangkap apa-apa yang diperkara.

Pernah suatu petang, saat kami terpecah menjadi dua kubu silang pendapat yang lekang, yang menunjang dan yang menentang, semua mengalih pandang pada Kalonok dan minta dia berpihak secara mencolok. Agaknya dia merasa terpojok, bagai kodok yang tergembok. Menyadari semua mata mengarah ke wajahnya, menunduk bungkam perlahan dia, mencorat-coret sesuatu di atas tanah dengan telunjuk kasarnya. Kami menurunkan muka memelototi telunjuknya, memperhatikan dengan saksama apa yang digores-goresnya yang mungkin berupa jawab atas apa yang diperkara, tetapi tak satu pun yang paham garis-garis cakar ayam itu.

“Oek …!” tiba-tiba suara muntahnya keras amat mengejutkan kami, tapi tiada sejumput pun cairan yang keluar dari lambungnya.

“Topan badai! Bikin kaget saja!” makiku dalam hati.

Suara muntah itu luar biasa, betul-betul mengerikan, yang kedengaran bagai suara Saripado (kepala suku kami) yang lagi mengeluarkan kecoak yang tersangkut di kerongkongannya. Burung-burung terpukau, bersuara parau, akhirnya berhenti berkicau. Sunyi merayapi, sepi memaguti, suasana yang mati.

Seolah-olah tidak berbuat dosa apa pun, yang sudah bikin kami kaget setengah mati, dia mengangkat kepala, membuang pandang menembusi semak belukar petang yang bergoyang-goyang digerayang angin yang menjelang. Semua mata mengarah pula ke mana wajahnya berkiblat menjelajah, sebagai sarana dengan apa kalbu tidak mengkhianati rasa ingin tahu.

Tak lama berselang dia menjatuh wajah ke tanah lagi, yang kami ikuti bersama-sama lagi. Mendehem mereguk ludah memperbaiki pita suara sekali, bagai berbisik kepada diri sendiri, perlahan dia berbunyi, “Itu adalah soal ruang dan ruas yang tidak bisa diselesai dengan satu jawab yang tegas. Pengiyaan atau pengingkaran tidak memiliki keabsahan batas yang jelas, sehingga pemaksaan paham akan menghilangkan ketegasan, mencair menjadi air, dan akhirnya terlihat sebagai kerangka pikir yang anyir.”

Bungkam kami bergeming mendengar fatwanya yang bagai hening denting yang terbanting di atas kening. Tiada yang buka mulut, tidak paham sama sekali akan apa yang disampaikannya. Diam seribu bahasa merupakan suatu keharusan wajar, guna dipandang sebagai orang pintar, bahwasanya kami sungguh memahami pernyataan singkat padat setentang falsafah hidup, yang mengandung makna kebenaran mendalam, yang dia tuturkan.

Tiada pernah terbetik berita sampai ke telinga kami setentang harimau yang menerkam manusia di dusun yang terapit rimba belantara. Tapi, manakala gelap mulai genap memaguti dusun, bayangan kucing besar itu dengan taring-taring tajam buasnya selalu saja melintasi benak yang mendalangi nyali dan burung kecil kami menjadi sebesar lidi. Menyeret langkah keluar rumah pada malam hari, di saat harimau mencari nafkah, merupakan laku yang salah kaprah bagi anak-anak yang masih setampung pinang berdarah. Jadi, jangat hitam kami yang berdaki mestilah diluruh di sungai cepat-cepat sebelum sayap-sayap gelap memerangkap dusun kami yang senyap.

Kendati menunggu rekan balik merupakan UUD tak tertulis, pelanggaran bisa ditolerir apabila yang dinanti-nanti tak jua menampakkan wajah tatkala sesaat lagi matahari bakal bersembunyi di balik bukit galaksi. Terang masih saja, tapi jangkauannya akan memendekkan waktu bagi kami untuk meluruh daki dan pun merampasi waktu bermain di tepian mandi. Saat naluri melangkahkan kaki ke tempat mandi menjadi-jadi, muncul batang hidung Kalonok dari balik rumah kayunya dan begitu saja merenggut kecemasan kami dalam bayang mentari petang yang jingga.

“Kupikir sudah habis kamu diterkam harimau,” celetuk Cilik.

“Harimau adalah binatang malam, di siang hari tak berkeliaran,” jawab Kalonok kalem.

“Kok lambat amat kamu?” tanya Inai.

“Emakku minta aku memungut kayu api di jalan pulang.”

Tanpa aba-aba, tiap orang mulai beranjak menuju tempat yang kuat memikat, tempat hiburan yang nikmat. Bersebab dusun kami terletak di lereng bukit, makan waktu pula menggapai sungai yang terletak di lembah sana. Bersicepat menapaki jalan setapak kecil, yang bikin gamang dan gampang tergelincir, merupakan sesuatu yang mengasyikkan pula; yang menggetarkan jantung merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak laki-laki seusia kami yang masih dangkal berpikir dan menyelonong saja seperti tapir.

Walau pernah beberapa kali tergelincir menuju lurah yang menganga di bawah, sigap saja tangan kami secara reflektif menggapai batu cecah atau pohon terdekat yang berpelepah dalam semak perdu yang terbelah. Agaknya kemampuan reflektif dalam lingkungan begini berkembang cukup baik sejak semasa dini bagi rakyat yang hidup di dusun.

Jalan setapak ke lembah ini adalah satu-satunya jalan atau urat nadi yang menjembati tempat hunian dan tepian mandi serta bertani. Jelas, bukan jalan bebas hambatan. Sebab, perlu saling melerengkan badan, andai berpapasan dengan yang datang dari arah yang berlawanan, terutama kerbau beroleh kehormatan melewatinya lebih dahulu.

Yang hanya dalam kepala adalah aliran air yang menggamit di kejauhan, menunggu kami dengan air segarnya yang tidak tercemar. Konon kabarnya di kota pun ada aliran sungai dan selokan kotor yang menampung buangan sampah dan impian orang dalam persaingan hidup yang tidak manusiawi.

“Kenapa kamu jadi lambat jalannya?” tanya Ayen kepadaku yang memimpin di depan.

“Ada kotoran sapi di sini,” tanggapku.

“Langkahi saja!” saran Undin.

“Berceceran ciritnya, tidak bisa sekali langkah.”

“Gilas saja!” perintah Cilik.

“Emangnya aku pedati?”

Sesampai di lembah yang ditandai pohon mangga, mata kami diserbu oleh panorama yang indah memesona, hamparan sawah beda ukuran yang menjembatani kaki bukit dan sungai, sesuatu yang tidak akan ditemui di mana pun di dunia dan mungkin pula di sorga. Pemandangan yang tersulam angin sepoi merayap riak sunyi ditemani capung-capung yang mengembang sayap di petang yang senyap.

Berpapasan kami dengan selelaki yang memanggul cangkul di bahu, menjinjing sebongkah ubi kayu, dusun punggung bukit yang dituju. Dia famili kami yang pula menyandar hidup dengan bertani. Ya, bertani adalah satu-satunya kerja yang tersedia di sini dan swasembada pangan yang penuh membebaskan diri dari kecemasan akan dipecat oleh atasan di kota apabila bermalas-malasan.

“Dari sawah, Paman?”

“Ya. Kalian mau ke sungai?”

“Ya, Paman.”

“Tadi kulihat rusa di seberang sungai itu.”

“Oh, ya?”

“Waktu lihat aku, lari dia cepat-cepat masuk rimba.”

Selepas melenggang kami melenggok menelusuri jalan setapak yang berbelok-belok, di samping kiri terdapatlah pincuran terapit pohon pinang yang selalu mengalirkan air bersih sepanjang tahun, tempat untuk mandi dan sekaligus sumber air untuk memasak bagi seluruh isi dusun. Hak guna perigi sepenuhnya berada di telapak tangan wanita, tetapi pria masih diperkenankan memakai seandainya tidak ada bayang makhluk itu hadir di sana.

Adalah tindakan arif meninggalkan pincuran segera sesudah terlihat wanita datang mendekat dari arah tebing atau dari sawah di sekeliling, sebelum petir menggelegar dari mulutnya agar berkirap cepat dari sana. Pelajaran penting bagi lelaki yang diperoleh sewaktu kecil adalah terkadang perempuan lebih menakutkan daripada harimau.

Perigi ini agak menjorok ke dalam tebing dan tidak akan tampak orang yang mandi dari arah jalan setapak. Andai ada wanita yang berdiri dekat perigi, berarti ada yang lagi mandi sehingga lelaki diharamkan melewati. Saat begini, yang bisa dilaku adalah menunggu di kejauhan hingga ada isyarat izin dari sang penguasa akan bolehnya melintasi teritori mereka. Jadi, lelaki perlu menyelaras diri pada aturan baku yang sudah terbentuk sedari dulu; boleh jadi aturan baku ini adalah hasil musyawarah kongkalingkong di antara kaum hawa saja yang membuktikan mereka adalah makhluk yang superior daripada pejantan.

Setumpak sawah yang menghijau daun menerus jalan ke parit kecil, tempat bermukimnya ikan lele dan sebangsanya yang sering menyangkut di pancingan kami. Melangkahi dasar parit untuk menyeberang adalah cara yang lugas, tetapi meminggir ke samping kanan, menjauh berancang-ancang, berlari sehabis daya, dan melompat tinggi di atasnya adalah cara yang taat azas, sesuai dengan tuntutan jiwa anak laki-laki yang penuh vitalitas. Yang belum punya kiat bernas lepas landas tidak bakalan sampai ke seberang, melenjit sungsang, tersangkut morat-marit, menyelongsor badan ke dalam parit, dan terpaksa bergerak menuju tempat yang aman untuk diseberangi. Suatu hiburan alami yang mengundang gelak tawa semuanya.

“Bodoh amat kamu melompat!” sindir Undin.

“Tergelincir aku waktu berlari,” dalihku.

Dalih yang bagus sekali untuk mengusir rasa malu dan menyelamatkan muka akan diri yang tak mampu. Sifat berdalih begini, demi menutupi kekurangan atau kelemahan sewaktu kecil, menjadi benih negatif yang terpupuk dalam jiwa manusia dewasa yang lapuk.

Serat-serat mentari petang sudah mulai berwarna jingga sekali tatkala kami mulai menapaki pematang sawah luas yang menuju tepian mandi. Di atas dusun hijau kami, di sebelah timur yang jauh, terpandang sejumput awan putih bersih mengapung kesepian diam di kubah angkasa terancam warna jingga yang ditebari sang mentari. Ada noktah tipis kecil berkilat redup melayang pelahan bagai akan membelah bungkahan awan itu, yang membuat mata kami sejeank tatap memaku.

