(TIDAK) MAU MENGAWINI LELAKI MINANG

Hiroko Osada menerima pinangan Madjid Usman, lelaki Minang, pada 1936 di Jepang. Padahal anak bangsawan kaya raya ini paham betul setentang penduduk negeri si lelaki yang disebut sebagai “dojin” di Negeri Sakura, suatu sebutan kepada orang terjajah yang dianggap tidak terpelajar, rendah, biadab, terkebelakang, sulit dipercaya, dan selalu dicuriga.

Jadi, apa karisma atau aura yang menyembul dari si “dojin” yang mampu memekarkan bunga cinta di hati Hiroko? Tentulah si lelaki itu punya strategi ampuh dan pintar menebar aroma surga pemikat jiwa sang dara, ditambah kehadiran semangat yang tinggi untuk memperjuangkan kebebasan negerinya dari pendudukan Belanda dan belakangan dari penjajahan Jepang.

Saat bertunangan, diikrarkanlah janji baku, “Apabila Madjid ingin menikah lagi dengan perempuan sebangsanya (Melayu), maka Madjid harus berterus terang dan kami harus bercerai lebih dulu agar kemudian saya bisa pulang kembali ke Jepang.” (*)

Tak kuketahui persentase lelaki Minang yang doyan berpoligami atau kawin cerai masa itu, tetapi kupunyai banyak kenalan lelaki Minang yang seenak perutnya berpoligami atau menceraikan istri yang setia mendampinginya selama ini; laiknya bandot yang mendoyani daun-daun muda. Tentu saja, warisan yang berwarna mata keranjang ini pula banyak hadir di daerah lain.

Lelaki Minang relatif memiliki daya hidup yang tinggi di rantau, mampu berdiri sendiri tanpa mau berbelas kasihan pada orang lain, dan banyak yang berhasil menjadi pedagang kaki lima berhujan panas siang hari mencari sesuap nasi. Boleh jadi daya hidup itu pulalah yang mencolek DNA gadis suku lain di nusantara dan merasa lelaki yang “terbuang” ini bernilai untuk dikawini.

Sebaliknya banyak pula gadis di Ranah Minang sendiri yang ogah dipersunting lelaki sesukunya dengan alasan yang beragam-ragam. Kendati sistem merantau membuat lelaki menjadi endangered species atau langka di sana, agaknya standar yang dipatok gadis setempat tinggi sekali sehingga incat matanya lebih terbeliak pada lelaki suku lain sembari berkata-kata dalam hati meyakin-yakini diri, “Dialah yang mampu menyibak biru air telaga hatiku”. Gadis di dusunku sendiri banyak yang mengawini orang suku lain, misalnya lelaki Riau, Sumsel, Sunda, Jawa, dan Jepang.

Kukenal seorang perempuan Minang yang meneguh tiang berpantang menikahi lelaki Minang lantaran dianggapnya berwajah keruh, tidak berdisiplin, egois, irasional, dan kasar; seolah-olah baginya lebih baik mati hanyut di sungai Milky Way ketimbang hidup bersama lelaki Minang yang akan bikin hulu tenggorokannya terasa bagai kena radang bercangkang. Akhirnya, sang gadis ini berhasil meraup seberkas cahaya lembut sinar mata lelaki Jawa yang hangat menyelimuti kalbunya yang lara.

Sebaliknya, sebagaimana yang sudah diulas di atas, banyak pula gadis yang terpukau, risau, dan galau jikalau tidak dipersunting lelaki bau rendang yang berani menerjang gelombang.

(*) Buku “Memoar Siti Aminah (Madjid Usman – Hiroko Osaka)”, Penyunting: Salmyah Madjid Usman dan Hasril Chaniago, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2017

tidak laku

Iklan

MEMPERINGATI 60 TAHUN BOM ATOM DI HIROSHIMA

(Sekilas Lika-liku Pengalaman Seorang Perantau Minang)

Selama perang dunia kedua Amerika Serikat telah menjatuhkan dua bom atom di Jepang. Yang pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan yang kedua di Nagasaki pada 9 Agustus di tahun yang sama. Namun Hiroshima telah mengalami bencana yang jauh lebih besar ketimbang Nagasaki, tidak bencana saja karena penduduk Hiroshima lebih besar, tetapi keadaan cuaca lebih cocok untuk mencapai dampak maksimal dalam arti kekuatan tekanan letusan maupun abu dan debu yang membara (disebut “gamma rays”).

Tulisan ini memusatkan perhatian kepada kasus Hiroshima saja karena alasan di atas dan juga karena saya sendiri berada di Hiroshima pada waktu itu sebagai salah seorang mahasiswa khusus dari Asia Tenggara. Di bawah juga saya sampaikan pengalaman dan pengamatan saya sendiri, walaupun secara ringkas saja.

Tulisan ini juga dibatasi pada rujukan-rujukan umum dari Encyclopedia of Japan ditambah dengan pandangan mata, yang dikutip dari buku John Carey, “Eye-Witness to History”, Harvard University Cambridge, Massachusetts, 1987. Hiroshima termasuk sebagai esai nomor 259 di antara 309 yang dikumpulkan. Esai pertama menggambarkan Wabah di Athena tahun 430 SM dan yang terakhir berjudul “Jatuhnya Presiden Marcos”, Manila, tahun 1986. Khususnya perkembangan-perkembangan pada tanggal 24-25 Februari. Esai mengenai Hiroshima berjudul “Mengunjungi Hiroshima, 9 September 1945”, ditulis oleh Marco Junod, seorang wartawan Inggris, 133 hari sesudah bom atom dijatuhkan. Sayang buku ini tidak meliputi letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang juga merupakan suatu bencana besar yang memberikan dampak ke seluruh dunia.

Sebagian dari laporannya, dimulai dari beberapa saat setelah bom atom dijatuhkan. “Tiba-tiba suatu cahaya yang berwarna putih campur warna mawar muda melebar di udara yang disusul oleh suatu getaran yang bukan alami. Pada saat berikutnya menyusul pula suatu gelombang panas yang menyapu bersih apapun yang berada pada jalur lintasnya. Dalam beberapa detik saja ribuan manusia yang berkerumun di jalan-jalan dan medan rumput yang terbentang di tengah koto dibakar oleh udara yang menyengat. Kebanyakan mati dalam sesaat, yang lain-lain berbaring sambil menggeliat di tanah berteriak kesakitan yang tak terhingga oleh luka bakar yang mereka derita akibat gamma rays. Apapun yang berdiri tegak, apakah pagar-pagar, rumah-rumah, pabrik-pabrik maupun gedung-gedung, dihancur-leburkan sedangkan reruntuhannya dibawa terbang oleh angin puyuh yang mengamuk sambil melingkar naik. Trem-trem diangkat dan dilemparkan seakan-akan alat angkutan itu tidak lebih dari permainan kanak-kanak belaka. Kuda dan hewan ternak lainnya seperti anjing mengalami siksaan yang sama.”

Pada saat bom atom dijatuhkan, yaitu pukul 8.15 pagi, saya bersama-sama dengan satu orang Indonesia lagi, yaitu Saudara Hassan Rahaya, ayahanda presenter TV Ferdy Hassan, Saudara Pangeran Yusuf dari Brunei, yang kemudian menjadi Menteri Pertama dan Saudara Abdul Razak dari Malaya yang kemudian menjadi Direktur Program “Melihat ke Timur” (Look East Policy), Malaysia. Kami mengalami luka-luka ringan. Kami juga melihat cahaya kilat yang membakar bumi Hiroshima. Walaupun pagi terang benderang, tiba-tiba alam sekitar bertukar menjadi gelap gulita. Kira-kira dua jam kemudian lingkungan mulai terang samar-samar. Kami putuskan untuk kembali ke asrama dengan jalan kaki selama 15 menit.

Di tengah jalan kami saksikan rumah-rumah yang terbuat dari kayu hancur semua. Begitu juga asrama kami yang merupakan bangunan dua tingkat dari kayu. Kami tidak begitu terkejut. Namun kami kaget karena menghadapi pekerjaan yang berat. Pertama, harus menggali dan menyelamatkan Saudara Sagala dari Tapanuli, senior kami di universitas. Kemudian, kami panggil-panggil ibu asrama, tidak ada jawaban. Dari bangunan sebelah asrama kedengaran jeritan, kami selamatkan seorang perempuan setengah baya.

Di jalan muka asrama kami lihat sekitar 20 orang siswa-siswi sekolah menengah bergelimpangan sambil menjerit-jerit minta tolong. Mereka dikerahkan untuk merobohkan rumah-rumah membuka lorong-lorong agar mudah mengungsi. Kota Hiroshima dijelajahi oleh beberapa sungai yang cukup lebar. Sekitar 25 meter, salah satu dari sungai-sungai itu yang mengalir di bagian muka asrama dilengkapi jembatan besi. Jembatan itu utuh, di bawah jembatan pemerintah telah memasang rakit-rakit dari bambu, tempat menyelamatkan diri.

Pada waktu itu, angin kencang mulai berhembus dan api mulai menjalar panjang, kami empat orang menggotong siswa-siswi yang menjerit ke atas rakit-rakit di atas sungai itu. Tak lama kemudian api mulai mengamuk di sana-sini, bahkan juga di atas sungai. Untuk menyelamatkan diri, kami berlindung di bawah jembatan. Namun karena hawa yang sangat panas, sekali-sekali kami harus mencelupkan kepala ke dalam air. Di sana-sini mulai kelihatan sosok manusia hanyut dibawa air sungai. Amat menyedihkan. Namun siswa-siswi yang di atas rakit juga tidak tertolong, mereka jutuh ke air dan dibawa hanyut karena tidak putus-putusnya menggeliat. Keesokan harinya, jalan-jalan penuh dengan mayat manusia, begitu juga di sungai! Waktu menonton siaran TV mengenai suasana di Aceh pasca-tsunami, saya diingatkan pada penderitaan korban-korban di Hiroshima.

Jumlah penduduk Kota Hiroshima pada tanggal pemboman sekitar 600.000 orang dan jumlah korban ditaksir sekitar 350.000 orang. Di antara mereka dipercaya termasuk 270.000 orang dari dinas militer. Sebagian berasal dari luar Kota Hiroshima karena didatangkan untuk ikut serta latihan-latihan perang.

Rincian dari persentase kematian segera berjumlah 100% dari mereka yang berada dalam lingkaran satu kilometer. Dalam radius 1,5 kilometer, persentasenya menurun menjadi 50% dan dalam radius 2 kilometer antara 20% dan 30%. Di daerah dengan radius lebih dari 2 kilometer mendekati 5%. Universitas Hiroshima berada pada radius 1,5 kilometer.

Esoknya, badai dan api telah mereda. Kami putuskan untuk pindah ke kawasan universitas. Sebagian dari gedung beton itu penuh dengan puing atau arang-arang kayu pada hari sebelum diserakkan oleh badai dan api. Maka kami pilih untuk bertahan di bawah payung langit biru di halaman sampai dua minggu. Ada tiga orang ibu-ibu melihat kami, minta agar bisa ikut. Mujur, di antara mereka walaupun kelaparan, hanya menderita luka-luka sedang.

Kami berbagi tugas. Dua orang, termasuk saya, bertugas pergi ke kantor walikota untuk menerima pembagian bahan makanan dan memasaknya. Dua orang lagi bertugas menggali ubi jalar dan memetik sayur-mayur di sekitar kampus universitas yang sebelumnya ditanam untuk keperluan masa darurat. Sementara itu bergabung pula Saudara Sayid Omar dari Malaya, senior kami di universitas. Pada waktu bom meledak dia sedang berada di halaman kampus. Jadi, langsung dia tercemar radiasi bom atom.

Pada tanggal 15 Agustus sekitar lohor saya sendiri pergi lagi untuk memungut jatah makanan di kantor balaikota. Kerumunan lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Mereka dengan tekun mendengarkan siaran radio yang mendengarkan titah kaisar. Saya tidak mengerti apa isi titah tersebut terkecuali beberapa kata-kata di antaranya disebut nama Kota Potsdam. Rupanya pemerintah Jepang telah menerima “Deklarasi Postdam” yang dikeluarkan negara-negara Sekutu, menyerukan kepada Jepang agar menghentikan perang dan menyerah tanpa syarat.

Begitu titah kaisar itu selesai, banyak yang merukukkan badan mereka. Ada yang bertiarap sembari sujud. Ada pula yang yang mengangkat kedua tangannya sambil bersorak “Banzai!” Ada yang menangis sambil menundukkan kepalanya.

Tanggal 17 Agustus dari Tokyo menjemput kami, tiga orang pejabat dari Kokusai Gakuyukai (Institut Persahabatan Mahasiswa Mancanegara). Kami esoknya dibawa ke Tokyo dengan kereta api. Tetapi menginap di Kyoto, di mana mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia belajar di Universitas Kyoto. Kyoto adalah suatu kota budaya yang indah, selama perang sama sekali tidak mengalami serangan-serangan udara Amerika Serikat sehingga tetap indah dan asri. Besoknya lagi kami meneruskan perjalanan, namun Saudara Sayid Omar tidak ikut karena merasa sangat lelah.

Setelah kami tiba di Tokyo diperoleh kabar bahwa Saudara Omar telah meninggal dunia akibat radiasi yang berat. Khawatir mendengar berita duka itu, segera kami dibawa ke rumah sakit St. Carolus untuk pemeriksaan. Radiasi yang saya alami cukup berat karena sel-sel darah putih saya hanya tinggal 40%. Dokter mengatakan bahwa dia belum pernah mengobati pasien seperti saya. Namun dia mencoba sedapat mungkin. Untuk itu dia sodorkan selembar pernyataan bahwa saya setuju menjalani pengobatan dokter bersangkutan dan tidak menggugat apabila sesuatu tidak berhasil. Saya tandatangani surat itu.