“Pesawat terbang, ya?”

“Pasti terbangnya ke Padang.”

“Padang di sebelah kanan, jadi pasti ke Amerika.”

“Memangnya tidak gamang orang naik pesawat terbang?”

“Pasti gamang semuanya, pucat muka seperti mayat.”

“Tak ada jalan di langit. Jadi, tak akan kuat aku menaikinya.”

“Naik mobil saja belum kita, konon lah pula naik pesawat terbang.”

“Ya, betul.”

Semua lantas diam membisu menikmati pesawat terbang yang kian jauh kecil melaju, suatu tontonan yang jarang sekali bisa menjamu mata dalam setahun. Akhirnya noktah putih itu mengecil dan mengecil hingga akhirnya lenyap ditelan langit yang melebur impian. Begitu saja kami membalik badan dan lagi mengayun tungkai menelusuri sawah yang padinya sudah dipanen beberapa waktu yang lalu.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras mengejutkan kami.

Semua menghenti langkah, menirus mata ke arah telunjuk yang diaju-ajukannya. Di samping pematang, di balik batang padi yang sudah disabit, terpandang seekor ular sawah yang cukup besar panjang diam bergelung-gelung menanti mangsa datang menjelang. Ular yang berekor sekitar 4 meter itu (Semua badan ular adalah ekor!) pastilah lagi mengintai kodok, tikus, atau makhluk kecil lain. Keberadaannya sukar disadari lantaran berwarna sawah mirip sekali tanah. Batang tubuh kami mungkin terlalu besar bagi mulutnya dan hanya bakal mendesis saja sebagai peringatan agar tidak terlalu dekat padanya.

Sudah menjadi hukum alam barangkali kalau sesuatu yang dianggap akan menjadi ancaman dalam kehidupan perlu disingkirkan dan kalau perlu dimusnahkan. Bagi kami sendiri yang kelangsungan hidupnya ditopang oleh keberadaan alam sekitar, binatang yang akan mengerkah hewan peliharaan atau diri sendiri dikategorikan sebagai musuh yang perlu dibasmi, paling tidak disuruh berkirap jauh dari dusun kami. Dengan sendirinya dari tangan-tangan kecil kami gumpalan tanah sawah begitu saja beterbangan tanpa rehat ke arah sang ular yang membuatnya merasa terancam, lekas-lekas melarikan diri, dan menghilang dalam semak belukar di samping sungai.

“Wah, ular itu larinya ke sungai!”

“Kita melemparnya dari sini, ya larinya ke sana.”

“Mungkin dinantinya kita di sungai itu.”

“Malahan bagus karena banyak batu di sana yang bisa melayang ke arahnya.”

Pernah suatu kali kami, yang berjiwa tunggang hilang berani mati, antusias sekali memburu seekor ular di belakang rumah berumput yang memaksa sang ular secepat mungkin menjalar lari. Saat jarak memendek, sang ular yang merasa terancam betul nyawanya mendadak berhenti sembari menaikkan kepala menghadap ke arah kami, seakan-akan berucap, “Ayo sini, kalau kalian berani, bocah-bocah liar!” Ini sangat mengagetkan, membuat kami mengerem lari, dan balik lintang pukang melarikan diri. Ternyata sifat bernyali dan berani mati hanya dimodali saat musuh kelihatannya lebih lemah daripada diri sendiri.

Si bisu Ngeak berwajah sumringah. Mungkin senang ia dalam diam lantaran mampu menyadari keberadaan ular itu lebih cepat dari siapa pun dan sekaligus merasa bangga bisa menyumbangkan info yang berharga dalam kekerabatan saudara. Teduh wajahnya membias jiwa para pertapa, yang terbebas dari pengetahuan baru yang tidak perlu, dan hidupnya diisi dalam renung memperkaya batin, yang lepas dari tanya jawab duniawi, yang merusak pesanggrahan hati yang alami. Terpaling niscaya dia dari cerita neraka, yang berkian-kian banyaknya, yang ditakuti oleh manusia yang sonder tegar jiwa.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras lagi mengagetkan kami.

“Ular lagi?” tanyaku dalam hati.

Begitu saja semua langkah terhenti dan mendongak pandang ke arah mana telunjuk yang menjajaki. Di kejauhan di sudut sawah terpandang seekor elang terbang melayang seraya mencengkeram ular di cakar kakinya yang kukuh. Sungguh cengkeram kaki elang itu mampu meremukkan kepala anak kecil sehingga mangsa yang sudah tercengkeram mustahil berlepas diri, segera tak sadarkan diri atau mati suri.

Kami melanjut langkah perlahan sembari terus memandangi sang elang yang menguik terbang, membawa kemenangan akhir hari ini dengan ular di kaki, yang akhirnya menghilang ke dalam rimba lebat di seberang sungai petang.

“Ngeak ini tak mendengar, tapi matanya setajam elang,” celetuk Undin.

“Ya, betul,” tanggap Inai.

“Elang itu bisa memandang jelas sampai tiga kilometer,” jelasku.

“Bagaimana pula kamu tahu? Memangnya ngomong elang itu padamu?” tanya Siih.

“Tidak. Kalonok yang bilang begitu,” jawabku.

Semua mata memelototi Kalonok, minta pembenaran. Namun, yang dipelototi hanya diam dan memandang lurus saja ke dalam petang, sebagai pertanda apa yang dikata bisa dipegang.

“Mungkin Ngeak ini keturunan elang,” imbuh Irin.

“Betul kamu keturunan elang?” tanya Ayen, memutar kepala ke arah Ngeak.

“Sudah jelas tak mendengar dia, kok tanya juga? Bodoh amat kamu ini,” cetus Cilik seolah-olah mewakili Ngeak untuk menanggap.

Seperti biasa Ngeak tidak ambil pusing akan apa yang meluncur dari mulut-mulut kami, yang tidak mencapai pendengarannya; mulut-mulut yang belum mencapai kedalaman hari, mulut-mulut yang sering asal bunyi tanpa arti. Seperti biasa pula sikapnya tenang lagi berwajah lempang. Senantiasa dia merasa sukacita menengok orang lain berbahagia, merasa gundah menengok orang lain susah. Dia sangat perasa dan bertoleransi tinggi, mudah tersenyum saat orang ceria, gampang menitik air mata saat orang dirundung duka.

Saking perasanya, diimbangi daya pendengaran maya yang luar biasa, konon kabarnya di tengah-tengah prahara badai pun mampu telinganya menangkap bunyi tapak kaki kucing, yang anggun melangkah di dusun lain. Konon pula kabarnya hidungnya dapat mencium bau malaikat maut yang lagi berjalan selangkah menghadap surut dan mematut-matut nyawa yang hendak dicabut.

Saat tiba di tepian mandi, awas-awas mata kami meneliti setiap jengkal tanah di sekeliling kalau-kalau ular besar yang diburu tadi memang sedang mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balasan yang mematikan. Tetapi, kekhawatiran itu tidaklah berasalan lantaran sosoknya sama sekali tidak kelihatan. Yang ada hanyalah alunan sungai bening yang sesekali ditingkahi siulan merdu burung petang yang menyanyi untuk kami dan bumi.

Barang siapa yang duluan mencapai sungai, beroleh hak pertama untuk menduduki batu besar yang terdekat. Yang lain berlompatan dari batu ke batu mencari tempat yang cocok baginya untuk meluruhkan celana di bawah kubah cakrawala.

Selepas menelanjangi diri sendiri, melompatlah kami ke dalam sungai melenting, renang berkeliling, dan selam menungging. Bunyi kecipak-kecipung, suara yang membahana bergaung-gaung di bawah langit lembayung. Lantas, sekedarnya menggosok-gosok tubuh kumuh yang berlumpur kering untuk dikembalikan ke haribaan bumi. Lelah kerja menolong orang tua di tanah tani hari ini luruh dan hanyut bersama air ke hilir. Setiap orang mengangakan mulut lebar-lebar, ke arah hulu sungai, menyambut air segar yang akan mengaliri kerongkongan yang perlu dibasahi.

“Air sungai ini selalu menyegar jiwa raga,” ungkap Cilik.

“Pada sangkaku akan hujan lebat hari ini,” ucapku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik minta kepastian.

“Angin membadai semalam berderai-derai,” imbuhku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik, bersuara yang menderas.

“Pagi tadi langit cerah. Memang, gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas,” tambahku.

“Aku bilang air laut asin, ya? Jadi, bukan gabak bapakmu, bukan cewang moyangmu,” memburangsang Cilik kesal.

“Ya. Kasihan orang pantai yang mustahil mereguk air laut yang asin itu,” sela Undin menengahi.

“Di sini kita bisa minum air sungai sepuas hati.”

“Ngomong-ngomong, tahu tidak kenapa air laut asin?” tanya Inai, sekonyong-konyong.

“Karena mengandung garam,” jawab Kalonok.

“Itu betul. Tapi, juga lantaran semua makhluk hidup, tanpa terkecuali, buang kencing di atas bumi, yang mengasinkan air laut,” jelas Undin serius.

“Bidadari yang terkencing dari atas langit juga bikin air laut itu lebih asin,” sela Irin.

“Mungkin juga.”

“Katanya ada kolam renang di kota. Orang-orang juga terkencing di dalamnya?”

“Entahlah. Barangkali manusia yang berhati mutiara tak akan terkencing di sana. Tapi ke dalam sungai, ke dalam laut, kita bebas menyumbang air garam,” tambah Ayen.

“Tiada yang bisa menjamin kalau di kota gadis-gadis yang berwajah manis dan ibu-ibu yang berwajah labu tak terkencing dalam kolam renang.”

“Tanya langsung pada gadis kota.”

“Kirim Si Edi ke kota, suruh dia bertanya,” anjur Siih.

“Jangan suruh Edi. Gadis kota akan menonjok muka buruknya, mencabik-cabik tubuhnya, dan menyantap jantungnya,” gelak Undin yang diikuti secara berjamaah oleh yang lain.

Hanya tersenyum pahit kusimak guyonan kawan selapik seketiduran itu yang merendahkan tampang kapalanku.

Kuturunkan leher setentang air, memicing mata menikmati semilir aliran segar yang berganti-ganti menerpa tubuh bugilku yang menentang langit ungu. Sejuknya air yang bening mengalir tanpa henti melahir sonata alami, bagai alunan nada ninabobok meneduh hati, yang dinyanyi bunda menidurkan sang bayi. Merenung kusendiri dalam heran setentang gadis-gadis di dusunku dan di dusun lain yang lebih senang mandi di pincuran dan bukannya di sungai yang luas lapang.