Sepanjang saya ingat, dokter tersebut menyedot darah yang telah tercemar melalui kaki saya sambil menyuntikkan darah yang bersih dari tangan saya. Saya menginap di rumah sakit selama lima hari karena fasilitasnya diserahkan kepada pasukan pendudukan Amerika Serikat. Kemudian saya dirawat di rumah sakit biasa. Setelah delapan bulan, saya cukup sehat untuk bekerja dengan pasukan pendudukan Amerika. Mujur saya dianggap cukup mahir berbahasa Inggris dan bahasa Belanda. Saya dipekerjakan di Yokohama, Tokyo, dan Okinawa dan kembali ke Indonesia pada tahun 1952. Pada waktu itu saya berusia 27 tahun.

Sumber: Tulisan Prof. Arifin Bey yang muncul di newsletter “Khidmah”, Agustus 2005.

SEBELUM TERTAWA DILARANG

Tertawa adalah liburan sesaat yang berkhasiat lantaran menjadi obat dan terapi yang cuma-cuma dalam kehidupan kita yang singkat. Pun, tertawa adalah kembang api dari dalam jiwa yang memesona banyak manusia. Kendati tertawa adalah obat dalam keseharian, kita perlu obat apabila tertawa tanpa alasan.

Kita berhenti tertawa bukan karena tua, melainkan kita menjadi tua karena berhenti tertawa. Tiada seorang pun yang mati karena tertawa, tetapi semua orang yang mati tidak tertawa.

Terkadang orang tertawa melihat seseorang bersilancar terjungkang saat menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh manusia yang berotak udang. Juga kita tertawa terpingkal-pingkal, sampai air keluar dari mata dan dalam celana, menonton sandiwara komedi tentang kemalangan atau kebodohan seseorang. Ada benarnya ucapan Bryant H. McGill, “Kenapa kita tertawa pada hal-hal yang sangat buruk? Sebabnya, komedi sering kali berupa kenyataan sarkastis dari tragedi yang tak terelakkan.”

Membuat orang tertawa dan merasa bahagia merupakan derma yang mustahil ditakar dengan harta benda, yang boleh jadi akan menjadi kunci pembuka pintu surga. Sebaliknya, tertawa yang bikin hati orang terluka adalah suatu kejahatan yang tidak bisa diterima dan boleh jadi akan memperluas jalan menuju pintu neraka.

Mari berfantasi agar hidup yang berdaki bisa dikebiri, selaras tutur Kahlil Gibran, “Fantasi merupakan bahan yang diperlukan dalam kehidupan; suatu cara memandangnya lewat ujung teleskop yang salah, yang memungkinkan Anda tertawa pada kenyataan hidup ini.” Jadi, mari kita nikmati hidup dengan tertawa dan menertawakan hidup yang tidak nikmat.

Hari-hari tanpa tawa adalah hari-hari yang membosankan. Tetapi, rejim Pol Pot di Kampuchea melarang anak-anak tertawa. Wakil Perdana Menteri Turki, Bülent Arinç, berpetuah dalam ceramah di akhir Ramadhan pada Juli 2014 bahwa wanita seharusnya tidak tertawa di depan umum. Pernyataan bodohnya menjadi bahan tertawaan berkepanjangan yang berjelo-jelo di negerinya, merambah ke luar negeri, dan tercatat dengan baik dalam sejarah.

Tertawalah sebanyak-banyaknya sebelum pimpinan negara atau agama yang gila melarang manusia tertawa.

tertawa.png

MAK NGAH, BIBIKU

“Mak Ngah” adalah panggilan akrab yang dituju kepada adik perempuan ibuku, yang bermukim di pedalaman Sumatra yang jauh. Semasa kecil dulu, kusaksikan bagaimana dia, bersama suaminya yang tenang, saban hari harus membanting tulang di sawah-ladang, sejak pagi hingga petang, berhujan berpanas hingga panen, untuk penyangga hidup sekeluarga. Kelebihan beras dijual kepada penggalas yang memboyongnya ke daerah lain untuk pengisi lambung-lambung orang kota. Setiap butir padi itu adalah hasil perasan keringat tani, yang sering kali dibuang-buang oleh orang kota, yang berperasaan mati rasa. Untungnya, sifat buruk itu gagal mewabahi dusun kami, lantaran petani hidup lebih mengedepankan perasaan sehati, murah hati, tulus hati, dan tidak berkarat hati.

“Ke mana Mak Ngah?”

“Ke sawah.”

“Pagi sekali kok sudah ke sawah?”

“Lihat-lihat saja. Malam tadi hujan deras sekali, jadi mau kutengok padiku.”

Terkadang musim kemarau yang beringas menguapkan air, ganas merekah-rekahi sawah-ladang di sana-sini, padi-padi yang tak berisi, meluluhkan sayur pucat pasi, yang bikin Mak Ngah rusuh hati. Datangnya musim hujan, yang penuh berkah, bakal menenggelamkan musim kemarau dalam lanyau, yang bikin wajah Mak Ngah cerah berkilau. Namun, hujan lebat berangin yang menggila mempelitukkan batang-batang padi, yang takkan bisa lurus lagi, mencurahi lahan amat basah, melunyah sayuran meratap lemah, yang bikin Mak Ngah berhati gundah.

Mestinya orang kota senantiasa menunjukkan rasa terima kasih, hormat, dan utang budi kepada petani. Namun, persaingan hidup yang kukuh di kota melumpuh hati nurani mereka. Arus kehidupan bergerigi, yang mereka ciptakan sendiri, menggerus ketulusan hati yang suci.

Dusunnya, yang dibelah jalan tanah yang berlobang-lobang, terletak jauh dari kota, yang butuh waktu sekitar dua hari jalan kaki dan naik bus, saat aku masih bermukim di sana. Oleh karena itu, kehidupan dusun ini tidaklah tercemari oleh adat kota yang miskin jiwa kebersamaan.

Mak Ngah adalah citra dari petani yang bersahaja, bebas dari buruk sangka. Hidup dalam lingkungan sanak saudara, yang hampir tidak beda tingkat ekonominya, mengundang kepuasan yang tak terhingga, yang tak tergantikan oleh tumpukan harta.

Keseharian Mak Ngah adalah cerminan gaya hidup tani yang manusiawi dan alami. Sewaktu musim bercocok tanam datang, manakala musim panen menjelang, semua menyingsingkan lengan baju, bahu-membahu saling membantu, dalam tradisi kegotongroyongan yang terpadu. Berita sakitnya seseorang cepat menjalar ke seluruh pelosok dusun, yang membuat semuanya mengulurkan tangan, yang membuat si sakit tidak pernah merasa sendirian. Menaruh perhatian begini juga bagai makanan rohani, yang bagi si sakit penting sekali. Dalam masyarakat pedusunan sejati, selingkar adat hidup sandar-menyandar, mereka saling berbagi suka duka atas dasar belas kasihan yang nyata; suatu kearifan dahsyat yang sangat cocok dalam tataran kemanusiaan yang elok.

Sewaktu kecil, keluargaku dan keluarga Mak Ngah tinggal serumah, yaitu rumah kayu yang terbesar di dusun kami yang kecil. Kendati rumah panggung ini cukup besar, hanya dua kamar tidur saja yang tersedia, sedangkan bagian lainnya adalah ruang serbaguna yang terbuka lebar saja. Salah satu kamar tidur itu dihuni oleh Mak Ngah suami istri. Anak-anak lelap di ruang yang lebar ini, yang di bagian ujungnya diguna untuk menyimpan padi, sedangkan bagian lainnya untuk menaruh kelapa atau bahan makanan yang diboyong dari kebun. Di bagian belakang rumah terdapat dapur yang berjendela lebar dan berdaun pintu kecil, tempat yang cukup lapang pula untuk menghirup udara gunung yang segar. Ada jenjang kecil menuju kebun yang bersisi lembah curam.

“Ada Mak Ngah?” teriak seseorang dari halaman.

“Ada.”

“Di mana?”

“Di dapur.”

Itu hanyalah percakapan sambil lalu saja, lantaran tetangga atau orang jauh sudah bisa memastikan bahwa Mak Ngah pasti di dapur berkiprah, apabila berada di rumah. Dapur ini bisa dikatakan sebagai markas besar Mak Ngah untuk meracik bumbu dan memasak dengan kayu. Juga untuk melangsungkan konperensi dengan saudara sekampung yang datang berkunjung, apakah itu perorangan atau beberapa orang. Melakukan sesuatu pelan-pelan, tetapi beraturan, merupakan kebiasaan yang diwarisinya entah dari siapa. Jadi, ketimbang menghentikan kerja di dapur dan pergi ke ruang serbaguna berlantai papan, dia lebih suka menerima tetangga langsung di tempat masak. Dengan begitu, gawe bisa diteruskan, tanpa perlu jeda, seraya berceloteh dengan tetangga, seraya duduk di lapik pandan usang yang sudah berlubang-lubang.

Seperti penghuni dusun yang lain, lusuh pakaiannya berhias robekan di sana-sini, sebagai kostum sehari-hari yang jarang diganti. Ya, beda amat dengan orang kota. Mak Ngah sudah puas mengenakan satu pakaian saja waktu jaga, waktu tidur, waktu ke ladang, dan waktu bertandang. Lantaran semua orang hidup bersahaja dengan pakaian compang-camping yang mirip satu sama lain, busana tidaklah dijadikan ukuran dalam menilai seseorang. Itu-itu saja pakaian yang dikenakan Mak Ngah, sampai luntur warna, bersobekan di sana-sini. Hanya pada hari-hari khusus pakaian yang lebih bagus ditampilkan. Gaya hidup orang kota yang boros dan mubazir, makan berlebihan sampai lambungnya menggelembung, gampang buang pakaian tanpa pikir, bikin hati terasa getir.

Suatu ketika saat kutebasi beberapa batang kayu kecil yang mengelilingi tebat kami di seberang rumah, terdengar suara Mak Ngah dari jenjang rumah.

“Tak usah ditebangi,”

“Mengapa begitu, Mak Ngah?”

“Biarkan saja supaya tidak runtuh tepinya.”

Mak Ngah benar! Di salah satu sisi tebat, yang dibatasi oleh jalan setapak, terdapat selokan yang airnya mengalir deras sewaktu hujan keras. Andai pohon semak yang akar-akarnya mencengkeram bumi itu ditebangi, kemungkinan jalan setapak tersebut ambruk disusupi air selokan yang meruncing tanduk. Kelihatannya kendati bermukim terus di dusun, Mak Ngah mampu mempraktekkan konsep “alam terkembang jadi guru” dalam menjalani kehidupan yang pantas ditiru.

Kini Mak Ngah tua tinggal di dusun tua, yang sudah lengang bertimpa-timpa, berdua dengan suaminya yang pula sudah tua. Kecuali seorang anak perempuan dan seorang cucu yang tinggal di rumah sebelah, hampir semua anak cucunya sudah berkirap ke negeri lain dibawa peruntungan nasib masing-masing.

Sinar senja yang sendu membasahi keriput wajahnya, yang membias jerih payah menggadangkan dan menyekolahkan anak-anaknya yang tercinta; citra seorang ibu yang senantiasa mendamba buah hati berbahagia daripada diri sendiri. Seorang anaknya yang bermukim di Jambi memegang gelar master dan seorang cucu perempuannya sebentar lagi akan merampungkan program doktor pula di Jakarta.

Ada rindu yang pekat ingin bersua dengan Mak Ngah yang ikut mengasuhku sewaktu belia. Ingin bincang lagi dengannya dan tentulah banyak pula kisah suka duka yang bakal dilepasnya, setentang anak cucu yang sudah menjadi orang di rantau orang, yang punya gaya dan pemandangan hidup yang jauh beda dengannya, setentang peristiwa selama kami tidak jumpa.