Tapi, tunggu dulu! Andai gadis-gadis itu senang pula mandi di sini, dengan sendirinya hak guna sungai, dari hulu sampai hilir, akan berada di telapak tangan mereka, bersenang ria kaum Hawa itu sampai senjakala, sehingga pria mesti mengurut dada dan terpaksa mandi di pincuran saja. Ini adalah malapetaka besar bagi kami! Syukurlah, makhluk berwajah teduh, yang terkadang berhati harimau itu, tidak berminat menjajah wilayah sungai, tempat kami bisa bebas tertawa berderai-derai, tempat perangai liar kami bisa terurai.

Perangai liar itu terurai anggun, menjadi santun, namun sejenak saja, dan menyatu lagi bagai serpihan-serpihan pawana yang bergabung melahirkan prahara. Sejuknya air memang tidak pernah sepenuhnya mampu menundukkan jiwa-jiwa liar anak lelaki yang bersumber dari naluri primitif yang merenangi denyut nadinya.

Irin, yang sudah memanjat pohon di tebing sungai dan menggantung di akarnya, tiba-tiba mengayun sembari berteriak “Yahoo!” bagai Tarzan dan melepas badan mencebur memecah sungai, menciptrat air bercerai-berai semua dikenai, gelak berderai-derai. Boleh jadi perusahaan raksasa search engine “Yahoo!” di internet mencuri teriakannya dan menamai perusahaan yang terkenal itu.

Memerciki rekan dengan air, sampai yang bersangkutan lari menjauh kocar-kacir, suatu kesenangan yang di perigi mata air tidak mungkin dilangsir. Atau, menyelam dalam-dalam dan membetot ke bawah kaki teman. Terkadang diam-diam seseorang naik ke sawah dan membopong segumpal lumpur yang akan ditaruh di atas kepala teman dari belakang sebagai mahkota yang menggelimpang. Tak jarang pula beramai-ramai kami melumuri badan sendiri dengan lumpur sawah, menaiki batu besar, berpura-pura bagai orang gila, berteriak-teriak bagai orang utan, dan menukik lagi ke kedalaman sungai menyelam.

“Ini topiku!” teriak Undin sembari menunjuk batoknya yang diadoni lumpur.

“Itu bukan topi, tapi jengger ayam.”

“Jengger ayam berwarna merah.”

“Kamu berjengger ayam yang lagi sakit.”

Dari hulu sungai terpandang seseorang yang berjalan ke arah kami, menelusuri sungai di tepi. Coraknya berjalan, menenteng ikan di tangan, segera saja jelas menganyam kesan bahwa dia adalah Uda Batar yang piawai sekali menangkap ikan di hulu sungai; suatu hobi selepas melaku gawe tekun di sawah atau di kebun.

Selalu dia bergerak pada dimensi beda dengan kami. Sedang kami memancing ikan atau belut di wilayah yang masih selingkar dusun bersama-sama, dia lebih suka dan bernyali besar menerobosi hutan belantara sendirian menuju lubuk-lubuk ikan yang jauh, yang susah dijamah orang, tanpa saingan, sehingga wajar saja dia beroleh ikan yang banyak dan besar-besar. Seperti kami yang berkaki ayam, telapak kaki tebalnya mengeras yang sesuai dengan lingkungan alam yang keras, yang diperlu guna mendaki menuruni bukit tanah berbatu yang terjal, merambah hutan duri belukar yang berpangkal.

“Banyak dapat ikan, Uda Batar?” sapa Ilam.

“Lumayan. Tadi waktu mancing, beruang kulihat di seberang sungai.”

“Dikejarnya Uda?”

“Tidak. Aku melihatnya, dia melihatku. Lantas, aku terus mancing, dia terus menyantapi daun-daunan.”

“Hm,” gumam kami.

“Dia tak akan mengganggu selagi tidak diganggu.”

“Hm,” gumam kami lagi.

“Biasanya binatang buas itu segera menjauh kalau tahu manusia mendekat ke dia.”

“Hm,” gumam kami lagi, seirama lagi.

Memang belum pernah masuk telinga kami hal ihwal binatang buas yang menyerang orang. Namun, gerangan apa yang menghela mereka menjauhi manusia, sebagaimana ungkapan yang ditinggalkan Uda Batar? Suatu risalah sebab-akibat yang segera menjadi buah bibir di antara kami yang masih anyir. Jawab atas pertanyaan ini dibawa oleh Uda Batar, yang sudah melangkah jauh, lantaran kami yang telmi (telat mikir) ini terlambat mengaju tanya padanya.

“Barangkali beruang dan harimau itu ngeri melihat wajah manusia, jadi mereka menjauh dari kita,”

“Mungkin mereka merasa punya derajat yang lebih tinggi, jadi tidak mau dekat-dekat pada kita,”

“Boleh jadi manusia itu berbau busuk yang menyengat hidungnya,”

Dalam anggapan yang beragam-ragam ini, Kalonok yang pendiam menjadi sandaran utama, pergi tempat bertanya pulang tempat berberita. Sekeliling kami pandangi, tetapi batang tubuh kalonok yang berdegap itu tidak kelihatan, menguap menyatu dengan awan.

“Ke mana perginya?” tanya Siih.

“Mungkin sudah ditelan ular dia,” sela Cilik.

“Barusan masih kulihat berenang-renang dia di sana,” tutur Ayen.

Setiap mata menyigi aliran air kalau-kalau dia hanyut, kalau-kalau batang tubuhnya tersangkut. Tetapi, mustahil perenang tangguh itu bisa dihanyutkan oleh sungai. Sebab sang sungai pastilah pernah mendengar kisah Sang Yahudi, Nabi Musa, yang konon membelah Laut Merah, dan pula mengenal sungguh akan kekuatan Kalonok yang konon mampu membelah kawah, mengubah aliran air berbalik arah, merekah matahari menjadi jenazah, sehingga sang sungai pasti merasa ngeri sendiri dan akan binasa kalau coba-coba menggulung mempelitukkan tubuh gempalnya.

“Nok …!” teriak Irin memanggil.

Imbau yang tak bersahut. Perasaan risau memicu jantung debar galau bertalu-talu. Lentera petang yang sendu membasahi dinding hati kami yang pilu, bagai tersesat dalam hutan belantara, bingung bagaimana mengusut perkara. Sekeliling senyap, terasa sungguh sekeping daging lenyap, disergap suasana hati yang gelap.

Tak lama berselang terpandang seseorang bertelanjang bulat santai, menyeringai, mencogok dari balik batu besar di hilir sungai. Kalonok! Seperti biasa, bawaannya tenang, tetapi bibir yang melebar menyembul kesan benar bahwa dia baru saja usai buang air besar.

“Buang hajat rupanya dia,” celetuk Undin dengan bahu yang jatuh.

Bayangan buruk akan dirinya lumerlah sudah. Terasa damai di hati, damai di bumi. Hilangnya seorang sobat selapik seketiduran akan sukar tertanggungkan, akan mengacaukan haluan bagi segenap penghidupan; sesuatu yang tidak boleh hadir di dusun dan bahkan dalam mimpi sekali pun.

Begitulah. Kembalinya Kalonok, yang menjadi biang kerok keresahan hati kami, betul-betul membuang bimbang, memanggil dendang sonata petang yang tenang. Bersama-sama kami celupkan tubuh ke dalam sungai lagi hingga permukaan air menyentuh bawah telinga, nafas bersunyi-sunyi menikmati cairan bumi yang mengelus-elus diri. Kubayangkan nyamannya bergelung dalam rahim bunda yang pasti lebih hangat terjaga, beroleh zat hara yang kaya, dibelai suci kasihnya.

“Kaudengar suara itu?” tanya Inai membuyarkan lamunanku.

“Ya,” jawabku sembari lebih menghadap telinga ke rimbun pepohonan dari mana bunyi berasal.

“Kicau burung murai, ya?”

“Ya.”

“Pasti ada yang meninggal.”

“Pasti.”

Sunyi meminimal tenun hiruk pikuk yang menurun atas keyakinan adanya nyawa manusia yang balik ke dalam halimun; suatu pertanda baku dari sang burung murai yang menuntun; suatu isyarat pasti yang diwarisi turun-temurun. Bagai serumpun kami berpikir terayun-ayun, berperasaan tertegun-tegun. Warga dusun kami sendiri dan dusun lain yang berjumlah sedikit menjalani hidup dalam nuansa sehilir semudik, tolong-menolong timbal balik, sehingga senantiasa merasakan duka nestapa mereka yang ditinggal pergi oleh yang tercinta.

“Sanak saudara kita sehat walafiat semua, jadi pasti orang dusun lain yang berpulang,” ucap Irin.

Ya, pesan murai diyakin benar oleh orang sedusunku, juga oleh warga dunia sah yang bermukim di dusun sebelah. Begitulah rasa pilu merasuk kalbu, tatkala sang burung berkicau mendayu, mengenang seseorang nyawanya disapu, terpelanting layu melewati pagar waktu.

“Siapa yang bilang murai itu berberita ada yang baru meregang nyawa?” tanya Kalonok perlahan, yang bermata murni memandangi kami berganti-ganti.

“Kabarnya, kakek dari kakek, nenek dari nenek kita bilang begitu.”

“Pahamkah mereka akan bahasa murai?” tanya Kalonok lanjut.

“Pasti tidak.”

“Jadi, dari mana mereka tahu?” tanya Kalonok lagi.

Semua membisu, saling memandang ragu, berharap ada yang mampu menjawab tanya Kalonok itu. Beraut wajah kami serius, sembari mengerjap-ngerjapkan mata yang menirus, seolah-olah berpikir dalam-dalam sebagai manusia genius, kiat yang kudus untuk menunda kekalahan yang tandus.

“Ada milyaran nyawa manusia yang meramai dunia. Sudah pasti ribuan nyawa balik ke alam bebas, saban kali kita menarik nafas. Jadi, berita akan jengkang itu benar ditimbang. Hanya saja, seperti gerai murai, janganlah menyampai yang tak ada buktinya, tak kasat mata. Kalau berlaku begitu, kita adalah penipu, yang tak bermalu,” gumam Kalonok.

Pencerahan Kalonok tajam menghantam kesadaran yang terdalam, gumam yang menyulam ilham, mencengkeram segala bungkam. Kami, yang mentah kurang pikir, menemu diri sendiri berdiri di fajar pagi pemahaman hidup yang lebih tinggi, selepas menyimaki tutur kata Kalonok yang berisi.

Kaku aku bagai sebatang pokok sagu yang tegak membisu; melangkah perlahan menyeret laku dan menyatu dalam alunan air yang riak bergeduru. Yang lain pun berlaku begitu. Kalonok pun berlaku begitu.

Sementara sebagian dari kami menuju ceruk yang dalam dan mulai lagi berenang riang, aku bersama Ngeak menurun badan dan mencecah ekor ke dasar sungai mengapit Kalonok yang duduk melampai. Bertiga pandangan kami menghadap hilir sungai menunggangi riak yang gerak berombak-ombak bepercikan menuju dusun jauh di lembah, Sawah Laweh, Pasa Rabaa, Ungun, lain dusun; aliran yang terus mencari-cari wilayah terendah di bumi. Lembut air terus menerpa-nerpa punggung kami secara tak beraturan yang mengalir dari kaki pegunungan.

Dari sudut mata kutengok Kalonok di samping, yang lagi memejam mata, damai bermuka, entah apa yang bermain di kepalanya. Pikiran-pikiran semu melintasi otakku, mereka-reka kalau-kalau Kalonok dalam pejam mata sedang berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa yang bersemayam di belahan jagad raya yang jauh, atau sedang menyerap wahyu yang akan disampai kepada kami yang lugu-lugu. Betapa pun juga setitik tuturnya pantas dilautkan, sekepal tuturnya pantas digunungkan.

Ngeak pun berlaku begitu, memejam mata dalam anggunnya. Tiada pernah ia beroleh pengetahuan atas adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung, namun perilakunya yang terpuji bisa menebar arti yang pasti bahwasanya, dalam batas-batas tertentu, dia mewakili manusia sempurna yang terbebas dari pikiran culas. Kelihatannya tiada butuh waktu banyak baginya untuk menempa rasa nyaman dalam hidup, lantaran nyaman itu adalah bagian dari nalurinya sendiri. Seberkas cahaya lembut sinar matanya senantiasa menghangat jalin, yang menepisi kabut kehidupan abu-abu yang terpilin, meneduh batin.

Selepas menggarisbawahi keanggunan Ngeak dan Kalonok yang berpijar bagai mercusuar, kesadaran pengamatan terhenti dengan suara Siih yang mengalunkan sebait lagu yang acap kali didendangnya saat berada di tepian mandi. Dengan sendirinya mendekam kuat liriknya dalam kepala kami semua. Bagai yang sudah-sudah, awalnya hanya suara kecil saja yang semburat dari mulut Siih, namun lama-kelamaan suaranya meninggi saat kami mulai ikut campur mengiringi bait akhir nyanyi yang melankoli ini.

Andai mandi aku di hulu
Air usahlah adik sauk
Disauk usah dikeruhi, dikeruhi

Andai mati aku dahulu
Mati usahlah adik jenguk
Dijenguk usah diratapi, diratapi

Kata Siih, lagu ini sering kali masuk telinga manakala berada dia di Pasa Rabaa, sebuah pasar yang hadir sekali seminggu saja, tempat berkumpulnya orang dari dusun-dusun kecil yang dekat dan yang jauh. Kata Siih lagi, lirik lain tidak tersalin dalam batin.

“Kalau mau dengar lirik yang lain, berdekat-dekatlah pada pedati kerbau yang berasal dari Dusun Ungun,” ucap Siih suatu waktu.

Tidak menjelas dia setentang makna berdekat-dekat pada pedati kerbau, adakah sang kerbau yang menyanyi lagu itu sendiri atau sang pengemudi pedati. Tidaklah penting apakah lagu itu didendangkan oleh sang kerbau atau pemiliknya dan tidak perlu lanjutannya karena akan membebani otak untuk menghafalnya. Lirik lagu pendek yang didapat sudah lebih dari cukup guna memenuhi kebutuhan hati kami.

Ada semacam aturan tak tertulis, yaitu membiar Siih memulai bait-bait awal, lantaran dialah yang pertama menemu lagu itu dan dengan sendirinya hak paten berada di telapak tangannya. Inilah satu-satunya lagu yang kami nyanyi berulang kali pada jam yang sama di tepian mandi. Inilah satu-satunya lagu yang kami kenal dan tinggal dalam benak dengan kekal.

Tiada pernah lagu kanak-kanak dari kota merambah dusun kami yang menjorok di pedalaman Sumatra. Tak pelak lagi, selain nyanyian ninabobok yang digumam bunda merdu bersuara suci, yang abadi mengaliri pembuluh darah kami, lagu yang didendang Siih saban petang menyejuk bagai angin pegunungan, yang tiada pernah membosankan; suatu lagu yang senantiasa menjadi vitamin dalam hidup kami.

Renung akan makna nyanyian dibawa air lalu. Setiap orang mulai mencari-cari batu yang akan diguna untuk meluruh daki yang tersisa di tubuh; gawe kedua lantaran sebelumnya sudah menggosok-gosok badan sekadarnya. Batu yang mulus licin tidak menjadi timbangan, tetapi batu yang kasar bercapuk-capuk sangatlah laku lantaran lebih lekas meluruh daki-daki sawah ladang, daki-daki peluh.

“Tak usahlah digosok kuat-kuat jangatmu itu,” ucap Ayen sembari memandang padaku.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Tak akan putih kamu,” selorohnya sambil tertawa.

Kubenar pandangnya. Selagi masih menggarap sawah ladang yang disirami matahari saban hari, tentulah haram jadah menjadi putih. Tetapi, tidak seorang pun di antara kami yang memikirkan mau berkulit putih karena warna kulit kami antara satu dan yang lain sama belaka, sehingga tidak menimbulkan keirian. Perbedaan atas kekayaan dan warna kulit yang direkayasa alam sering kali menjadi penyekat antarmanusia di dunia.

“Tak usahlah digosok kuat-kuat jangatmu,” ucap Kalonok sembari memandang padaku, ” supaya minyak jangat habis dan tak menjadi kering.”

Kubenar pandang Kalonok yang agaknya sudah jauh hari tahu segala metabolisma dunia sebelum Nabi Adam diusir Tuhan ke atas bumi, yang sejalan dengan skenario Tuhan agama semitis (Yahudi, Kristen, Islam). Tubuh akan mengeluarkan minyak lagi dari tubuh sebagai pelindung permukaan kulit. Memang jangat yang berminyak akan memantulkan cahaya yang lebih kuat, seperti minyak rambut, yang membuat mata orang mengarah kepadanya. Konon kabarnya ada minyak cenduai, semacam minyak wangi guna-guna yang akan membuat lawan jenis tergila-gila. Karena aku tidak memercayai hal-hal di luar nalar itu, pastilah yang menggunakannya yang menjadi gila.

Kubenamkan tubuh lagi ke dalam air sampai setentang leher, diam bertenang-tenang menyepi, sembari menjatuh pandang ke tumpak-tumpak sawah yang mengapit sungai di bawah sana. Warna padi yang menghijau dan menguning menggaris makna yang nyata akan pemiliknya yang beda karena biasanya seorang tani cenderung menanam benih di sawah-sawahnya pada waktu yang sama.

Begitulah, padi itu ditanam dua kali setahun pada rentang waktu yang beda-beda sehingga deretan sawah pun tercelup warna yang tak senada. Sebagian sawah ini punya familiku dan sebagian punya orang yang bermukim di dusun sebelah. Daun-daun padi yang dimiliki familiku sudah menanggal busana hijaunya, mengena jubah kuning keemasan, membentang menyentuh kaki perbukitan.

Senandung petang yang syahdu diwarna-warnai capung-capung, menari melayang-layang, dalam nada riang yang menggelombang-gelombang, dilatarbelakangi bukit-bukit yang bersimbah dedaunan hutan hujan tropis yang indah terlukis. Berada dalam naungan pedusunan ini amatlah menyejuk hati, bersebab dilahirkan dan dibesarkan aku di sini. Bisa kuberlepas pandang ke segala penjuru, berpikiran kosong, menyembul perasaan merdu yang gaib terpadu, terbebas kalbu dari keakuan yang menggarong.

“Sudah petang amat hari,” ucap Cilik.

“Ya,” tanggap yang lain hampir berbarengan.

“Baliklah kita lagi,” kata Cilik bernada perintah.

“Ya,” tanggap yang lain serempak, bagai serdadu rendahan yang selalu membudak pada perintah komandan.

Bila bergerak ke suatu tempat, apakah itu ke tepian mandi atau ke dalam rimba, hampir selalu Cilik menapak langkah paling depan sebagai komandan. Kebiasaannya mengumbar cerita sembari menapak jalan membedakannya dengan komandan dalam ketentaraan yang sesekali saja buka mulut, menyelaras-nyelaras diri pada posisi yang ditempati.

Agaknya dalam batok kepala Cilik, sebagaimana anggota keluarganya yang lain, terdapat bagian tertentu dalam benaknya yang berkembang pesat sehingga berkemampuan yang tinggi berceloteh tanpa habis-habisnya; berwajah senantiasa ceria. Ada-ada saja topik yang mampu diutarakannya jika orang lain tidak sigap mengisi seupil ruang kosong dalam perbincangan yang ditinggalkannya.

Keunggulannya dalam mengatrol suatu bahan cerita perlu diacungi jempol dan di tengah-tengah bincang wajar saja dia menonjol, kendati yang diobrolnya sering kali konyol dan terkadang tidak lebih dari isapan jempol. Andai terperosok dia dalam tema yang cocok dengan kesadarannya saat itu, maka akan berkaok-kaoklah ia berlenggok-lenggok, sedikit pun tanpa kagok, berkicau memasok semua kata, titik koma, dan tanda seru yang berada dalam benaknya, tanpa tanda tanya. Seluruh anggota tubuhnya, tanpa terkecuali, bergerak-gerak dalam ritme yang teratur mengikuti muncungnya yang sangat lentur, seperti Yahudi yang menceracau tanpa galau.

Kian tercokok dan tergembok perhatian kami pada omongannya, kian menjadi-jadi khotbahnya, bagai politikus bermulut madu menawan hati, penebar kabut kelat terselubung kata-kata manis kepada rakyat. Calon pemimpin besar ini selalu bersemangat, sukar didebat, dan bulat tekad dalam berbuat. Kukira sebagai orator ulung dia bisa menggantikan Sukarno sebagai presiden dan Kalonok yang tenang filosofis bisa menggantikan Hatta sebagai wakil presiden.