今永清二先生 (私が尊敬する日本人)

私がインドネシア教育大学日本語教育学科で勉強していた35年程前、広島大学から二人の先生がイスラムに関するアンケートを配るために教室にやって来た。その一人が今永清二先生であった。大学を卒業後、私はナショナル大学の日本研究センターで働いていた。その時、今永先生と再会し、先生が推薦してくださったお陰で、私は広島大学に留学するチャンスを得ることができた。今永先生との出会いによって私の運命は大きく変わった。

インドネシアの大学で日本社会について少し学んではいたが、広島での留学中に多くのカルチャーショックを受けた。開発途上国の多くの人々と同様、私は非常にダイナミックな異文化の社会にすぐに適応することができなかった。私は適応力が低いうえ、自己管理もできず、優先順位を上手く決定する能力も乏しいという事を思い知った。それはとても悲しいことだった。

私がキャンパス内にある今永先生の研究室にお邪魔した際、大学教授として多忙であるのにも拘らず、たとえ約束していなくても先生はいつも温かく笑顔で歓迎してくださった。先生は開発途上国の人の心や行動などをよく理解されていたので、私をそのように優しく受け入れて、支援してくださったのだと思う。豊かで寛容な心を持つ先生に対する感謝の気持ちは言葉にできない。先生の心は太平洋よりも深く広いと思う。

先生はいつも落ち着いた表情で話し、相手が言うことをよく聞いていた。先生は著名な研究者であるにも拘らず、「実るほど頭を垂れる稲穂かな」の如く、自分の偉大さを示すことは決してなく、とても謙虚だった。小柄である先生と話していると、私は自分のことが更に小さく感じたものである。先生の研究者としての功績はもちろんのこと、その人間性は富士山より遥かに高くそびえているような気がする。私にとって今永先生は、正に尊敬する日本人である。

—————————–

今永清二(いまなが せいじ、1931年3月17日[1] – )は、日本の東洋史学者、広島大学名誉教授。大分県生まれ。広島大学卒。1974年「中国回教社会史研究序説」で広島大学文学博士。別府大学助教授、広島大学文学部助教授、教授、1994年定年退官、名誉教授、広島市立大学教授、県立広島女子大学学長。2004年退任。2007年秋瑞宝中綬章叙勲。

著書

  • 『中国回教史序説 その社会史的研究』弘文堂 1966
  • 『中国の農民社会 その風土と歴史』弘文堂新社 1968
  • 『近代中国革命史 目覚めゆく農民』弘文堂 1970
  • 『中国の社会と歴史』明玄書房 1970
  • 『福沢諭吉の思想形成』勁草書房 1979
  • 『東方のイスラム』風響社 1992
  • 『アジアの社会と地域』勁草書房1994
  • Islam in Southeast Asia, Keisuisha, 2000

提供:https://ja.wikipedia.org/wiki/今永清二

seiji imanaga

ARIF KATANYA MELEMBING JIWA

Bersua lagi akhirnya dengan teman lama, Yul A., secara imajiner di Kota Padang di akhir kemarau yang panjang. Berkelebat-kelebat cepat bayang-bayang lama memenuhi kepala setentang kami masih sama-sama menimbu ilmu di masa lalu, di mana makan minum dia sehari-hari tidaklah bisa dikata cukup. Sekarang dia sudah menjadi orang yang terpandang, berusaha keras melabrak aral melintang, berkayuh sungguh-sungguh dalam samudra kehidupan, menerjang gelombang yang menghadang.

Masih bagai dulu jua ia, hidup sederhana berpakaian seadanya. Diparkirnya sepeda tua di bawah pokok mangga dan kami mengopi di warung sudut jalan yang sepi. Masih bagai dulu jua ia, kecil pendek seperti Habibie, sesama ilmuwan yang merampung program doktornya di luar negeri. Kalau Habibie menggadaikan kehormatannya lewat perselingkuhan dengan rezim Suharto yang bergelimang darah, teman ini berkiprah membangun daerah.

“Kenapa gelar doktornya tidak dicantumkan?” tanyaku saat menengok kartu nama yang disodorkannya.

“Tak ada artinya. Kalaupun berarti, kecemerlangan gelar itu hanya terbatas pada hari kita sukses meraihnya, buah jerih payah kesungguhan. Selepas itu, hampa belaka adanya, lantaran ianya tak akan memberi nilai apa-apa pada karya atau budi pekerti kita.”

“Oh, ya?”

“Apakah orang Jepang mencantumkan gelar doktor di kartu nama?” tanyanya balik.

“Banyak kuterima kartu nama bertuliskan huruf Jepang dari orang Jepang, tapi tak satu pun yang mencantumkan gelar doktornya.”

“Agaknya mereka juga beranggap bahwa nilai hidupnya tak ditentukan oleh gelar semu itu.”

“Ya, menyombong-nyombongkan diri atau membangga-banggakan pendidikan tinggi adalah sikap murahan di negeri sakura dan dipandang sebagai sepeda reot yang sudah berkarat,” tanggapku, “Bagaimana menurutmu tentang gelar haji?”

“Kalau merendahkan diri dipandang sebagai sikap yang terpuji, mestinya gelar haji itu tidak akan pernah ada di kartu nama.”

“Oh, ya?” tanggapku mengernyit dahi.

“Ya. Di masa lalu yang berhaji adalah yang beruang, berpengaruh dalam masyarakat, sehingga dianggap berbahaya oleh Pemerintah Hindia Belanda. Jadi, sejak 1911 ada kewajiban mencantumkan gelar haji di depan nama yang bersangkutan agar gampang diawasi.”

“Kalau begitu, aturan Hindia Belanda itu terus diwarisi sampai sekarang?”

“Ya. Gelar haji hanya ada di Asia Tenggara, seperti di Indonesia dan Malaysia. Ulama salafy sendiri mengkritik penyematan gelar itu sebagai perbuatan riya, yang tidak pernah disandang oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.”

“Riya itu merujuk pada perilaku kesenangan beroleh pujian, sesuatu yang tercela, ya?” tanggapku.

“Betul. Gelar keagamaan dan sains itu menyesatkan, hanya dibutuhkan oleh orang yang terobsesi pamer-pamer diri untuk menunjukkan statusnya. Gelar itu hanya hampa kosong belaka, tak bernilai sama sekali, tak lebih dari bekas kepompong yang tak berisi.”

Seperti yang sudah-sudah pula, teman yang satu ini tegas bersikap dan selalu bersandar diri pada hal-hal yang rasional, yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara kasat mata. Kusadari lagi betapa pemikirannya bening bagai tiga dimensi dan menolak hal-hal yang tidak masuk akal. Pula, rasa toleransinya yang tinggi melompati pagar-pagar agama yang dia yakini, seperti filsuf Voltaire yang memandang diskusi agama sebagai kebertele-telean yang nihil belaka dan sebaliknya aktif memperjuangkan masalah kemanusiaan yang lebih utama.

Terus kami berceloteh ria dalam petang, santai menapaki halaman kenangan masa silam yang lama terpendam, saling berlepas cerita yang sudah menumpuk dalam kepala. Boleh jadi lelaki kecil ini tersungkur bila dilepur ayam jago yang lagi birahi, tetapi tulang punggungnya selalu lurus, raut wajahnya selalu kudus berbunga lotus. Kalau ditakdir sebagai pengkhotbah agama, lebih cocok dia menjadi seorang biksu agama Buddha yang selalu berwajah teduh, tenang bicara perlahan kepada pemeluknya, dan bukannya berwajah liar berteriak-teriak sangar dari atas mimbar.

Ya, kagumku padanya tidak pernah menipis, orang yang berhati seluas langit, sedalam lautan, berupa gambaran utuh dari sifat manusia yang mendekati kesempurnaan. Beda amat dengan diriku yang berjiwa dan berpengetahuan ke langit tak sampai ke bumi tak nyata.

“Semasa masih sama-sama menghirup udara di kota ini, pemikiranmu banyak memperkaya wawasanku, Yul!,” jujurku, “Terkadang dadaku penuh terisi keirian akan kedalaman daya nalarmu, ketinggian daya tangkapmu.”

“Aku hanya orang yang biasa-biasa saja. Yang kupunya hanyalah rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Saat kita hilang rasa ingin tahu dan berhenti bertanya, saat itu kita sudah menjadi renta.”

Ujarnya selalu jelas segar, berprinsip tegar, berjiwa besar. Bagaimanapun juga sikap ilmu padi yang disandangnya, kian berisi kian merunduk, melahirkan decak kagum yang tulus di mulut orang banyak. Petuahnya senantiasa menyemangati, meneduhi, sekaligus memakuk sikap hidupku yang dulu cenderung tak terkendali, bernaluri primitif hewan yang belum termurnikan.

“Terkadang gagal aku, kendati sudah ikuti pandanganmu sungguh-sungguh,” curhatku.

“Oh, ya?”

“Halnya pengulangan, seperti yang sering kamu utarakan, sebagai inti pembelajaran dapat kupahami. Kadangkala untuk ingat satu kata bahasa Inggris, kutulis berulang kali di secarik kertas, tapi tak jua bisa di otak membekas.”

“Berapa helai kertas kau habiskan untuk tulis kata bahasa Inggris yang sama?”

“Terkadang sampai 2 halaman.”

Nanap aku ditatapnya, “Kalau begitu tulis kata yang sama dua kali lipat, tulis di 4 halaman. Kalau belum jua ingat, tulis dua kali lipat lagi, di 8 halaman. Begitu seterusnya.”

Ucapnya bikinku terdiam. Bergumam aku dalam hati, betapa susahnya bersitekun melakukan sesuatu berulang kali, tanpa kehadiran rasa bosan yang meliliti.

“Tapi …,” cetusku hampir tak kedengaran.

“Tak ada tapi-tapinya, Edi! Kalau mau berdiri kuat dalam persaingan hidup yang pekat ini, jangan pernah patah semangat!” hardiknya, “Citra kehidupan mesti dibangun atas keceriaan, bukan kemurungan. Percaya diri yang berlanjut dalam hidup bakal melipatgandakan kekuatan.”

Sungguh beku aku tak berkutik mendengar suaranya menggelegar, bagai petir menyambar, bagai palu raksasa menghantam jiwaku yang guyah, bagai ribuan anak panah yang dilepas dari segala arah.

“Semangat rapuhmu sedari dulu bagai sehelai daun kerontang musim kemarau, keropos, yang segera saja lumat digilas musim hujan. Sebagai lelaki, daripada beriba-iba kuyu dan bermelas-melas begitu, akan lebih terhormat bagimu menjadi kambing saja. Dasar cengeng!” gelegarnya lagi.

Kebenaran ucapnya di ujung lidah. Aku mati kutu, lidahku kaku, bungkam membisu. Benar-benar aku bagai seonggok jubah usang yang terbuang. Ngeri menyelimuti hati, kecut nyali bagai bergelantung di lambung pesawat terbang yang melaju di landasan pacu. Sontak amarahnya lebih menyentak kesadaran, betapa buruknya sifat cengeng ini, dan mestilah kuberpikir positif lagi permisif.

“Sebagai sobat karib merasa berposisi kusampai pandang padamu,” tuturnya lagi bersuara tenang sembari ke arah lain lurus memandang, “Marah kamu, ya, calon kambing?”

Menggelengku bagai kerbau, berucap garau, “Tidak. Malah berterima kasih aku atas nasihatmu. Memang aku mesti terus berupaya bagaimana bikin jiwa ini tak berongga-rongga.”

Sejenak kemudian suasana tegang meleleh dan mulailah kami mengoceh, gelak tawa lagi terkekeh-kekeh, setentang perjalanan hidup yang sudah ditoreh. Pula, seputar teman-teman yang berhasil buka warung di pinggir jalan dan yang menjadi petani, yang senantiasa mengguna nalar dalam menakar. Pula, seputar teman-teman yang berhasil menjadi dosen dan pejabat negara, yang benaknya belum jua mampu membeda mana yang rasional dan mana yang irasional, sembari terus bersuka ria menyikut kaum minoritas secara kurang waras.

Di rembang petang kami melepas pantat yang lama terpaku di bangku, berjabat tangan erat-erat berangkulan dalam aroma persahabatan yang lebih terkebat. Berlalu dia mengayuh sepeda bututnya yang terus kuperhatikan. Dari kejauhan dilambaikannya tangan ke arahku lagi menjelang mhilang di bengkolan musim kemarau yang mendesau.

Lebih kusadari akan semangat hidupku yang sangatlah kuyu, bila dibanding dengannya; ia yang habis-habisan belajar tekun, enggan dibantu oleh siapa pun; ia yang selalu menempa diri, untuk bisa berdikari tanpa entri “cengeng” dalam kamus hidupnya yang terpuji. Arif katanya sungguh melembing jiwa lemah guyah ini, yang sering kali minta dibelaskasihani.

Tiba-tiba wujudku berubah menjadi lelaki Jepang yang bertubuh pendek sebelum Perang Dunia Kedua. Bahkan lebih pendek daripada temanku yang sudah lenyap dari pelupuk mata. Perlahan kubungkukkan badan dalam-dalam ke arah bengkolan jalan, tempatnya menghilang, sebagai tanda hormat tulusku padanya, yang tak akan pernah lekang.

WARNA PETANG DI DUSUN ITU

Lengang dusunku merangkak menjelang petang bersebab orang-orang mengakas di sawah atau di ladang, memupuk bulir-bulir kehidupan yang akan mereka rangkum pada musim yang akan menjelang. Terkadang seorang tani dari dusun lain terpandang memanggul gabah melintasi jalan tanah di depan rumah. Lenguh sapi yang kian menjauh, kesunyian yang kian merengkuh, dikawal pohon-pohon peneduh yang saling menyentuh melingkari dusun secara utuh.

Hanya sesekali burung kutilang berkicau di pokok mangga mewarnai angin sepoi yang bertiup menyusupi rumah-rumah kayu yang teduh kelabu. Nyanyian merdu alami yang dilagu setiap waktu menghibur semua makhluk berlaku. Bunyi kasar dari mesin, yang berderik-derik dari peradaban liar modern yang gelisah, gagal menjamah kehidupan dusun yang ramah. Barisan zombi-zombi yang sakit hati, lantaran senjang ekonomi, tidak hadir dalam masyarakat yang mengedepankan gairah kekerabatan yang membulat.

Ujung petang berawal memanggil anak-anak balik pulang selepas membantu ayah emaknya bertani, penyambung nasib dari hari ke hari. Semerbak huma membiasi wajah legam mereka yang tersaput kasih mentari; sebait gambaran estetis dari seruling kehidupan yang ditiup dalam kehangatan udara tropis. Ayah biasanya hanya bercelana saja, tanpa baju; anak-anak biasanya tidak bercelana, tanpa baju; duanya-duanya berkaki ayam, sembari mengepit topi pandan, menggosok-gosokkan kaki bertanah di tangga rumah, dan menyimpan cangkul yang akan dipanggul ke sawah lagi esok hari.

“Kasih ubi jalar ini ke emakmu.”

“Ya, Ayah!”

“Kacang panjang ini setengah buat Mak Tuo.”

“Ya.”

Emak dan anak perempuan menapaki dusun lebih cepat untuk menyiap hidangan yang hendak disaji malam hari. Dusun yang bungkam dalam gemingnya mulai menggeliat mengepul asap, yang membubung tinggi putih, mengiringi tawa ceria anak-anak yang diasuhnya penuh kasih. Warna aroma petang kian mengeras bagai setanggi yang mengambang di udara bercahaya emas kencana.

Sekelumit rutinitas petang hari dimulai lagi. Satu per satu anak-anak, dalam waktu yang terserak-serak, datang berkumpul tak serempak, mencecah pantat sekenanya di atas tanah atau di atas batu gombak, berkisah ke sana ke mari menumpah apa yang melintasi benak, sembari sekali-sekali menanggalkan lumpur yang masih melekati muka, tangan, atau kaki. Cerita kehidupan kota tidak pernah ada karena tidak pernah tiba, jadi naluri tidak pernah puas adalah sesuatu yang asing bagi kami, yang sudah bahagia dengan segala yang ada.

“Sudah menguning padiku.”

“Oh, ya?”

“Burung mulai melakukan patroli di atasnya.”

“Oh, ya?”

“Terkadang aku dan ayahku menakut-nakuti mereka.”

“Oh, ya?”

“Terkadang tanah keras dari ketapelku melayang menuju mereka, yang hinggap di pohon nangka.”

“Kasihan mereka.”

“Lebih kasihan padiku.”

Begitulah, kami berbincang-bincang duduk mencangkung sembari menggubah masa depan sebagai petani yang senang hati menyulami hari-hari dengan bercocok tanam dalam asuhan kodrat alam. Yang satu tidak melebihi yang lain, berpakaian compang-camping, tetapi mempunyai makanan yang lebih baik daripada kambing. Kami tidak tahu apa-apa tentang hidup di kota. Yang kami tahu hanyalah tikus sesungguhnya di sawah, bukan tikus kota yang konon kabarnya dipanggil politikus yang disunat, tetapi doyan menyunat pajak rakyat.

Ada semacam UUD tak tertulis di antara kami untuk menanti rekan lain yang belum balik dari ladang atau sawah, sebelum menapak kaki bersama-sama ke tepian mandi.

“Kenapa belum juga nongol si Kalonok?” tanya Irin.

“Lambat benar dia balik,” tanggap Ayen.

“Ke mana dia, ya?” tanya Irin lagi.

“Entahlah,” celetuk Undin.

“Sudah habis diterkam harimau barangkali,” putus Cilik.

Namun, konsep pengiyaan atas bayangan itu tidak pernah terlintas dalam benak kami. Semua orang tanpa terkecuali, termasuk si bisu Ngeak barangkali, sudah paham betul kalau Kalonok itu mustahil bisa dikerkah oleh taring harimau yang tertajam sekali pun. Badannya yang gempal dengan jangat alot kelam seperti karet ban traktor itu akan bikin gigi harimau rumpang niscaya bila memaksa diri mengerkahnya.

Kalonok yang berjangat kenyal adalah sosok yang pendiam saja, melontarkan kesan lugu saja, hanya berucap hal yang penting-penting saja, dan banyakan menyimak-nyimak saja. Nampaknya lebih suka dia memanfaat energi untuk memikir ulang apa yang dilihat, didengar, dan dirasa secara mendalam daripada mengumbar-umbar isi kepala beraneka ragam secara tak beraturan. Memang diam hampa kelihatannya, tetapi dalamnya berwarna emas dan penuh jawaban.

Walau terjadi debat di antara kami hebat menggila, dia bersama si bisu Ngeak melongo saja dengan mulut sedikit ternganga, sepertinya tidak paham akan apa yang kami ributkan tanpa reda. Di antara keduanya, jelas yang paling netral adalah Ngeak, yang telinganya tak bisa mendengar apa-apa, tak mampu menangkap apa-apa yang diperkara.

Pernah suatu petang, saat kami terpecah menjadi dua kubu silang pendapat yang lekang, yang menunjang dan yang menentang, semua mengalih pandang pada Kalonok dan minta dia berpihak secara mencolok. Agaknya dia merasa terpojok, bagai kodok yang tergembok. Menyadari semua mata mengarah ke wajahnya, menunduk bungkam perlahan dia, mencorat-coret sesuatu di atas tanah dengan telunjuk kasarnya. Kami menurunkan muka memelototi telunjuknya, memperhatikan dengan saksama apa yang digores-goresnya yang mungkin berupa jawab atas apa yang diperkara, tetapi tak satu pun yang paham garis-garis cakar ayam itu.

“Oek …!” tiba-tiba suara muntahnya keras amat mengejutkan kami, tapi tiada sejumput pun cairan yang keluar dari lambungnya.

“Topan badai! Bikin kaget saja!” makiku dalam hati.

Suara muntah itu luar biasa, betul-betul mengerikan, yang kedengaran bagai suara Saripado (kepala suku kami) yang lagi mengeluarkan kecoak yang tersangkut di kerongkongannya. Burung-burung terpukau, bersuara parau, akhirnya berhenti berkicau. Sunyi merayapi, sepi memaguti, suasana yang mati.

Seolah-olah tidak berbuat dosa apa pun, yang sudah bikin kami kaget setengah mati, dia mengangkat kepala, membuang pandang menembusi semak belukar petang yang bergoyang-goyang digerayang angin yang menjelang. Semua mata mengarah pula ke mana wajahnya berkiblat menjelajah, sebagai sarana dengan apa kalbu tidak mengkhianati rasa ingin tahu.

Tak lama berselang dia menjatuh wajah ke tanah lagi, yang kami ikuti bersama-sama lagi. Mendehem mereguk ludah memperbaiki pita suara sekali, bagai berbisik kepada diri sendiri, perlahan dia berbunyi, “Itu adalah soal ruang dan ruas yang tidak bisa diselesai dengan satu jawab yang tegas. Pengiyaan atau pengingkaran tidak memiliki keabsahan batas yang jelas, sehingga pemaksaan paham akan menghilangkan ketegasan, mencair menjadi air, dan akhirnya terlihat sebagai kerangka pikir yang anyir.”

Bungkam kami bergeming mendengar fatwanya yang bagai hening denting yang terbanting di atas kening. Tiada yang buka mulut, tidak paham sama sekali akan apa yang disampaikannya. Diam seribu bahasa merupakan suatu keharusan wajar, guna dipandang sebagai orang pintar, bahwasanya kami sungguh memahami pernyataan singkat padat setentang falsafah hidup, yang mengandung makna kebenaran mendalam, yang dia tuturkan.

Tiada pernah terbetik berita sampai ke telinga kami setentang harimau yang menerkam manusia di dusun yang terapit rimba belantara. Tapi, manakala gelap mulai genap memaguti dusun, bayangan kucing besar itu dengan taring-taring tajam buasnya selalu saja melintasi benak yang mendalangi nyali dan burung kecil kami menjadi sebesar lidi. Menyeret langkah keluar rumah pada malam hari, di saat harimau mencari nafkah, merupakan laku yang salah kaprah bagi anak-anak yang masih setampung pinang berdarah. Jadi, jangat hitam kami yang berdaki mestilah diluruh di sungai cepat-cepat sebelum sayap-sayap gelap memerangkap dusun kami yang senyap.

Kendati menunggu rekan balik merupakan UUD tak tertulis, pelanggaran bisa ditolerir apabila yang dinanti-nanti tak jua menampakkan wajah tatkala sesaat lagi matahari bakal bersembunyi di balik bukit galaksi. Terang masih saja, tapi jangkauannya akan memendekkan waktu bagi kami untuk meluruh daki dan pun merampasi waktu bermain di tepian mandi. Saat naluri melangkahkan kaki ke tempat mandi menjadi-jadi, muncul batang hidung Kalonok dari balik rumah kayunya dan begitu saja merenggut kecemasan kami dalam bayang mentari petang yang jingga.

“Kupikir sudah habis kamu diterkam harimau,” celetuk Cilik.

“Harimau adalah binatang malam, di siang hari tak berkeliaran,” jawab Kalonok kalem.

“Kok lambat amat kamu?” tanya Inai.

“Emakku minta aku memungut kayu api di jalan pulang.”

Tanpa aba-aba, tiap orang mulai beranjak menuju tempat yang kuat memikat, tempat hiburan yang nikmat. Bersebab dusun kami terletak di lereng bukit, makan waktu pula menggapai sungai yang terletak di lembah sana. Bersicepat menapaki jalan setapak kecil, yang bikin gamang dan gampang tergelincir, merupakan sesuatu yang mengasyikkan pula; yang menggetarkan jantung merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak laki-laki seusia kami yang masih dangkal berpikir dan menyelonong saja seperti tapir.

Walau pernah beberapa kali tergelincir menuju lurah yang menganga di bawah, sigap saja tangan kami secara reflektif menggapai batu cecah atau pohon terdekat yang berpelepah dalam semak perdu yang terbelah. Agaknya kemampuan reflektif dalam lingkungan begini berkembang cukup baik sejak semasa dini bagi rakyat yang hidup di dusun.

Jalan setapak ke lembah ini adalah satu-satunya jalan atau urat nadi yang menjembati tempat hunian dan tepian mandi serta bertani. Jelas, bukan jalan bebas hambatan. Sebab, perlu saling melerengkan badan, andai berpapasan dengan yang datang dari arah yang berlawanan, terutama kerbau beroleh kehormatan melewatinya lebih dahulu.

Yang hanya dalam kepala adalah aliran air yang menggamit di kejauhan, menunggu kami dengan air segarnya yang tidak tercemar. Konon kabarnya di kota pun ada aliran sungai dan selokan kotor yang menampung buangan sampah dan impian orang dalam persaingan hidup yang tidak manusiawi.

“Kenapa kamu jadi lambat jalannya?” tanya Ayen kepadaku yang memimpin di depan.

“Ada kotoran sapi di sini,” tanggapku.

“Langkahi saja!” saran Undin.

“Berceceran ciritnya, tidak bisa sekali langkah.”

“Gilas saja!” perintah Cilik.

“Emangnya aku pedati?”

Sesampai di lembah yang ditandai pohon mangga, mata kami diserbu oleh panorama yang indah memesona, hamparan sawah beda ukuran yang menjembatani kaki bukit dan sungai, sesuatu yang tidak akan ditemui di mana pun di dunia dan mungkin pula di sorga. Pemandangan yang tersulam angin sepoi merayap riak sunyi ditemani capung-capung yang mengembang sayap di petang yang senyap.

Berpapasan kami dengan selelaki yang memanggul cangkul di bahu, menjinjing sebongkah ubi kayu, dusun punggung bukit yang dituju. Dia famili kami yang pula menyandar hidup dengan bertani. Ya, bertani adalah satu-satunya kerja yang tersedia di sini dan swasembada pangan yang penuh membebaskan diri dari kecemasan akan dipecat oleh atasan di kota apabila bermalas-malasan.

“Dari sawah, Paman?”

“Ya. Kalian mau ke sungai?”

“Ya, Paman.”

“Tadi kulihat rusa di seberang sungai itu.”

“Oh, ya?”

“Waktu lihat aku, lari dia cepat-cepat masuk rimba.”

Selepas melenggang kami melenggok menelusuri jalan setapak yang berbelok-belok, di samping kiri terdapatlah pincuran terapit pohon pinang yang selalu mengalirkan air bersih sepanjang tahun, tempat untuk mandi dan sekaligus sumber air untuk memasak bagi seluruh isi dusun. Hak guna perigi sepenuhnya berada di telapak tangan wanita, tetapi pria masih diperkenankan memakai seandainya tidak ada bayang makhluk itu hadir di sana.

Adalah tindakan arif meninggalkan pincuran segera sesudah terlihat wanita datang mendekat dari arah tebing atau dari sawah di sekeliling, sebelum petir menggelegar dari mulutnya agar berkirap cepat dari sana. Pelajaran penting bagi lelaki yang diperoleh sewaktu kecil adalah terkadang perempuan lebih menakutkan daripada harimau.

Perigi ini agak menjorok ke dalam tebing dan tidak akan tampak orang yang mandi dari arah jalan setapak. Andai ada wanita yang berdiri dekat perigi, berarti ada yang lagi mandi sehingga lelaki diharamkan melewati. Saat begini, yang bisa dilaku adalah menunggu di kejauhan hingga ada isyarat izin dari sang penguasa akan bolehnya melintasi teritori mereka. Jadi, lelaki perlu menyelaras diri pada aturan baku yang sudah terbentuk sedari dulu; boleh jadi aturan baku ini adalah hasil musyawarah kongkalingkong di antara kaum hawa saja yang membuktikan mereka adalah makhluk yang superior daripada pejantan.

Setumpak sawah yang menghijau daun menerus jalan ke parit kecil, tempat bermukimnya ikan lele dan sebangsanya yang sering menyangkut di pancingan kami. Melangkahi dasar parit untuk menyeberang adalah cara yang lugas, tetapi meminggir ke samping kanan, menjauh berancang-ancang, berlari sehabis daya, dan melompat tinggi di atasnya adalah cara yang taat azas, sesuai dengan tuntutan jiwa anak laki-laki yang penuh vitalitas. Yang belum punya kiat bernas lepas landas tidak bakalan sampai ke seberang, melenjit sungsang, tersangkut morat-marit, menyelongsor badan ke dalam parit, dan terpaksa bergerak menuju tempat yang aman untuk diseberangi. Suatu hiburan alami yang mengundang gelak tawa semuanya.