Andai menjelajah kami menerobos suatu hutan belantara yang belum pernah dijamah sebelumnya, maka akan berdirilah dia di depan bernyali sekali merambah jalan buat kami. Saat melintasi rawa-rawa yang merupakan kerajaan lintah, kami melangkah cepat-cepat berjingkat-jingkat agar sang lintah tak melekat, sedang dia berjalan santai-santai saja tanpa rem darurat.

Andai didapatinya lintah melekat di tungkai, jemari kekarnya akan melepaskan sang makhluk yang kuat menempel itu dan lantas merobek-robeknya. Barangkali para lintah tahu sifatnya yang tidak berperikelintahan ini sehingga bermukim jauh dari lingkungan dusun kami.

Kita akan menemukan sifat dasar seseorang yang sesungguhnya, apakah masih akrab atau berkirab, tatkala orang tersebut tidak lagi mendapatkan manfaat dari keberadaan kita, dan kepribadian ini melekat benar di dinding hati Cilik. Selepas tiba di seberang rawa-rawa, dia terus berjalan sembari sekali-sekali menengok ke belakang guna memastikan pasukan tiada yang jengkang atau disambar elang. Selain terkesan akan keberaniannya, terkesan pula aku bagaimana sikapnya melindungi orang lain dalam kesadaran yang membatin. Begitulah Cilik, yang berkeberanian bukan sekedar salah satu kebajikan, melainkan batu uji untuk mencoba adakah bentuk dari setiap kebajikan diperlengkapi atau tidak.

“Memang dia cocok jadi kepala suku,” bisikku dalam kalbu.

Selepas melewati sawah, melompati parit, melewati sawah lagi, tibalah kami di perigi milik kaum Hawa yang sudah ditinggal pergi. Bergiliran kami membasuh kaki kami yang dihinggapi lumpur sewaktu melewati pematang sawah yang agak basah.

“Lama benar kamu di air!” hardik calon kepala suku yang berdiri di bawah tebing menantiku yang terakhir membasuh kaki.

“Banyak lumpur di kakiku, Pak Komandan!” jawabku.

“Akan kotor lagi kaki burukmu, jadi tak dicuci pun tidak apa-apa,” hardiknya lagi sembari berkacak pinggang.

Lekas-lekas kuberanjak dari perigi, ikut perintah sang pemimpin besar, dan membaris di bagian paling belakang. Dalam suatu kelompok manusia memang diperlukan seorang pemimpin, terutama di pengkolan jalan penghidupan, dan Cilik ditakdir untuk memegang posisi yang penting ini.

Beberapa meter menanjak selepas belok dari perigi, menghampar tanah datar yang agak memanjang di lembah ini. Di sisi jalan setapak rumput hijau bagai permadani lembut yang nyaman untuk tidur. Hanya saja di balik rimbun rerumputan yang tebal itu boleh jadi bersemayam segepok cirit sapi yang tak kasat mata, pula di beberapa bagian ditumbuhi putri malu berduri yang sudah mengatup mata dalam asuhan petang yang sudah menua. Di bagian kiri agak menjauh ke bawah tegak jelatang yang berdaun lebar, gagah kelihatannya, karena miangnya yang mengelus kulit bisa mengundang gatal menyengit yang bikin orang morat-morit.

Perilaku primitif hendak melenyapkan segala yang akan menimbulkan kerugian atau malapetaka pada diri sendiri diberlakukan secara alami. Beberapa orang melemparkan batu ke jelatang-jelatang yang hidup membentuk komuni itu, yang hanya menyedia miang penyengat demi kelangsungan hidupnya. Naluri menang terpuasi menengok jelatang-jelatang yang dedauannya menjadi berlubang-lubang dan beberapa batangnya merunduk-runduk. Seperti manusia, spesies yang lain pun selalu berusaha tegak mempertahankan hidup dengan daya hidup yang diwarisinya, sehingga hari-hari berikutnya sang jelatang kelihatan segar bugar lagi menikmati hari-harinya dan terkadang perilaku primitif kami, yang senang melayangkan bebatuan, mengganggu kenyamanan hidup mereka lagi.

Rumah-rumah panggung kami tidak menampak diri lantaran berdiri di atas tebing yang agak tinggi. Seekor monyet yang juara memanjat pun boleh jadi tidak bernyali merambati tebing yang tegak lurus dan mengerikan ini. Andai saja ada jenjang khusus terpasang dari kaki tebing ini menggapai atas sebagai jalan pintas, tentulah tidak usah ambil jalan putar menuju ke atas. Tetapi, pasti jenjang itu tidak akan populer bagi wanita dan orang dewasa yang tidak tertarik menanjaki tangga tegak lurus yang bagai memanjat pohon pinang yang berdiri kurus. Jadi, menapaki jalan selingkar yang mendaki terapit semak belukar merupakan satu-satunya cara yang disasar.

Di tengah pendakian berdiri pohon mangga gadang yang entah berapa tahun usianya. Batangnya nampak menjulang tinggi menusuk kubah langit-langit bumi.

“Pohon mangga ini sudah ada jauh hari sebelum kita lahir,” celetuk Cilik menghenti langkah dan mengangkat wajah melewati angan menuju puncaknya.

“Pasti sudah berusia puluhan tahun,” ucap Ayen.

“Pasti sudah ratusan tahun,” imbuh Inai.

“Pasti sudah beribu-ribu tahun,” gumam Ilam.

“Pasti sudah tumbuh ketika Gunung Marapi masih sebesar telur kakek,” tegas Siih.

Semua berdiri tegak di jalan setapak yang menanjak ini lantaran sang komandan menghenti langkah dan mengurai kisah setentangan sang pokok mangga. Kuping-kuping menangkap apa yang dicilotehkannya sebagai sifat bawaan. Memang kami sepembawaan, seiring sejalan, sehilir semudik, seia sekata, tetapi sering kali pula tidak sependirian. Jadi, bantahan demi bantahan saling dipaparkan, yang lain mengetengahkan putusan dengan aksen suara yang meyakinkan dengan isi yang guyah berantakan.

Tak ikut-ikutan aku urun rembug memikiri riwayat pokok mangga ini. Begitu pula Kalonok. Begitu pula Ngeak. Kami bertiga bengong membuang-buang pandang ke bawah melewati tumpak-tumpak sawah menuju aliran sungai yang menjiplak langit petang keemasan, pembayar lunas kesusahan kami mendaki jalan ini. Namun, kupingku kuasa terus menangkap perbualan yang melempang, ke hilir ke mudik berselang-selang, buah perbincangan panjang yang bercabang melintang-lintang.

Celoteh yang mengambang akhirnya susut menyatu, bagai serpihan-serpihan awan yang berpadu membentuk dadu. Semua diam. Bukan lantaran kehabisan bahan, melainkan seorang teman terpeleset sewaktu melangkahi urat-urat pokok mangga yang gadang membelintang jalan.

“Urat mangga ini selalu saja jadi pengganggu jalan kita,” gerutu Irin.

“Ya,” jawab Undin.

“Jika dibiarkan, jadi pengganggu saja. Kalau dipotong uratnya, mangga ini akan mati dan buahnya yang manis tidak bisa kita nikmati lagi,” ulas Ayen.

“Bagai buah simalakama, ya?” ujar Ilam.

“Ya. Kalau dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati,” imbuh Siih.

Seperti biasa, andai kepala kami sudah terbentur pada masalah yang tak terpecahkan, kepala-kepala ini akan berputar ke arah Kalonok tempat curhat dan berharap percikan renungnya akan menjadi lentera dalam gelapnya masalah. Tetapi, yang ditengok sama sekali diam bergeming dan terus saja menerawang lurus, pura-pura tidak mendengar atau tidak mendengar sama sekali, lantaran telinganya boleh jadi lagi menangkap kehadiran Tuhan yang bikin sekuntum mawar merah berkembang penuh menyebar harum, atau perhatiannya tersita penuh pada panorama indah yang terpajang di bawah sana. Seperti biasa pula, kelihatannya senang dia menemukan inti kehidupan dengan berbincang-bincang lebih banyak dengan dirinya sendiri daripada dengan orang lain.

“Bagaimana menurutmu, Nok?” tanya Irin.

“Tentang apa itu?” tanya Kalonok balik.

“Masalah buah simalakama,” lanjut Irin, “Kalau dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati.”

“Kalau begitu, jual saja,” jawab Kalonok tenang.

Kami terperangah dan seterusnya manggut-manggut, sebagai pembenaran atas pandangan Kalonok yang brilian.

“Tidak akan ada yang mau beli,” bantah Cilik.

Kami terperangah dan manggut-manggut lagi, sebagai pembenaran atas pandangan sang komandan yang berkepastian.

Jadi, bagaimana? tanyaku dalam hati, menengadah wajah dengan jelas minta jawab kepada sang komandan yang berdiri tegak paling atas.

“Jadi, begini,” imbuhnya sembari memperbaiki wajah guna pencitraan yang lumrah, “Kudengar berita tentang Presiden Sukarno yang akan berkunjung ke Padang. Jadi, pada waktu itu kasih saja buah simalakama itu kepadanya sebagai hadiah dari dusun kita yang akan diboyongnya ke Jakarta.”

“Itu kejahatan. Lagi pula, selesai diserahkan, bapakmu sudah mati,” tegas Inai, “Sebab, kamu tidak memakannya. Dan, bahkan mungkin kamu jengkang sekalian.”

Jawaban lain tidak ditemukan, langkah kaki diangsur ke depan. Topik pembicaraan yang meloncat-loncat lagi mengambil tempat, yang menunjukkan bahwasanya suatu topik punya jaring-jaring laba-laba yang bisa menyebar ke mana-mana, sekaligus menyedia bukti pula bahwasanya jumlah topik yang bisa dikemuka sebanyak milyaran bintang yang berkedip-kedip di langit malam.

Pula hal ihwal tentang pokok mangga dan buah simalakama begitu saja raib dari ingatan dan terlupakan. Sebagaimana sedetik di depan adalah gelap yang tidak bisa diramal, sedetik di belakang juga bisa berupa gelap yang menyelimuti pikiran dan terlupakan.

Petang pun terus merangkak perlahan-lahan saat kaki-kaki kecil kami mencecah setumpak tanah yang ditanami singkong milik bundaku. Lelaki yang menikahi gadis dusun ini dan bermukim di sini mustahil memiliki sawah ladang lantaran sistem matriarkad mengharuskan perempuan mewarisi harta orang tuanya. Ada perasaan bangga melewati tanah setumpak kecil lantaran dimiliki oleh bundaku, walau warisan tersebut akan jatuh ke tangan saudara perempuanku.

“Singkongmu hampir tak berdaun. Dilalap gajah, ya?” tanya Siih sembari terus berjalan.