“Bodoh amat kamu melompat!” sindir Undin.

“Tergelincir aku waktu berlari,” dalihku.

Dalih yang bagus sekali untuk mengusir rasa malu dan menyelamatkan muka akan diri yang tak mampu. Sifat berdalih begini, demi menutupi kekurangan atau kelemahan sewaktu kecil, menjadi benih negatif yang terpupuk dalam jiwa manusia dewasa yang lapuk.

Serat-serat mentari petang sudah mulai berwarna jingga sekali tatkala kami mulai menapaki pematang sawah luas yang menuju tepian mandi. Di atas dusun hijau kami, di sebelah timur yang jauh, terpandang sejumput awan putih bersih mengapung kesepian diam di kubah angkasa terancam warna jingga yang ditebari sang mentari. Ada noktah tipis kecil berkilat redup melayang pelahan bagai akan membelah bungkahan awan itu, yang membuat mata kami sejeank tatap memaku.

“Pesawat terbang, ya?”

“Pasti terbangnya ke Padang.”

“Padang di sebelah kanan, jadi pasti ke Amerika.”

“Memangnya tidak gamang orang naik pesawat terbang?”

“Pasti gamang semuanya, pucat muka seperti mayat.”

“Tak ada jalan di langit. Jadi, tak akan kuat aku menaikinya.”

“Naik mobil saja belum kita, konon lah pula naik pesawat terbang.”

“Ya, betul.”

Semua lantas diam membisu menikmati pesawat terbang yang kian jauh kecil melaju, suatu tontonan yang jarang sekali bisa menjamu mata dalam setahun. Akhirnya noktah putih itu mengecil dan mengecil hingga akhirnya lenyap ditelan langit yang melebur impian. Begitu saja kami membalik badan dan lagi mengayun tungkai menelusuri sawah yang padinya sudah dipanen beberapa waktu yang lalu.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras mengejutkan kami.

Semua menghenti langkah, menirus mata ke arah telunjuk yang diaju-ajukannya. Di samping pematang, di balik batang padi yang sudah disabit, terpandang seekor ular sawah yang cukup besar panjang diam bergelung-gelung menanti mangsa datang menjelang. Ular yang berekor sekitar 4 meter itu (Semua badan ular adalah ekor!) pastilah lagi mengintai kodok, tikus, atau makhluk kecil lain. Keberadaannya sukar disadari lantaran berwarna sawah mirip sekali tanah. Batang tubuh kami mungkin terlalu besar bagi mulutnya dan hanya bakal mendesis saja sebagai peringatan agar tidak terlalu dekat padanya.

Sudah menjadi hukum alam barangkali kalau sesuatu yang dianggap akan menjadi ancaman dalam kehidupan perlu disingkirkan dan kalau perlu dimusnahkan. Bagi kami sendiri yang kelangsungan hidupnya ditopang oleh keberadaan alam sekitar, binatang yang akan mengerkah hewan peliharaan atau diri sendiri dikategorikan sebagai musuh yang perlu dibasmi, paling tidak disuruh berkirap jauh dari dusun kami. Dengan sendirinya dari tangan-tangan kecil kami gumpalan tanah sawah begitu saja beterbangan tanpa rehat ke arah sang ular yang membuatnya merasa terancam, lekas-lekas melarikan diri, dan menghilang dalam semak belukar di samping sungai.

“Wah, ular itu larinya ke sungai!”

“Kita melemparnya dari sini, ya larinya ke sana.”

“Mungkin dinantinya kita di sungai itu.”

“Malahan bagus karena banyak batu di sana yang bisa melayang ke arahnya.”

Pernah suatu kali kami, yang berjiwa tunggang hilang berani mati, antusias sekali memburu seekor ular di belakang rumah berumput yang memaksa sang ular secepat mungkin menjalar lari. Saat jarak memendek, sang ular yang merasa terancam betul nyawanya mendadak berhenti sembari menaikkan kepala menghadap ke arah kami, seakan-akan berucap, “Ayo sini, kalau kalian berani, bocah-bocah liar!” Ini sangat mengagetkan, membuat kami mengerem lari, dan balik lintang pukang melarikan diri. Ternyata sifat bernyali dan berani mati hanya dimodali saat musuh kelihatannya lebih lemah daripada diri sendiri.

Si bisu Ngeak berwajah sumringah. Mungkin senang ia dalam diam lantaran mampu menyadari keberadaan ular itu lebih cepat dari siapa pun dan sekaligus merasa bangga bisa menyumbangkan info yang berharga dalam kekerabatan saudara. Teduh wajahnya membias jiwa para pertapa, yang terbebas dari pengetahuan baru yang tidak perlu, dan hidupnya diisi dalam renung memperkaya batin, yang lepas dari tanya jawab duniawi, yang merusak pesanggrahan hati yang alami. Terpaling niscaya dia dari cerita neraka, yang berkian-kian banyaknya, yang ditakuti oleh manusia yang sonder tegar jiwa.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras lagi mengagetkan kami.

“Ular lagi?” tanyaku dalam hati.

Begitu saja semua langkah terhenti dan mendongak pandang ke arah mana telunjuk yang menjajaki. Di kejauhan di sudut sawah terpandang seekor elang terbang melayang seraya mencengkeram ular di cakar kakinya yang kukuh. Sungguh cengkeram kaki elang itu mampu meremukkan kepala anak kecil sehingga mangsa yang sudah tercengkeram mustahil berlepas diri, segera tak sadarkan diri atau mati suri.

Kami melanjut langkah perlahan sembari terus memandangi sang elang yang menguik terbang, membawa kemenangan akhir hari ini dengan ular di kaki, yang akhirnya menghilang ke dalam rimba lebat di seberang sungai petang.

“Ngeak ini tak mendengar, tapi matanya setajam elang,” celetuk Undin.

“Ya, betul,” tanggap Inai.

“Elang itu bisa memandang jelas sampai tiga kilometer,” jelasku.

“Bagaimana pula kamu tahu? Memangnya ngomong elang itu padamu?” tanya Siih.

“Tidak. Kalonok yang bilang begitu,” jawabku.

Semua mata memelototi Kalonok, minta pembenaran. Namun, yang dipelototi hanya diam dan memandang lurus saja ke dalam petang, sebagai pertanda apa yang dikata bisa dipegang.

“Mungkin Ngeak ini keturunan elang,” imbuh Irin.

“Betul kamu keturunan elang?” tanya Ayen, memutar kepala ke arah Ngeak.

“Sudah jelas tak mendengar dia, kok tanya juga? Bodoh amat kamu ini,” cetus Cilik seolah-olah mewakili Ngeak untuk menanggap.

Seperti biasa Ngeak tidak ambil pusing akan apa yang meluncur dari mulut-mulut kami, yang tidak mencapai pendengarannya; mulut-mulut yang belum mencapai kedalaman hari, mulut-mulut yang sering asal bunyi tanpa arti. Seperti biasa pula sikapnya tenang lagi berwajah lempang. Senantiasa dia merasa sukacita menengok orang lain berbahagia, merasa gundah menengok orang lain susah. Dia sangat perasa dan bertoleransi tinggi, mudah tersenyum saat orang ceria, gampang menitik air mata saat orang dirundung duka.

Saking perasanya, diimbangi daya pendengaran maya yang luar biasa, konon kabarnya di tengah-tengah prahara badai pun mampu telinganya menangkap bunyi tapak kaki kucing, yang anggun melangkah di dusun lain. Konon pula kabarnya hidungnya dapat mencium bau malaikat maut yang lagi berjalan selangkah menghadap surut dan mematut-matut nyawa yang hendak dicabut.

Saat tiba di tepian mandi, awas-awas mata kami meneliti setiap jengkal tanah di sekeliling kalau-kalau ular besar yang diburu tadi memang sedang mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balasan yang mematikan. Tetapi, kekhawatiran itu tidaklah berasalan lantaran sosoknya sama sekali tidak kelihatan. Yang ada hanyalah alunan sungai bening yang sesekali ditingkahi siulan merdu burung petang yang menyanyi untuk kami dan bumi.

Barang siapa yang duluan mencapai sungai, beroleh hak pertama untuk menduduki batu besar yang terdekat. Yang lain berlompatan dari batu ke batu mencari tempat yang cocok baginya untuk meluruhkan celana di bawah kubah cakrawala.

Selepas menelanjangi diri sendiri, melompatlah kami ke dalam sungai melenting, renang berkeliling, dan selam menungging. Bunyi kecipak-kecipung, suara yang membahana bergaung-gaung di bawah langit lembayung. Lantas, sekedarnya menggosok-gosok tubuh kumuh yang berlumpur kering untuk dikembalikan ke haribaan bumi. Lelah kerja menolong orang tua di tanah tani hari ini luruh dan hanyut bersama air ke hilir. Setiap orang mengangakan mulut lebar-lebar, ke arah hulu sungai, menyambut air segar yang akan mengaliri kerongkongan yang perlu dibasahi.

“Air sungai ini selalu menyegar jiwa raga,” ungkap Cilik.

“Pada sangkaku akan hujan lebat hari ini,” ucapku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik minta kepastian.

“Angin membadai semalam berderai-derai,” imbuhku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik, bersuara yang menderas.

“Pagi tadi langit cerah. Memang, gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas,” tambahku.

“Aku bilang air laut asin, ya? Jadi, bukan gabak bapakmu, bukan cewang moyangmu,” memburangsang Cilik kesal.

“Ya. Kasihan orang pantai yang mustahil mereguk air laut yang asin itu,” sela Undin menengahi.

“Di sini kita bisa minum air sungai sepuas hati.”

“Ngomong-ngomong, tahu tidak kenapa air laut asin?” tanya Inai, sekonyong-konyong.

“Karena mengandung garam,” jawab Kalonok.

“Itu betul. Tapi, juga lantaran semua makhluk hidup, tanpa terkecuali, buang kencing di atas bumi, yang mengasinkan air laut,” jelas Undin serius.

“Bidadari yang terkencing dari atas langit juga bikin air laut itu lebih asin,” sela Irin.

“Mungkin juga.”

“Katanya ada kolam renang di kota. Orang-orang juga terkencing di dalamnya?”

“Entahlah. Barangkali manusia yang berhati mutiara tak akan terkencing di sana. Tapi ke dalam sungai, ke dalam laut, kita bebas menyumbang air garam,” tambah Ayen.

“Tiada yang bisa menjamin kalau di kota gadis-gadis yang berwajah manis dan ibu-ibu yang berwajah labu tak terkencing dalam kolam renang.”

“Tanya langsung pada gadis kota.”

“Kirim Si Edi ke kota, suruh dia bertanya,” anjur Siih.

“Jangan suruh Edi. Gadis kota akan menonjok muka buruknya, mencabik-cabik tubuhnya, dan menyantap jantungnya,” gelak Undin yang diikuti secara berjamaah oleh yang lain.

Hanya tersenyum pahit kusimak guyonan kawan selapik seketiduran itu yang merendahkan tampang kapalanku.

Kuturunkan leher setentang air, memicing mata menikmati semilir aliran segar yang berganti-ganti menerpa tubuh bugilku yang menentang langit ungu. Sejuknya air yang bening mengalir tanpa henti melahir sonata alami, bagai alunan nada ninabobok meneduh hati, yang dinyanyi bunda menidurkan sang bayi. Merenung kusendiri dalam heran setentang gadis-gadis di dusunku dan di dusun lain yang lebih senang mandi di pincuran dan bukannya di sungai yang luas lapang.

Tapi, tunggu dulu! Andai gadis-gadis itu senang pula mandi di sini, dengan sendirinya hak guna sungai, dari hulu sampai hilir, akan berada di telapak tangan mereka, bersenang ria kaum Hawa itu sampai senjakala, sehingga pria mesti mengurut dada dan terpaksa mandi di pincuran saja. Ini adalah malapetaka besar bagi kami! Syukurlah, makhluk berwajah teduh, yang terkadang berhati harimau itu, tidak berminat menjajah wilayah sungai, tempat kami bisa bebas tertawa berderai-derai, tempat perangai liar kami bisa terurai.

Perangai liar itu terurai anggun, menjadi santun, namun sejenak saja, dan menyatu lagi bagai serpihan-serpihan pawana yang bergabung melahirkan prahara. Sejuknya air memang tidak pernah sepenuhnya mampu menundukkan jiwa-jiwa liar anak lelaki yang bersumber dari naluri primitif yang merenangi denyut nadinya.

Irin, yang sudah memanjat pohon di tebing sungai dan menggantung di akarnya, tiba-tiba mengayun sembari berteriak “Yahoo!” bagai Tarzan dan melepas badan mencebur memecah sungai, menciptrat air bercerai-berai semua dikenai, gelak berderai-derai. Boleh jadi perusahaan raksasa search engine “Yahoo!” di internet mencuri teriakannya dan menamai perusahaan yang terkenal itu.

Memerciki rekan dengan air, sampai yang bersangkutan lari menjauh kocar-kacir, suatu kesenangan yang di perigi mata air tidak mungkin dilangsir. Atau, menyelam dalam-dalam dan membetot ke bawah kaki teman. Terkadang diam-diam seseorang naik ke sawah dan membopong segumpal lumpur yang akan ditaruh di atas kepala teman dari belakang sebagai mahkota yang menggelimpang. Tak jarang pula beramai-ramai kami melumuri badan sendiri dengan lumpur sawah, menaiki batu besar, berpura-pura bagai orang gila, berteriak-teriak bagai orang utan, dan menukik lagi ke kedalaman sungai menyelam.