“Mana pula gajah masuk kampung. Tadi pagi kupetik, direbus dan disantap bersama sambal lado dan nasi,” jawabku.

“Kabarnya di balik bukit tinggi yang berpendakian di baliknya ada hidup gajah.”

“Mana yang kuat gajah atau harimau?”

“Kuat gajah.”

“Harimau dengan kerbau?”

“Kuat kerbau.”

“Jadi, tak dikandangkan pun kerbau tak akan apa-apa.”

“Dinding bambu kandang ayamku sudah mulai keropos.”

“Daging ayam itu enak, tapi kenapa ciritnya busuk, ya?

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami bersama-sama melantunkan koor yang sering keluar dari mulut anak laki-laki yang liar, dengan suara yang besar.
Kukuruyuk
Ayam ternak
Ciritnya busuk
Dagingnya enak

Seusai koor ini, cerita yang tiada ujung pangkalnya berlanjut sungsang, centang perenang, sampai kami berbelok ke rumah masing-masing seorang demi seorang di ujung petang yang lengang dan esok hari menanti kami di bawah langit yang sama di bumi yang sama. Gelap sudah mengendap-ngendap di balik semak belukar di belakang rumah dan sebentar lagi senja yang berumur pendek akan menyerahkan dusun ini kepada malam, yang sudah bergayut bergelantungan di kerimbunan hari yang mati suri.

Asap putih dari dapur-dapur rumah, yang tadinya melenggang lenggok menuju angkasa, sudah kian menipis dan menyatu dalam garis-garis malam yang modis. Burung-burung pun sudah memejam mata mungilnya di dalam sarang dan menyerahkan panggung dusun sepenuhnya kepada jengkerik yang mulai redup berdendang. Orkestra alami yang sayup-sayup meneduh hati ini akan terus berlanjut sampai pintu tidur kami tertutup.

Satu petang di dusun ini sudahlah usai. Rajutan warna petang dengan serat-seratnya warna-warni membentuk dunia pelangi abadi yang menerangi dan memenuhi penghidapan kami. Kenangan manis yang tidak bisa diraba, tidak berwujud itu, bisa dinikmati dengan mata hati tanpa pernah layu dalam riam waktu, selalu menghangati kalbu.

(tamat)

Catatan:
Cerita fiksi ini lahir dari kenangan kerajaan masa kecil di kampung halamanku pada parohan kedua tahun 60-an yang jauh; adalah cermin sosok diri di masa silam yang indah nyaman berwarna pualam dan jarang bernada kusam. Teman selapik seketiduran masa belia itu sudah berdiaspora ke mana-mana.

Generasi muda, yang sudah mati rasa akan nikmatnya aroma tanah sawah ladang, menanggapi gamit kota dan mengucap salam perpisahan pada dusun yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Tetapi, memang keniscayaan adalah pilihan hidup berada di tangan sendiri dalam semangat buhul mati, yaitu lahir sendiri, berusaha sendiri, dan mati sendiri.

Ketenteraman dan kesunyian dusun kami pecah berkeping-keping oleh sampah peradaban modern berupa bunyi knalpot sepeda motor yang bocor, gas buangan yang kotor, yang meneror. Zat kimia berupa pupuk dan pestisida banyak diguna di sawah ladang, di kebun sawit yang malang melintang, yang merusak tumbuhan alami, mengupak habitat binatang di darat pula di air, mengoyak hidup orang dusun yang tertegun-tegun.

Dusun kecil itu, kepada siapa aku dalam-dalam menghormat, betul-betul sudah hilang bentuk, terbatuk-batuk tak terbezuk, terakuk-akuk tak terjenguk.

PUTIH SALJU YANG MENEDUH KALBU 心を和ませてくれる白い雪

Salju itu laksana kapas putih yang lembut melayang-layang turun dari atas langit.”

Wajah bocah-bocah polos, terjebak akan tutur kata ibu guru SD itu, terpana bermulut menganga. Semua kepala sibuk membentuk bayang-bayang akan sosok salju bersama dingin yang membeku. Ibu guru itu pintar mengolah kata-kata seakan-akan dirinya sendiri pernah berada dalam nostalgia indahnya salju yang memutihi permukaan tanah.

Tidak muncul dalam pikiran anak-anak bagaimana seorang guru yang hanya bersandal jepit itu bisa melanglang buana ke negeri salju, padahal untuk bertandang ke kota saja perlu waktu 2 hari perjalanan dari dusun kami, yaitu pertama perlu jalan kaki 1 hari penuh menapaki jalan tanah turun-naik gunung yang berliku-liku ke dusun yang lebih besar sebelum keesokan harinya menunggangi bus yang sarat penumpang.

Di antara murid SD pada parohan kedua 1960-an itu terpandang diriku sendiri yang ikkut-ikutan mencecahkan pantat di bangku panjang, berkaki ayam yang menyentuh lantai tanah. Di akhir bayangan terbubuh titik berupa keniscayaan bagiku akan mustahilnya menikmati keindahan salju sampai darah ini berhenti membeku.

“Andai salju turun di sini, tentulah selalu kami bisa nikmati,” ucapku dalam hati, melamuni kelas kami yang berdinding kayu, menyedia pemandangan lepas ke luar lantaran tak berjendela dan tak berpintu.

Acap kali dalam hidup ini apa yang dirancang berakhir dengan bentuk yang berkapang, kecewa menghela nafas panjang. Tetapi, terkadang nasib menggiring kita ke arah yang tidak dinyana. Begitu pula yang terjadi pada dirikku yang terasa tiba-tiba saja sudah berada di Hiroshima pada 1987, yang menengadah wajah, membentang lengan lebar-lebar, mengangakan mulut lebar-lebar, meraup habis seluruh salju putih yang luruh dalam kebahagiaan yang teduh. Tentu saja, kebahagiaan bukanlah buah yang tiba-tiba hadir begitu saja melainkan hasil yang diperoleh dari perasan keringat sendiri.

Tahun-tahun belakangan ini perhatian terhadap orang tua bini yang bermukim di Hokkaido, pulau yang paling utara di Jepang, lebih meninggi karena keduanya sudah berada di rembang petang usia yang matang. Oleh karena itu, selalu diupaya agar menjenguk mereka banyak waktu, terutama di tengah-tengah musim salju manakala salju banyak bergeduru bertumpuk-tumpuk meninggi di sekeliling rumah, sedang keduanya tidak lagi bertenaga membersihkannya. Tak pelak lagi, disengat suhu udara di bawah nol derajat saban hari bikin tubuh buruk ini sering terasa salah urat dan lama-lama bengekku bisa kumat.

Omong-omong, dalam naungan salju selingkar itu hidup tenang mereka berdua dengan uang pensiun yang cukup tersedia, tetapi rutin pula kami mengeluarkan uang demi membuat mereka lebih tenang. Begitu pula rutin kami menyangga hidup keluarga di Indonesia, di samping mengulurkan tangan kepada mereka yang terlahir malang di dunia. Untungnya kami tidak tertarik bikin anak sehingga hasil pencarian yang sejumput ini bisa diguna untuk menolong mereka yang mendamba pertolongan.

Perekonomian Indonesia yang kian meningkat dengan strata kalangan menengah yang mulai menebal (termasuk lambungnya) membuat makin banyak saja orang Indonesia yang bisa menyisihkan uang untuk menikmati putihnya salju yang meneduh kalbu di Jepang.hachi salju

MAK NGAH, MY AUNTIE

Mak Ngah is the nickname given to my mother’s younger sister, who lives in the heart of the mountains of Sumatra Island. During childhood, I witnessed how she and her reticent husband toiled every day in the rice paddy fields, from morning till evening, struck by rain, and exposed to the sun toward the harvest day, in order to support their family. Excess rice was sold to hawkers who took them out of the village to fill the stomachs of towns’ people. Each grain of rice is the result of farmers’ sweat, which is often wasted by the city people who are calloused and numb to the farmers’ plight. Fortunately, a poor set of values do not plague our village, because farmers’ lives emphasize the feeling of one heart, generosity, sincerity, and not rusty hearts.

“Where are you going, Mak Ngah?”

“I am going to the rice fields.”

“Why so early?”

“Just to have a look because of the heavy rain last night.”

Sometimes the dry, malignant season that just passed badly evaporates any water which splits the fields here and there. This strikes Mak Ngah’s tumultuous heart. The coming of the blessed rainy season transforms the ground in splendid ways, which makes Mak Ngah’s face glow. However, heavy rain with wild wind breaks off rice stalks. Then they aren’t straight anymore. The land is so soaked that even vegetables become squashed with lamenting weakness. This condition makes Mak Ngah’s eyes filled with tears.

The city folks ought to always show their appreciation, respect, and a debt of gratitude to the farmers. However, a strong competition in urban areas frequently cripples their conscience. Their jagged stream of life, created on their own accord, undermine sacred sincerity.

Our village’s dirt road, which we cling to for travel, is located far away from the town. A two-day walk and a bus ride used to be required to get there from Padang. Therefore, life in Kayu Pasak is not contaminated by the culture of the town which is less a cooperative spirit. Mak Ngah is the image of a humble farmer free of prejudice. Living in an interdependent environment among fellow villagers of equal economic status invites infinite satisfaction, which is irreplaceable by a pile of materialistic treasure.

Mak Ngah’s daily lifestyle is a reflection of a farmer’s natural and humane way of being. When the planting seasons and harvest seasons arrive, everyone rolls up their sleeves to help each other shoulder to shoulder in the tradition of integrated mutual cooperation. We have three or four seasonal cycles annually. When someone becomes ill, the news quickly spreads to all corners of the village to make the patient never feel alone. This kind of attention is spiritual food, which is very important to entice the healing process. In true rural communities where an indigenous circle of life helps each other, they share happiness and sadness on the basis of real mercy – a powerful wisdom that is perfectly filled with exquisite humanity.

When I was child, my family and Mak Ngah’s family lived under the same roof in the largest wooden house in our small village with a mere 25 inhabitants. Although the house was large enough for all of us to reside in, only two bedrooms are available, while the other part is a versatile wide-open space. One of the bedrooms was used by Mak Ngah and her husband. Children slept in the open space, which was also occupied at one end to store grain, coconuts, and other foodstuffs from the surrounding land. At the rear of the house is a spacious, wide-windowed kitchen big enough to breathe the fresh mountain air. A small path from there leads to the back of the house.

“Is Mak Ngah there?” asked a visitor at the front door.

“Yes, she is.”

“Where is she?”

“She’s in the kitchen.”

This is just a conversation in passing because a relative or guest surely already knows Mak Ngah would be in the kitchen when she is at home. Doing everything slowly, but routinely, is a habit that she inherited from her mother. That room can be regarded as Mak Ngah’s headquarters, the place to mix the aromatic spices and make food preparations. (Then everything is brought directly outdoors to cook over wood and coconut shell fires.) The kitchen is also the place to hold a conference over village matters with her relatives or compatriots who come to visit individually or in groups. So rather than stop working in the kitchen and go to the versatile wide-open space, she prefers to receive guests in the kitchen. That way, she can continue her work without pause while discussing or chattering with neighbors sitting down on an ever-present, worn, straw mat that can’t help but display many holes.

Like the inhabitants of nearby villages, her shabby, cotton clothes are also worn-out here and there, as everyday wear that are rarely replaced. Colors fade and the fabric eventually gets torn. Yes, it is very different from city folks. Yet Mak Ngah is satisfied wearing the same clothes every time, at bedtime, time in the fields, and times when she visits others. Only on special days does she pull out better clothes to wear. Since everyone has a simple life with washed-out clothes that are similar to each other, garments are not used as a benchmark in assessing a fellow villager’s status.

She never went to town. If she saw those people’s extravagant and wasteful lifestyles, excessive eating that leads to stomach distension, and how they easily dispose of their clothes without a second thought, her heart would become pained.

One day when I cut down several thickets that surrounded our pond across the road, I heard the sweet sound of Mak Ngah’s from the house.

“Don’t cut it down!”

“Why, Mak Ngah?”

“Leave it as it is so the poolside won’t fall down.”

Mak Ngah was right. On one side of the pond, which is bound by a footpath, there is a ditch where a rapid stream flows when it rains hard. If the thickets’ roots that grip the earth were cleared, the probability of the walkway collapsing and the sewage water violently rushing into the pond would be enormous. Despite living in the village all the time, Mak Ngah is able to practice Mother Nature’s concepts by observing the natural, everyday phenomenon.

Old Mak Ngah continues to live in the same old village, together with her aged husband, and a declined population that has made the immediate area nearly deserted. Except for a daughter and a granddaughter who lives next door, all of her children and grandchildren already moved to other areas to change their own fates. Her wrinkled face expresses her challenging efforts to raise and educate her beloved children; the image of a mother who is always holding hope for her children to lead much happier lives than herself.

I have a longing to see Mak Ngah who also took care of me when I was child. I want to talk with her again and certainly she has many stories to share concerning her life up till present days, including how she managed to raise her children. I am sure she is proud of her offspring regardless their dissimilar ways of thinking, values, and lifestyles in West Sumatra regions that are very much different from hers.

SHIKI MASAOKA DAN SENANDUNG ALAM 正岡子規と自然のメロディ

Bisa dinyatakan bahwa karya sastra Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hampir tidak ada yang berupa terjemahan langsung; sesuatu yang sangat menyedihkan mengingat studi kejepangan di perguruan tinggi secara resmi telah berawal sejak tahun 1960-an. Dalam suasana kian meningkatnya studi kejepangan dewasa ini, para pakar kejepangan di Indonesia haruslah merenung-renung melacak penyebab munculnya kondisi ini serta mencari langkah-langkah pemecahan yang hakiki. Kalau tidak demikian, Indonesia makin ketinggalan dalam mengkaji Jepang dan manusianya dibandingkan negara jiran, tanpa dapat mencermati watak mereka secara bermakna serta dampak positif dan negatif yang mengiringinya.

Buku-buku tentang kejepangan, termasuk karya sastra, yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia bukannya tidak bernilai. Hanya saja, melalui bacaan tersebut, pemahaman kita akan kurang akurat jadinya. Dapatkah kita menyigi pola pikir manusia Jepang yang berjiwa samurai dan berestetika sakura dengan meminjam kacamata Amerika?

Di samping itu, saat dialihbahasakan karya sastra Jepang ke dalam bahasa Inggris, sedikit banyaknya keindahan kata serta ungkapannya akan menyusut tak terkira. Waktu karya sastra itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia, keelokan nuansanya kian luntur yang hasilnya kurang mampu menyentuh atau menggerakkan perasaan pembaca. Hal ini diperburuk lagi oleh kenyataan latar belakang penerjemah yang kurang mengenali alam lingkungan Negeri Sakura dan alam pikiran manusia Jepang.

Karya sastra yang berfungsi sebagai vitamin bagi jiwa memberikan sumbangan besar dalam ketenangan masyarakat yang benar. Karya sastra, yang mencermin penghayatan penyair terhadap lingkungannya, melukis perilaku serta pola pikir masyarakat tempat dia berdiam. Jadi, sembari menikmati karya sastra tersebut, akan mampu pula kita menyelami kata hati penyair serta masyarakat Jepang yang disitir. Pada waktu yang sama akan kita dapati pula persamaan maupun perbedaan yang terwadahi antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Jepang yang sama-sama terletak di wilayah Asia.

Shiki Masaoka (1867-1902), sering kali disebut sebagai “Shiki” saja, merupakan salah seorang tokoh besar dalam dunia sastra Jepang, yang karyanya tetap dikupas dan dinikmati hingga hari ini. Dia pengasuh majalah sastra Hototogisu yang terkenal pada zamannya dan menggelindingkan revolusi haiku (puisi bersuku kata lima-tujuh-lima-tujuh-tujuh) yang menyentak kesadaran masyarakat.

Dia pula yang bernyali mengkritik habis-habisan tradisi penggubahan puisi yang asal jadi, miskin vitalitas, dan hampa jiwa yang berkembang luas dalam masyarakat, baik yang digubah oleh penyair belia maupun yang sudah banyak mengecap asam garam perpuisian. Sumbangannya yang besar dalam pembangunan sastra Jepang modern dicatat dalam sejarah dengan tinta emas.

Dia melakukan pendobrakan sastra dengan memasang wajah baru pada haiku dan tanka; memperbarui suasana aliran yang penuh gejolak dan gairah pada Zaman Meiji (1868-1912) seusai negerinya berlepas diri dari zaman feodal yang memasung kebebasan berekspresi. Dalam menggubah puisi dengan bahasa Jepang yang klasik ini, dilukiskannya suasana alam berlandas apa yang dilihat, didengar, dan dirasa sehingga puisinya dikenal sebagai berbentuk shasei (sketsa).

Berlainan dengan puisi negeri lain, puisi khas Negeri Sakura ini sangatlah pendek nian. Yang melandasinya bahwa andai sejumput kata yang sarat makna sudah mampu menggugah perasaan pembaca, mengapa pula hendak menguraikan sesuatu dengan banyak kata? Tanka, sebagaimana juga haiku, digubah menuruti jumlah suku kata yang sudah diberterima. Namun, dibenar menambahi atau mengurangi suku kata dalam tanka secara ketat agar aliran serta isinya bisa lebih padat indah permai, membuai dan membadai jiwa pembaca secara memadai. Pelukisan musim baik secara langsung maupun tidak langsung membubuhi tanda kutip titik dua pula pada puisi Jepang.

Buku ini diawali dengan penggambaran sepintas perjalanan hidup Shiki sedari kecil, pemahaman, serta pandangan hidupnya sampai dia balik ke asalnya. Berikutnya adalah bagian yang diberi judul oleh penyusun sendiri “Senandung Alam” yang memuat sekumpulan tanka yang digubah oleh Shiki. Tanka ini dikutip dari buku “Shiki Kashu” (Kumpulan Tanka Shiki) susunan Bunmei Tsuchiya (Iwanami Shoten, Tokyo 1989). Pada bagian akhir buku tercantum indeks tanka yang disusun secara alfabetis.

Tanka ini dalam bahasa aslinya ditulis satu baris dari atas ke bawah. Pemuatan bahasa asli dimaksudkan sebagai bahan referensi bagi pembelajar bahasa Jepang, khususnya yang hendak atau lagi memperdalam bahasa Jepang klasik. Shiki memanfaatkan banyak kanji tua dalam merangkai puisinya dan dalam buku ini sebagiannya diguna kanji sama yang sudah diperbarui atau hanya huruf hiragananya saja.

Kendati satu puisi dalam bahasa aslinya hanya sebaris saja, terjemahan dalam bahasa Indonesianya menghasilkan beberapa baris, yang kemungkinan satu puisi dengan yang lainnya memiliki jumlah baris yang berlainan. Dengan terjemahan bebas serta jumlah baris yang bervariasi tersebut, sembari tetap berpegang erat pada makna bahasa aslinya, diharapkan pembaca akan lebih bisa meresapinya.

Kesukaran yang menghadang dalam penerjemahan puisi ini adalah yang bertalian dengan faktor latar belakang budaya. Negeri kita yang diberkahi iklim tropis dan Jepang yang mengalami pergantian empat musim sepanjang tahun mencetak manusia yang berbeda dalam menghayati alam sekitarnya. Oleh karena itu, penerjemahan diupaya dengan menemukan kata maupun ungkapan yang senada, menyembulkan kedalaman dan daya hidup yang menyertainya, agar keterpukauan manusia Jepang bisa ditularkan kepada pembaca Indonesia. Hanya saja bersebab lantar belakang budaya serta kemampuan bahasa Jepang penyusun yang sangat minim dalam khasanah perpuisian, boleh jadi satu puisi yang sangat menggugah perasaan manusia Jepang tidak terlukiskan secara gamblang.

Penyusunan buku ini tidak mungkin rampung tanpa bantuan yang besar dari Kyohei Kodaira, yang penuh kesabaran menyampaikan penjelasan rinci mengenai makna tersirat yang terkandung dalam tanka tersebut. Penyusun menghaturkan terima kasih yang dalam atas segala jerih payahnya selama ini. Ucapan yang sama dilayangkan kepada Dr. Tsyoshi Nara, direktur International Centre for the Studies of Languages and Cultures, Tokyo yang membiayai penerbitannya. Selanjutnya ucapan terima kasih dituturkan kepada Maria Isabel Santacruz yang telah menyumbangkan beberapa ilustrasi yang memperkaya bentuk isi buku ini.

Kemungkinan akan ditemui kekurangan maupun kesalahan dalam uraian perjalanan hidup Shiki atau penerjemahan puisinya ke dalam bahasa Indonesia. Kritikan dan saran dari sidang pembaca akan penyusun terima dengan segala kerendahan hati.