“Ini topiku!” teriak Undin sembari menunjuk batoknya yang diadoni lumpur.

“Itu bukan topi, tapi jengger ayam.”

“Jengger ayam berwarna merah.”

“Kamu berjengger ayam yang lagi sakit.”

Dari hulu sungai terpandang seseorang yang berjalan ke arah kami, menelusuri sungai di tepi. Coraknya berjalan, menenteng ikan di tangan, segera saja jelas menganyam kesan bahwa dia adalah Uda Batar yang piawai sekali menangkap ikan di hulu sungai; suatu hobi selepas melaku gawe tekun di sawah atau di kebun.

Selalu dia bergerak pada dimensi beda dengan kami. Sedang kami memancing ikan atau belut di wilayah yang masih selingkar dusun bersama-sama, dia lebih suka dan bernyali besar menerobosi hutan belantara sendirian menuju lubuk-lubuk ikan yang jauh, yang susah dijamah orang, tanpa saingan, sehingga wajar saja dia beroleh ikan yang banyak dan besar-besar. Seperti kami yang berkaki ayam, telapak kaki tebalnya mengeras yang sesuai dengan lingkungan alam yang keras, yang diperlu guna mendaki menuruni bukit tanah berbatu yang terjal, merambah hutan duri belukar yang berpangkal.

“Banyak dapat ikan, Uda Batar?” sapa Ilam.

“Lumayan. Tadi waktu mancing, beruang kulihat di seberang sungai.”

“Dikejarnya Uda?”

“Tidak. Aku melihatnya, dia melihatku. Lantas, aku terus mancing, dia terus menyantapi daun-daunan.”

“Hm,” gumam kami.

“Dia tak akan mengganggu selagi tidak diganggu.”

“Hm,” gumam kami lagi.

“Biasanya binatang buas itu segera menjauh kalau tahu manusia mendekat ke dia.”

“Hm,” gumam kami lagi, seirama lagi.

Memang belum pernah masuk telinga kami hal ihwal binatang buas yang menyerang orang. Namun, gerangan apa yang menghela mereka menjauhi manusia, sebagaimana ungkapan yang ditinggalkan Uda Batar? Suatu risalah sebab-akibat yang segera menjadi buah bibir di antara kami yang masih anyir. Jawab atas pertanyaan ini dibawa oleh Uda Batar, yang sudah melangkah jauh, lantaran kami yang telmi (telat mikir) ini terlambat mengaju tanya padanya.

“Barangkali beruang dan harimau itu ngeri melihat wajah manusia, jadi mereka menjauh dari kita,”

“Mungkin mereka merasa punya derajat yang lebih tinggi, jadi tidak mau dekat-dekat pada kita,”

“Boleh jadi manusia itu berbau busuk yang menyengat hidungnya,”

Dalam anggapan yang beragam-ragam ini, Kalonok yang pendiam menjadi sandaran utama, pergi tempat bertanya pulang tempat berberita. Sekeliling kami pandangi, tetapi batang tubuh kalonok yang berdegap itu tidak kelihatan, menguap menyatu dengan awan.

“Ke mana perginya?” tanya Siih.

“Mungkin sudah ditelan ular dia,” sela Cilik.

“Barusan masih kulihat berenang-renang dia di sana,” tutur Ayen.

Setiap mata menyigi aliran air kalau-kalau dia hanyut, kalau-kalau batang tubuhnya tersangkut. Tetapi, mustahil perenang tangguh itu bisa dihanyutkan oleh sungai. Sebab sang sungai pastilah pernah mendengar kisah Sang Yahudi, Nabi Musa, yang konon membelah Laut Merah, dan pula mengenal sungguh akan kekuatan Kalonok yang konon mampu membelah kawah, mengubah aliran air berbalik arah, merekah matahari menjadi jenazah, sehingga sang sungai pasti merasa ngeri sendiri dan akan binasa kalau coba-coba menggulung mempelitukkan tubuh gempalnya.

“Nok …!” teriak Irin memanggil.

Imbau yang tak bersahut. Perasaan risau memicu jantung debar galau bertalu-talu. Lentera petang yang sendu membasahi dinding hati kami yang pilu, bagai tersesat dalam hutan belantara, bingung bagaimana mengusut perkara. Sekeliling senyap, terasa sungguh sekeping daging lenyap, disergap suasana hati yang gelap.

Tak lama berselang terpandang seseorang bertelanjang bulat santai, menyeringai, mencogok dari balik batu besar di hilir sungai. Kalonok! Seperti biasa, bawaannya tenang, tetapi bibir yang melebar menyembul kesan benar bahwa dia baru saja usai buang air besar.

“Buang hajat rupanya dia,” celetuk Undin dengan bahu yang jatuh.

Bayangan buruk akan dirinya lumerlah sudah. Terasa damai di hati, damai di bumi. Hilangnya seorang sobat selapik seketiduran akan sukar tertanggungkan, akan mengacaukan haluan bagi segenap penghidupan; sesuatu yang tidak boleh hadir di dusun dan bahkan dalam mimpi sekali pun.

Begitulah. Kembalinya Kalonok, yang menjadi biang kerok keresahan hati kami, betul-betul membuang bimbang, memanggil dendang sonata petang yang tenang. Bersama-sama kami celupkan tubuh ke dalam sungai lagi hingga permukaan air menyentuh bawah telinga, nafas bersunyi-sunyi menikmati cairan bumi yang mengelus-elus diri. Kubayangkan nyamannya bergelung dalam rahim bunda yang pasti lebih hangat terjaga, beroleh zat hara yang kaya, dibelai suci kasihnya.

“Kaudengar suara itu?” tanya Inai membuyarkan lamunanku.

“Ya,” jawabku sembari lebih menghadap telinga ke rimbun pepohonan dari mana bunyi berasal.

“Kicau burung murai, ya?”

“Ya.”

“Pasti ada yang meninggal.”

“Pasti.”

Sunyi meminimal tenun hiruk pikuk yang menurun atas keyakinan adanya nyawa manusia yang balik ke dalam halimun; suatu pertanda baku dari sang burung murai yang menuntun; suatu isyarat pasti yang diwarisi turun-temurun. Bagai serumpun kami berpikir terayun-ayun, berperasaan tertegun-tegun. Warga dusun kami sendiri dan dusun lain yang berjumlah sedikit menjalani hidup dalam nuansa sehilir semudik, tolong-menolong timbal balik, sehingga senantiasa merasakan duka nestapa mereka yang ditinggal pergi oleh yang tercinta.

“Sanak saudara kita sehat walafiat semua, jadi pasti orang dusun lain yang berpulang,” ucap Irin.

Ya, pesan murai diyakin benar oleh orang sedusunku, juga oleh warga dunia sah yang bermukim di dusun sebelah. Begitulah rasa pilu merasuk kalbu, tatkala sang burung berkicau mendayu, mengenang seseorang nyawanya disapu, terpelanting layu melewati pagar waktu.

“Siapa yang bilang murai itu berberita ada yang baru meregang nyawa?” tanya Kalonok perlahan, yang bermata murni memandangi kami berganti-ganti.

“Kabarnya, kakek dari kakek, nenek dari nenek kita bilang begitu.”

“Pahamkah mereka akan bahasa murai?” tanya Kalonok lanjut.

“Pasti tidak.”

“Jadi, dari mana mereka tahu?” tanya Kalonok lagi.

Semua membisu, saling memandang ragu, berharap ada yang mampu menjawab tanya Kalonok itu. Beraut wajah kami serius, sembari mengerjap-ngerjapkan mata yang menirus, seolah-olah berpikir dalam-dalam sebagai manusia genius, kiat yang kudus untuk menunda kekalahan yang tandus.

“Ada milyaran nyawa manusia yang meramai dunia. Sudah pasti ribuan nyawa balik ke alam bebas, saban kali kita menarik nafas. Jadi, berita akan jengkang itu benar ditimbang. Hanya saja, seperti gerai murai, janganlah menyampai yang tak ada buktinya, tak kasat mata. Kalau berlaku begitu, kita adalah penipu, yang tak bermalu,” gumam Kalonok.

Pencerahan Kalonok tajam menghantam kesadaran yang terdalam, gumam yang menyulam ilham, mencengkeram segala bungkam. Kami, yang mentah kurang pikir, menemu diri sendiri berdiri di fajar pagi pemahaman hidup yang lebih tinggi, selepas menyimaki tutur kata Kalonok yang berisi.

Kaku aku bagai sebatang pokok sagu yang tegak membisu; melangkah perlahan menyeret laku dan menyatu dalam alunan air yang riak bergeduru. Yang lain pun berlaku begitu. Kalonok pun berlaku begitu.

Sementara sebagian dari kami menuju ceruk yang dalam dan mulai lagi berenang riang, aku bersama Ngeak menurun badan dan mencecah ekor ke dasar sungai mengapit Kalonok yang duduk melampai. Bertiga pandangan kami menghadap hilir sungai menunggangi riak yang gerak berombak-ombak bepercikan menuju dusun jauh di lembah, Sawah Laweh, Pasa Rabaa, Ungun, lain dusun; aliran yang terus mencari-cari wilayah terendah di bumi. Lembut air terus menerpa-nerpa punggung kami secara tak beraturan yang mengalir dari kaki pegunungan.

Dari sudut mata kutengok Kalonok di samping, yang lagi memejam mata, damai bermuka, entah apa yang bermain di kepalanya. Pikiran-pikiran semu melintasi otakku, mereka-reka kalau-kalau Kalonok dalam pejam mata sedang berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa yang bersemayam di belahan jagad raya yang jauh, atau sedang menyerap wahyu yang akan disampai kepada kami yang lugu-lugu. Betapa pun juga setitik tuturnya pantas dilautkan, sekepal tuturnya pantas digunungkan.

Ngeak pun berlaku begitu, memejam mata dalam anggunnya. Tiada pernah ia beroleh pengetahuan atas adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung, namun perilakunya yang terpuji bisa menebar arti yang pasti bahwasanya, dalam batas-batas tertentu, dia mewakili manusia sempurna yang terbebas dari pikiran culas. Kelihatannya tiada butuh waktu banyak baginya untuk menempa rasa nyaman dalam hidup, lantaran nyaman itu adalah bagian dari nalurinya sendiri. Seberkas cahaya lembut sinar matanya senantiasa menghangat jalin, yang menepisi kabut kehidupan abu-abu yang terpilin, meneduh batin.

Selepas menggarisbawahi keanggunan Ngeak dan Kalonok yang berpijar bagai mercusuar, kesadaran pengamatan terhenti dengan suara Siih yang mengalunkan sebait lagu yang acap kali didendangnya saat berada di tepian mandi. Dengan sendirinya mendekam kuat liriknya dalam kepala kami semua. Bagai yang sudah-sudah, awalnya hanya suara kecil saja yang semburat dari mulut Siih, namun lama-kelamaan suaranya meninggi saat kami mulai ikut campur mengiringi bait akhir nyanyi yang melankoli ini.

Andai mandi aku di hulu
Air usahlah adik sauk
Disauk usah dikeruhi, dikeruhi

Andai mati aku dahulu
Mati usahlah adik jenguk
Dijenguk usah diratapi, diratapi

Kata Siih, lagu ini sering kali masuk telinga manakala berada dia di Pasa Rabaa, sebuah pasar yang hadir sekali seminggu saja, tempat berkumpulnya orang dari dusun-dusun kecil yang dekat dan yang jauh. Kata Siih lagi, lirik lain tidak tersalin dalam batin.

“Kalau mau dengar lirik yang lain, berdekat-dekatlah pada pedati kerbau yang berasal dari Dusun Ungun,” ucap Siih suatu waktu.

Tidak menjelas dia setentang makna berdekat-dekat pada pedati kerbau, adakah sang kerbau yang menyanyi lagu itu sendiri atau sang pengemudi pedati. Tidaklah penting apakah lagu itu didendangkan oleh sang kerbau atau pemiliknya dan tidak perlu lanjutannya karena akan membebani otak untuk menghafalnya. Lirik lagu pendek yang didapat sudah lebih dari cukup guna memenuhi kebutuhan hati kami.

Ada semacam aturan tak tertulis, yaitu membiar Siih memulai bait-bait awal, lantaran dialah yang pertama menemu lagu itu dan dengan sendirinya hak paten berada di telapak tangannya. Inilah satu-satunya lagu yang kami nyanyi berulang kali pada jam yang sama di tepian mandi. Inilah satu-satunya lagu yang kami kenal dan tinggal dalam benak dengan kekal.

Tiada pernah lagu kanak-kanak dari kota merambah dusun kami yang menjorok di pedalaman Sumatra. Tak pelak lagi, selain nyanyian ninabobok yang digumam bunda merdu bersuara suci, yang abadi mengaliri pembuluh darah kami, lagu yang didendang Siih saban petang menyejuk bagai angin pegunungan, yang tiada pernah membosankan; suatu lagu yang senantiasa menjadi vitamin dalam hidup kami.

Renung akan makna nyanyian dibawa air lalu. Setiap orang mulai mencari-cari batu yang akan diguna untuk meluruh daki yang tersisa di tubuh; gawe kedua lantaran sebelumnya sudah menggosok-gosok badan sekadarnya. Batu yang mulus licin tidak menjadi timbangan, tetapi batu yang kasar bercapuk-capuk sangatlah laku lantaran lebih lekas meluruh daki-daki sawah ladang, daki-daki peluh.

“Tak usahlah digosok kuat-kuat jangatmu itu,” ucap Ayen sembari memandang padaku.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Tak akan putih kamu,” selorohnya sambil tertawa.