Nihonmatsu, 1996
penyusun

———————-
Tulisan yang sudah diedit ini adalah “Sekapur Sirih” dari buku “Shiki Masaoka dan Senandung Alam” yang disusun oleh Edizal, terbitan International Centre for the Studies of Languages and Cultures, Tokyo, 1996.Masaoka Shiki

LABRAK KOYAK LINYAK

Mari lagi warnai jalan kelabu ini
Lepas hampa cita yang basi
Gairahkan hati berapi-api
Sekali terang membelah matahari

Segala nada kita raup
Segala makna kita kucup
Tempelbasahi jasad hidup
Kuyup hingga menyelusup

Paculah melumer habis kuyu
Kenang nasib akan beku
Buang sedih sendu mendayu
Tantang maut yang setia menunggu

Arahkan badai revolusimu
Ke ranah bangkai itu
Berpintu berpalang batu
Bercandu paham radang bau
Yang bikin hidup sesat lalu

Lantangkan sorak bertalu-talu
Gasak binasakan segala hantu
Labrak koyak linyak iblis tanpa ragu
Tindih lumat seperti kutu
Hancur luluh hingga berdebu

Laku hingga rautmu berkarat
Laku hingga nafasmu sekarat
Laku hingga duniamu kiamat
Sonder liang lahat sonder dilayat

(Di sana orang-orang yang berjiwa merdeka menyeru gegap gempita wejangan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”)

YANG KURUS KERING DAN YANG BERDAGING

Apa yang kita laku manakala menengok seorang bocah kurus kering tinggal tulang sendirian di jalan tanpa seorang pun yang berusaha mengulurkan tangan? Adakah naluri kita akan melahir rasa dan sikap yang beda saat memandang anak malang yang beragama Islam, Kristen, Yahudi, atau tak beragama?

Dari segi agama, bocah Nigeria yang bagai tinggal puing ini sudah ditakdir Tuhan hidup prihatin sebelum Anja Ringgren Lovén, pendiri African Children’s Aid Education and Development Foundation, menyelamatkan sang bocah yang kelaparan, cacingan, dan hampir meregang nyawa. Dia ditelantarkan orang tuanya, rapuh sendirian di jalan, lantaran dianggap sebagai anak yang akan mendatangkan malapetaka.

Dari segi agama, adalah tanggung jawab kita semua, sesuai perintah Tuhan, untuk hidup-menghidupi dan bermurah hati menyelamatkan anak-anak yang malang di dunia ini, dengan mengebasi segala atribut ras dan agama yang kita miliki.

Banyak manusia tidak memedulikan pertumbuhan, pendidikan, dan masa depan anak darah dagingnya sendiri. Naluri primitifnya hanya mau memuaskan ego dan syahwat saja di dunia tanpa peduli atau tak paham akan tanggung jawab yang mesti menyertai lakunya.

Golongan menengah, yang menebal di Indonesia, juga kian menebalkan daging lambung mereka, berselaput lemak yang menggelembung bagai belatung. Andai kemanusiaannya juga menebal, pastilah disadari bahwa lemak yang menempel di lambung itu adalah hak jutaan orang miskin yang bertebaran di muka bumi ini, termasuk bocah dalam foto terlampir. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa makan-minum berlebihan adalah laku yang tak bermalu dan tak bermoral.

Kurasakan seberkas cahaya lembut sinar mata Anja Ringgren Lovén hangat menyelimuti kalbu dan sejuta rasa hormatku mengarah pada perempuan Denmark yang berhati bidadari ini.%e3%82%b9%e3%82%af%e3%83%aa%e3%83%bc%e3%83%b3%e3%82%b7%e3%83%a7%e3%83%83%e3%83%88-2017-02-13-6-26-29

MENCIBIRI SIAPA?

Adalah Albert Einstein (1879-1955), sang jenius, yang mematri teori relativitas, pemenang Hadiah Nobel Fisika, dan diakui luas sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20. Pemikirannya menyumbang pada penciptaan bom atom yang melumatkan ratusan ribu nyawa pada PDII, tetapi belakangan mengakui salah satu kesalahan terbesarnya, yaitu menganjurkan Presiden Roosevelt mencipta bom atom, namun membenarkannya pula lantaran bahaya Jerman yang saat itu juga merancang bom atom. Dia adalah pencinta damai dan mengutuki penjatuhan bom atom di Jepang.

Pada awalnya bapaknya hanyalah penjual ranjang belaka, tetapi bersemangat menyediakan pendidikan buat si Einstein kecil. Lantaran tidak tersedia peta menuju ranah keberhasilan, anak-anak harus diajari betul bahwa jalan menuju ke ranah itu haruslah dibuat dengan tangan sendiri. Namun, orang tua jualah yang perlu menyedia petunjuk dasar bagaimana merambah jalan tersebut.

Pemberian dorongan, semangat, atau motivasi yang terus-menerus akan merangsang perkembangan otak anak, yang akan membuatnya nanti bisa berpikir sendiri, kreatif, progresif, tanpa disuruh-suruh. Orang tua berperanan amat guna menempa jiwa mereka agar berpikiran empiris (yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah), mandiri, dan tidak cengeng kelak; kecengengan yang akan dicibiri Einstein dan anak-anak.

Wajah mencibir ini merupakan salah satu potret Einstein yang paling dikenal di seluruh dunia. Mungkin dia agak jengkel lantaran selalu dipotret di mana-mana dan mancibir, atau mencibiri manusia yang sibuk-sibuk mengelu-elukan keunggulan agamanya yang irasional.

Yang ikut-ikutan mancibir ekspresif di foto terlampir adalah anak-anak Indonesia. Mungkin kedua anak ini akan menjadi orang biasa saja, setingkat Einstein yang Yahudi, atau melebihinya. Tiada yang tahu karena seorang anak bisa melompat sejauh kodok melompat, atau jauh melambung melampaui pagar angkasa raya, seperti biji pohon jati yang selang membesar, yang julang mencuar.
einstein-mencibir

PILU YANG MENGHUJANI KALBU

Sang bapak meninggal saat anak dusun ini masih bersekolah, sehingga familinya ikut menyingsingkan lengan baju guna menyokong pendidikannya. Dia, Luthfiati, anak yang sangat rajin, punya nilai rapor yang tinggi, gigih berusaha, sehingga bisa memasuki gerbang Universitas Andalas. Penyelesaian kuliahnya juga tidak terlepas dari bantuan orang tua asuhnya di Jepang yang disalurkan lewat proyek beasiswa yang kami kelola. Kegigihannya bermuara pada diterimanya dia sebagai staf Bank BRI di Padang Panjang; suatu prestasi kemilau yang pantas diperolehnya.

Saban kali terdengar kami berada di Padang, dia bersama keluarganya dan terkadang ibunya selalu menyempat diri menemui kami. Ada-ada saja buah tangan yang dibawakannya dari Padangpanjang, yang kami terima dengan rasa bahagia dan rasa terima kasih. Tentu saja, tidak pernah kami mengharap buah tangan tersebut, tetapi merasa senang sekali bisa jumpa dengan orang yang menepisi kabut abu-abu yang membelenggu, tegar, berjuang memetakan jalan hidupnya sendiri, dan berhasil mandiri dalam hidup ini.

Yang membahagiakan lagi adalah selalu dia menanyakan bagaimana keadaan orang tua asuhnya yang sudah manula di Negeri Sakura, yang mencerminkan betapa dia orang yang selalu ingat akan kebaikan orang, kepada siapa dia berhutang budi. Sikap baik tersebut dipahami orang tua asuhnya sehingga mau terus mengulurkan tangan guna membantu anak dusun lain bersekolah; suatu teladan yang patut kita tiru, di samping juga sifat tegar, tenang, dan rendah hati itu.

Berita mengenai berpulangnya Luthfiati sangat menyentak hati, memilukan hati. Pembedahan untuk mengangkat kanker usus yang dideritanya tidak berhasil dengan baik, yang menyebabkannya cepat-cepat saja kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Di sisi lain, meninggalnya Luthfiati di masa yang masih muda ingatkan kita lagi bahwa tiada yang tahu apa yang bakal terjadi esok hari, apakah kita akan sakit, hidup tenang, atau sudah mati. Adalah lumrah kita mempersiapkan segala sesuatunya yang akan membuat hidup ini berjalan dengan lancar dan tidak menjadi beban bagi anggota keluarga yang lain.

Anak muda perlu belajar gigih untuk merambah jalan hidup, tidak cengeng berlayar di lautan nasib yang bergelombang, tidak berlebihan (makan minum), tidak perlu modis (pakaian), dan sebagainya, apalagi selagi masih menggantungkan hidup pada orang tua atau orang yang lain.

Luthfiati, yang menolak dipermainkan nasib, bisa dijadikan sosok teladan yang tenang, rendah hati, bersahaja, dan berhati tegar penerjang badai dalam merambah jalan hidup ini.

DINGIN MENDINDING BEKU

Hari-hari belakangan kian banyak udara beku dari kutub utara diboyong memerciki seluruh permukaan Negeri Sakura, terutama di wilayah utara yang berlangit jarang tembus cahaya. Fenomena ini ingatkan kita lagi bahwa saban tahun sang bumi yang lonjong senantiasa berputar-putar mencong-mencong, menyondong-nyondong ke arah matahari kepada siapa ia berutang budi.

Di beranda terpajang pot bunga yang membopong bunga mungil yang masih keluarga nadeshiko; bunga yang kuat hidup bertahan dalam gigitan musim salju yang gosong. Hanya sekali dua minggu kuberi minum dan sisa air yang terdapat dalam penyiram membeku terus menjadi, terutama pada suhu – 7˚ Celcius di pagi kelabu yang bersalju ini.

Kolam luas, yang mengambil jarak tak jauh dari apartemen kecilku, permukaannya juga sudah membatu es. Boleh jadi di malam hari peri-peri turun melancong dari langit dan bersilancar di atasnya. Tengah bermimpi aku menikmati lagu keroncong, boleh jadi pula biniku yang kelahiran daerah paling utara, Pulau Hokkaido, yang bersuhu bisa mencapai – 30˚ Celcius itu menggendong rindu, diam-diam menyelinap ke luar di malam hari, menyongsong peri-peri, dan ikut-ikutan berskating bersuka ria di atas permukaan kolam itu.

Kemarin dulu tatkala berangkat kerja, aku ditodong pemandangan dinding dingin pagi bersuhu – 3˚ Celcius, sebagaimana foto terlampir. Terkadang udara hangat, yang menyelimuti diri sepanjang tahun di negeri tropis nun jauh di seberang lautan, menghasut rindu bertumpukan, dimabuk angan-angan. Tetapi, tak boleh kumelolong, hari esok mesti disongsong tanpa banyak cincong.salju