Kubenar pandangnya. Selagi masih menggarap sawah ladang yang disirami matahari saban hari, tentulah haram jadah menjadi putih. Tetapi, tidak seorang pun di antara kami yang memikirkan mau berkulit putih karena warna kulit kami antara satu dan yang lain sama belaka, sehingga tidak menimbulkan keirian. Perbedaan atas kekayaan dan warna kulit yang direkayasa alam sering kali menjadi penyekat antarmanusia di dunia.

“Tak usahlah digosok kuat-kuat jangatmu,” ucap Kalonok sembari memandang padaku, ” supaya minyak jangat habis dan tak menjadi kering.”

Kubenar pandang Kalonok yang agaknya sudah jauh hari tahu segala metabolisma dunia sebelum Nabi Adam diusir Tuhan ke atas bumi, yang sejalan dengan skenario Tuhan agama semitis (Yahudi, Kristen, Islam). Tubuh akan mengeluarkan minyak lagi dari tubuh sebagai pelindung permukaan kulit. Memang jangat yang berminyak akan memantulkan cahaya yang lebih kuat, seperti minyak rambut, yang membuat mata orang mengarah kepadanya. Konon kabarnya ada minyak cenduai, semacam minyak wangi guna-guna yang akan membuat lawan jenis tergila-gila. Karena aku tidak memercayai hal-hal di luar nalar itu, pastilah yang menggunakannya yang menjadi gila.

Kubenamkan tubuh lagi ke dalam air sampai setentang leher, diam bertenang-tenang menyepi, sembari menjatuh pandang ke tumpak-tumpak sawah yang mengapit sungai di bawah sana. Warna padi yang menghijau dan menguning menggaris makna yang nyata akan pemiliknya yang beda karena biasanya seorang tani cenderung menanam benih di sawah-sawahnya pada waktu yang sama.

Begitulah, padi itu ditanam dua kali setahun pada rentang waktu yang beda-beda sehingga deretan sawah pun tercelup warna yang tak senada. Sebagian sawah ini punya familiku dan sebagian punya orang yang bermukim di dusun sebelah. Daun-daun padi yang dimiliki familiku sudah menanggal busana hijaunya, mengena jubah kuning keemasan, membentang menyentuh kaki perbukitan.

Senandung petang yang syahdu diwarna-warnai capung-capung, menari melayang-layang, dalam nada riang yang menggelombang-gelombang, dilatarbelakangi bukit-bukit yang bersimbah dedaunan hutan hujan tropis yang indah terlukis. Berada dalam naungan pedusunan ini amatlah menyejuk hati, bersebab dilahirkan dan dibesarkan aku di sini. Bisa kuberlepas pandang ke segala penjuru, berpikiran kosong, menyembul perasaan merdu yang gaib terpadu, terbebas kalbu dari keakuan yang menggarong.

“Sudah petang amat hari,” ucap Cilik.

“Ya,” tanggap yang lain hampir berbarengan.

“Baliklah kita lagi,” kata Cilik bernada perintah.

“Ya,” tanggap yang lain serempak, bagai serdadu rendahan yang selalu membudak pada perintah komandan.

Bila bergerak ke suatu tempat, apakah itu ke tepian mandi atau ke dalam rimba, hampir selalu Cilik menapak langkah paling depan sebagai komandan. Kebiasaannya mengumbar cerita sembari menapak jalan membedakannya dengan komandan dalam ketentaraan yang sesekali saja buka mulut, menyelaras-nyelaras diri pada posisi yang ditempati.

Agaknya dalam batok kepala Cilik, sebagaimana anggota keluarganya yang lain, terdapat bagian tertentu dalam benaknya yang berkembang pesat sehingga berkemampuan yang tinggi berceloteh tanpa habis-habisnya; berwajah senantiasa ceria. Ada-ada saja topik yang mampu diutarakannya jika orang lain tidak sigap mengisi seupil ruang kosong dalam perbincangan yang ditinggalkannya.

Keunggulannya dalam mengatrol suatu bahan cerita perlu diacungi jempol dan di tengah-tengah bincang wajar saja dia menonjol, kendati yang diobrolnya sering kali konyol dan terkadang tidak lebih dari isapan jempol. Andai terperosok dia dalam tema yang cocok dengan kesadarannya saat itu, maka akan berkaok-kaoklah ia berlenggok-lenggok, sedikit pun tanpa kagok, berkicau memasok semua kata, titik koma, dan tanda seru yang berada dalam benaknya, tanpa tanda tanya. Seluruh anggota tubuhnya, tanpa terkecuali, bergerak-gerak dalam ritme yang teratur mengikuti muncungnya yang sangat lentur, seperti Yahudi yang menceracau tanpa galau.

Kian tercokok dan tergembok perhatian kami pada omongannya, kian menjadi-jadi khotbahnya, bagai politikus bermulut madu menawan hati, penebar kabut kelat terselubung kata-kata manis kepada rakyat. Calon pemimpin besar ini selalu bersemangat, sukar didebat, dan bulat tekad dalam berbuat. Kukira sebagai orator ulung dia bisa menggantikan Sukarno sebagai presiden dan Kalonok yang tenang filosofis bisa menggantikan Hatta sebagai wakil presiden.

Andai menjelajah kami menerobos suatu hutan belantara yang belum pernah dijamah sebelumnya, maka akan berdirilah dia di depan bernyali sekali merambah jalan buat kami. Saat melintasi rawa-rawa yang merupakan kerajaan lintah, kami melangkah cepat-cepat berjingkat-jingkat agar sang lintah tak melekat, sedang dia berjalan santai-santai saja tanpa rem darurat.

Andai didapatinya lintah melekat di tungkai, jemari kekarnya akan melepaskan sang makhluk yang kuat menempel itu dan lantas merobek-robeknya. Barangkali para lintah tahu sifatnya yang tidak berperikelintahan ini sehingga bermukim jauh dari lingkungan dusun kami.

Kita akan menemukan sifat dasar seseorang yang sesungguhnya, apakah masih akrab atau berkirab, tatkala orang tersebut tidak lagi mendapatkan manfaat dari keberadaan kita, dan kepribadian ini melekat benar di dinding hati Cilik. Selepas tiba di seberang rawa-rawa, dia terus berjalan sembari sekali-sekali menengok ke belakang guna memastikan pasukan tiada yang jengkang atau disambar elang. Selain terkesan akan keberaniannya, terkesan pula aku bagaimana sikapnya melindungi orang lain dalam kesadaran yang membatin. Begitulah Cilik, yang berkeberanian bukan sekedar salah satu kebajikan, melainkan batu uji untuk mencoba adakah bentuk dari setiap kebajikan diperlengkapi atau tidak.

“Memang dia cocok jadi kepala suku,” bisikku dalam kalbu.

Selepas melewati sawah, melompati parit, melewati sawah lagi, tibalah kami di perigi milik kaum Hawa yang sudah ditinggal pergi. Bergiliran kami membasuh kaki kami yang dihinggapi lumpur sewaktu melewati pematang sawah yang agak basah.

“Lama benar kamu di air!” hardik calon kepala suku yang berdiri di bawah tebing menantiku yang terakhir membasuh kaki.

“Banyak lumpur di kakiku, Pak Komandan!” jawabku.

“Akan kotor lagi kaki burukmu, jadi tak dicuci pun tidak apa-apa,” hardiknya lagi sembari berkacak pinggang.

Lekas-lekas kuberanjak dari perigi, ikut perintah sang pemimpin besar, dan membaris di bagian paling belakang. Dalam suatu kelompok manusia memang diperlukan seorang pemimpin, terutama di pengkolan jalan penghidupan, dan Cilik ditakdir untuk memegang posisi yang penting ini.

Beberapa meter menanjak selepas belok dari perigi, menghampar tanah datar yang agak memanjang di lembah ini. Di sisi jalan setapak rumput hijau bagai permadani lembut yang nyaman untuk tidur. Hanya saja di balik rimbun rerumputan yang tebal itu boleh jadi bersemayam segepok cirit sapi yang tak kasat mata, pula di beberapa bagian ditumbuhi putri malu berduri yang sudah mengatup mata dalam asuhan petang yang sudah menua. Di bagian kiri agak menjauh ke bawah tegak jelatang yang berdaun lebar, gagah kelihatannya, karena miangnya yang mengelus kulit bisa mengundang gatal menyengit yang bikin orang morat-morit.

Perilaku primitif hendak melenyapkan segala yang akan menimbulkan kerugian atau malapetaka pada diri sendiri diberlakukan secara alami. Beberapa orang melemparkan batu ke jelatang-jelatang yang hidup membentuk komuni itu, yang hanya menyedia miang penyengat demi kelangsungan hidupnya. Naluri menang terpuasi menengok jelatang-jelatang yang dedauannya menjadi berlubang-lubang dan beberapa batangnya merunduk-runduk. Seperti manusia, spesies yang lain pun selalu berusaha tegak mempertahankan hidup dengan daya hidup yang diwarisinya, sehingga hari-hari berikutnya sang jelatang kelihatan segar bugar lagi menikmati hari-harinya dan terkadang perilaku primitif kami, yang senang melayangkan bebatuan, mengganggu kenyamanan hidup mereka lagi.

Rumah-rumah panggung kami tidak menampak diri lantaran berdiri di atas tebing yang agak tinggi. Seekor monyet yang juara memanjat pun boleh jadi tidak bernyali merambati tebing yang tegak lurus dan mengerikan ini. Andai saja ada jenjang khusus terpasang dari kaki tebing ini menggapai atas sebagai jalan pintas, tentulah tidak usah ambil jalan putar menuju ke atas. Tetapi, pasti jenjang itu tidak akan populer bagi wanita dan orang dewasa yang tidak tertarik menanjaki tangga tegak lurus yang bagai memanjat pohon pinang yang berdiri kurus. Jadi, menapaki jalan selingkar yang mendaki terapit semak belukar merupakan satu-satunya cara yang disasar.

Di tengah pendakian berdiri pohon mangga gadang yang entah berapa tahun usianya. Batangnya nampak menjulang tinggi menusuk kubah langit-langit bumi.

“Pohon mangga ini sudah ada jauh hari sebelum kita lahir,” celetuk Cilik menghenti langkah dan mengangkat wajah melewati angan menuju puncaknya.

“Pasti sudah berusia puluhan tahun,” ucap Ayen.

“Pasti sudah ratusan tahun,” imbuh Inai.

“Pasti sudah beribu-ribu tahun,” gumam Ilam.

“Pasti sudah tumbuh ketika Gunung Marapi masih sebesar telur kakek,” tegas Siih.

Semua berdiri tegak di jalan setapak yang menanjak ini lantaran sang komandan menghenti langkah dan mengurai kisah setentangan sang pokok mangga. Kuping-kuping menangkap apa yang dicilotehkannya sebagai sifat bawaan. Memang kami sepembawaan, seiring sejalan, sehilir semudik, seia sekata, tetapi sering kali pula tidak sependirian. Jadi, bantahan demi bantahan saling dipaparkan, yang lain mengetengahkan putusan dengan aksen suara yang meyakinkan dengan isi yang guyah berantakan.

Tak ikut-ikutan aku urun rembug memikiri riwayat pokok mangga ini. Begitu pula Kalonok. Begitu pula Ngeak. Kami bertiga bengong membuang-buang pandang ke bawah melewati tumpak-tumpak sawah menuju aliran sungai yang menjiplak langit petang keemasan, pembayar lunas kesusahan kami mendaki jalan ini. Namun, kupingku kuasa terus menangkap perbualan yang melempang, ke hilir ke mudik berselang-selang, buah perbincangan panjang yang bercabang melintang-lintang.

Celoteh yang mengambang akhirnya susut menyatu, bagai serpihan-serpihan awan yang berpadu membentuk dadu. Semua diam. Bukan lantaran kehabisan bahan, melainkan seorang teman terpeleset sewaktu melangkahi urat-urat pokok mangga yang gadang membelintang jalan.

“Urat mangga ini selalu saja jadi pengganggu jalan kita,” gerutu Irin.

“Ya,” jawab Undin.

“Jika dibiarkan, jadi pengganggu saja. Kalau dipotong uratnya, mangga ini akan mati dan buahnya yang manis tidak bisa kita nikmati lagi,” ulas Ayen.

“Bagai buah simalakama, ya?” ujar Ilam.

“Ya. Kalau dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati,” imbuh Siih.

Seperti biasa, andai kepala kami sudah terbentur pada masalah yang tak terpecahkan, kepala-kepala ini akan berputar ke arah Kalonok tempat curhat dan berharap percikan renungnya akan menjadi lentera dalam gelapnya masalah. Tetapi, yang ditengok sama sekali diam bergeming dan terus saja menerawang lurus, pura-pura tidak mendengar atau tidak mendengar sama sekali, lantaran telinganya boleh jadi lagi menangkap kehadiran Tuhan yang bikin sekuntum mawar merah berkembang penuh menyebar harum, atau perhatiannya tersita penuh pada panorama indah yang terpajang di bawah sana. Seperti biasa pula, kelihatannya senang dia menemukan inti kehidupan dengan berbincang-bincang lebih banyak dengan dirinya sendiri daripada dengan orang lain.

“Bagaimana menurutmu, Nok?” tanya Irin.

“Tentang apa itu?” tanya Kalonok balik.

“Masalah buah simalakama,” lanjut Irin, “Kalau dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati.”

“Kalau begitu, jual saja,” jawab Kalonok tenang.

Kami terperangah dan seterusnya manggut-manggut, sebagai pembenaran atas pandangan Kalonok yang brilian.

“Tidak akan ada yang mau beli,” bantah Cilik.

Kami terperangah dan manggut-manggut lagi, sebagai pembenaran atas pandangan sang komandan yang berkepastian.

Jadi, bagaimana? tanyaku dalam hati, menengadah wajah dengan jelas minta jawab kepada sang komandan yang berdiri tegak paling atas.

“Jadi, begini,” imbuhnya sembari memperbaiki wajah guna pencitraan yang lumrah, “Kudengar berita tentang Presiden Sukarno yang akan berkunjung ke Padang. Jadi, pada waktu itu kasih saja buah simalakama itu kepadanya sebagai hadiah dari dusun kita yang akan diboyongnya ke Jakarta.”

“Itu kejahatan. Lagi pula, selesai diserahkan, bapakmu sudah mati,” tegas Inai, “Sebab, kamu tidak memakannya. Dan, bahkan mungkin kamu jengkang sekalian.”

Jawaban lain tidak ditemukan, langkah kaki diangsur ke depan. Topik pembicaraan yang meloncat-loncat lagi mengambil tempat, yang menunjukkan bahwasanya suatu topik punya jaring-jaring laba-laba yang bisa menyebar ke mana-mana, sekaligus menyedia bukti pula bahwasanya jumlah topik yang bisa dikemuka sebanyak milyaran bintang yang berkedip-kedip di langit malam.

Pula hal ihwal tentang pokok mangga dan buah simalakama begitu saja raib dari ingatan dan terlupakan. Sebagaimana sedetik di depan adalah gelap yang tidak bisa diramal, sedetik di belakang juga bisa berupa gelap yang menyelimuti pikiran dan terlupakan.

Petang pun terus merangkak perlahan-lahan saat kaki-kaki kecil kami mencecah setumpak tanah yang ditanami singkong milik bundaku. Lelaki yang menikahi gadis dusun ini dan bermukim di sini mustahil memiliki sawah ladang lantaran sistem matriarkad mengharuskan perempuan mewarisi harta orang tuanya. Ada perasaan bangga melewati tanah setumpak kecil lantaran dimiliki oleh bundaku, walau warisan tersebut akan jatuh ke tangan saudara perempuanku.

“Singkongmu hampir tak berdaun. Dilalap gajah, ya?” tanya Siih sembari terus berjalan.

“Mana pula gajah masuk kampung. Tadi pagi kupetik, direbus dan disantap bersama sambal lado dan nasi,” jawabku.

“Kabarnya di balik bukit tinggi yang berpendakian di baliknya ada hidup gajah.”

“Mana yang kuat gajah atau harimau?”

“Kuat gajah.”

“Harimau dengan kerbau?”

“Kuat kerbau.”

“Jadi, tak dikandangkan pun kerbau tak akan apa-apa.”

“Dinding bambu kandang ayamku sudah mulai keropos.”

“Daging ayam itu enak, tapi kenapa ciritnya busuk, ya?

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami bersama-sama melantunkan koor yang sering keluar dari mulut anak laki-laki yang liar, dengan suara yang besar.
Kukuruyuk
Ayam ternak
Ciritnya busuk
Dagingnya enak

Seusai koor ini, cerita yang tiada ujung pangkalnya berlanjut sungsang, centang perenang, sampai kami berbelok ke rumah masing-masing seorang demi seorang di ujung petang yang lengang dan esok hari menanti kami di bawah langit yang sama di bumi yang sama. Gelap sudah mengendap-ngendap di balik semak belukar di belakang rumah dan sebentar lagi senja yang berumur pendek akan menyerahkan dusun ini kepada malam, yang sudah bergayut bergelantungan di kerimbunan hari yang mati suri.

Asap putih dari dapur-dapur rumah, yang tadinya melenggang lenggok menuju angkasa, sudah kian menipis dan menyatu dalam garis-garis malam yang modis. Burung-burung pun sudah memejam mata mungilnya di dalam sarang dan menyerahkan panggung dusun sepenuhnya kepada jengkerik yang mulai redup berdendang. Orkestra alami yang sayup-sayup meneduh hati ini akan terus berlanjut sampai pintu tidur kami tertutup.

Satu petang di dusun ini sudahlah usai. Rajutan warna petang dengan serat-seratnya warna-warni membentuk dunia pelangi abadi yang menerangi dan memenuhi penghidapan kami. Kenangan manis yang tidak bisa diraba, tidak berwujud itu, bisa dinikmati dengan mata hati tanpa pernah layu dalam riam waktu, selalu menghangati kalbu.

(tamat)

Catatan:
Cerita fiksi ini lahir dari kenangan kerajaan masa kecil di kampung halamanku pada pertengahan tahun 60-an yang jauh; adalah cermin sosok diri di masa silam yang indah nyaman berwarna pualam dan jarang bernada kusam. Teman selapik seketiduran masa belia itu sudah berdiaspora ke mana-mana.

Generasi muda, yang sudah mati rasa akan nikmatnya aroma tanah sawah ladang, menanggapi gamit kota dan mengucap salam perpisahan pada dusun yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Tetapi, memang keniscayaan adalah pilihan hidup yang berada di tangan sendiri dalam semangat buhul mati, yaitu lahir sendiri, berusaha sendiri, dan mati sendiri.

Ketenteraman dan kesunyian dusun kami pecah berkeping-keping oleh sampah peradaban modern berupa bunyi knalpot sepeda motor yang bocor, gas buangan yang kotor, yang meneror. Zat kimia berupa pupuk dan pestisida banyak diguna di sawah ladang, di kebun sawit yang malang melintang, yang merusak tumbuhan alami, mengupak habitat binatang di darat pula di air, mengoyak hidup orang dusun yang tertegun-tegun.

Dusun kecil itu, kepada siapa aku dalam-dalam menghormat, betul-betul sudah hilang bentuk, terbatuk-batuk tak terbezuk, terakuk-akuk tak terjenguk.

PUTIH SALJU YANG MENEDUH KALBU 心を和ませてくれる白い雪

Salju itu laksana kapas putih yang lembut melayang-layang turun dari atas langit.”

Wajah bocah-bocah polos, terjebak akan tutur kata ibu guru SD itu, terpana bermulut menganga. Semua kepala sibuk membentuk bayang-bayang akan sosok salju bersama dingin yang membeku. Ibu guru itu pintar mengolah kata-kata seakan-akan dirinya sendiri pernah berada dalam nostalgia indahnya salju yang memutihi permukaan tanah.

Tidak muncul dalam pikiran anak-anak bagaimana seorang guru yang hanya bersandal jepit itu bisa melanglang buana ke negeri salju, padahal untuk bertandang ke kota saja perlu waktu 2 hari perjalanan dari dusun kami, yaitu pertama perlu jalan kaki 1 hari penuh menapaki jalan tanah turun-naik gunung yang berliku-liku ke dusun yang lebih besar sebelum keesokan harinya menunggangi bus yang sarat penumpang.

Di antara murid SD pada parohan kedua 1960-an itu terpandang diriku sendiri yang ikkut-ikutan mencecahkan pantat di bangku panjang, berkaki ayam yang menyentuh lantai tanah. Di akhir bayangan terbubuh titik berupa keniscayaan bagiku akan mustahilnya menikmati keindahan salju sampai darah ini berhenti membeku.

“Andai salju turun di sini, tentulah selalu kami bisa nikmati,” ucapku dalam hati, melamuni kelas kami yang berdinding kayu, menyedia pemandangan lepas ke luar lantaran tak berjendela dan tak berpintu.

Acap kali dalam hidup ini apa yang dirancang berakhir dengan bentuk yang berkapang, kecewa menghela nafas panjang. Tetapi, terkadang nasib menggiring kita ke arah yang tidak dinyana. Begitu pula yang terjadi pada dirikku yang terasa tiba-tiba saja sudah berada di Hiroshima pada 1987, yang menengadah wajah, membentang lengan lebar-lebar, mengangakan mulut lebar-lebar, meraup habis seluruh salju putih yang luruh dalam kebahagiaan yang teduh. Tentu saja, kebahagiaan bukanlah buah yang tiba-tiba hadir begitu saja melainkan hasil yang diperoleh dari perasan keringat sendiri.

Tahun-tahun belakangan ini perhatian terhadap orang tua bini yang bermukim di Hokkaido, pulau yang paling utara di Jepang, lebih meninggi karena keduanya sudah berada di rembang petang usia yang matang. Oleh karena itu, selalu diupaya agar menjenguk mereka banyak waktu, terutama di tengah-tengah musim salju manakala salju banyak bergeduru bertumpuk-tumpuk meninggi di sekeliling rumah, sedang keduanya tidak lagi bertenaga membersihkannya. Tak pelak lagi, disengat suhu udara di bawah nol derajat saban hari bikin tubuh buruk ini sering terasa salah urat dan lama-lama bengekku bisa kumat.

Omong-omong, dalam naungan salju selingkar itu hidup tenang mereka berdua dengan uang pensiun yang cukup tersedia, tetapi rutin pula kami mengeluarkan uang demi membuat mereka lebih tenang. Begitu pula rutin kami menyangga hidup keluarga di Indonesia, di samping mengulurkan tangan kepada mereka yang terlahir malang di dunia. Untungnya kami tidak tertarik bikin anak sehingga hasil pencarian yang sejumput ini bisa diguna untuk menolong mereka yang mendamba pertolongan.

Perekonomian Indonesia yang kian meningkat dengan strata kalangan menengah yang mulai menebal (termasuk lambungnya) membuat makin banyak saja orang Indonesia yang bisa menyisihkan uang untuk menikmati putihnya salju yang meneduh kalbu di Jepang.hachi salju

MAK NGAH, MY AUNTIE

Mak Ngah is the nickname given to my mother’s younger sister, who lives in the heart of the mountains of Sumatra Island. During childhood, I witnessed how she and her reticent husband toiled every day in the rice paddy fields, from morning till evening, struck by rain, and exposed to the sun toward the harvest day, in order to support their family. Excess rice was sold to hawkers who took them out of the village to fill the stomachs of towns’ people. Each grain of rice is the result of farmers’ sweat, which is often wasted by the city people who are calloused and numb to the farmers’ plight. Fortunately, a poor set of values do not plague our village, because farmers’ lives emphasize the feeling of one heart, generosity, sincerity, and not rusty hearts.

“Where are you going, Mak Ngah?”

“I am going to the rice fields.”

“Why so early?”

“Just to have a look because of the heavy rain last night.”

Sometimes the dry, malignant season that just passed badly evaporates any water which splits the fields here and there. This strikes Mak Ngah’s tumultuous heart. The coming of the blessed rainy season transforms the ground in splendid ways, which makes Mak Ngah’s face glow. However, heavy rain with wild wind breaks off rice stalks. Then they aren’t straight anymore. The land is so soaked that even vegetables become squashed with lamenting weakness. This condition makes Mak Ngah’s eyes filled with tears.

The city folks ought to always show their appreciation, respect, and a debt of gratitude to the farmers. However, a strong competition in urban areas frequently cripples their conscience. Their jagged stream of life, created on their own accord, undermine sacred sincerity.

Our village’s dirt road, which we cling to for travel, is located far away from the town. A two-day walk and a bus ride used to be required to get there from Padang. Therefore, life in Kayu Pasak is not contaminated by the culture of the town which is less a cooperative spirit. Mak Ngah is the image of a humble farmer free of prejudice. Living in an interdependent environment among fellow villagers of equal economic status invites infinite satisfaction, which is irreplaceable by a pile of materialistic treasure.

Mak Ngah’s daily lifestyle is a reflection of a farmer’s natural and humane way of being. When the planting seasons and harvest seasons arrive, everyone rolls up their sleeves to help each other shoulder to shoulder in the tradition of integrated mutual cooperation. We have three or four seasonal cycles annually. When someone becomes ill, the news quickly spreads to all corners of the village to make the patient never feel alone. This kind of attention is spiritual food, which is very important to entice the healing process. In true rural communities where an indigenous circle of life helps each other, they share happiness and sadness on the basis of real mercy – a powerful wisdom that is perfectly filled with exquisite humanity.

When I was child, my family and Mak Ngah’s family lived under the same roof in the largest wooden house in our small village with a mere 25 inhabitants. Although the house was large enough for all of us to reside in, only two bedrooms are available, while the other part is a versatile wide-open space. One of the bedrooms was used by Mak Ngah and her husband. Children slept in the open space, which was also occupied at one end to store grain, coconuts, and other foodstuffs from the surrounding land. At the rear of the house is a spacious, wide-windowed kitchen big enough to breathe the fresh mountain air. A small path from there leads to the back of the house.

“Is Mak Ngah there?” asked a visitor at the front door.

“Yes, she is.”

“Where is she?”

“She’s in the kitchen.”

This is just a conversation in passing because a relative or guest surely already knows Mak Ngah would be in the kitchen when she is at home. Doing everything slowly, but routinely, is a habit that she inherited from her mother. That room can be regarded as Mak Ngah’s headquarters, the place to mix the aromatic spices and make food preparations. (Then everything is brought directly outdoors to cook over wood and coconut shell fires.) The kitchen is also the place to hold a conference over village matters with her relatives or compatriots who come to visit individually or in groups. So rather than stop working in the kitchen and go to the versatile wide-open space, she prefers to receive guests in the kitchen. That way, she can continue her work without pause while discussing or chattering with neighbors sitting down on an ever-present, worn, straw mat that can’t help but display many holes.

Like the inhabitants of nearby villages, her shabby, cotton clothes are also worn-out here and there, as everyday wear that are rarely replaced. Colors fade and the fabric eventually gets torn. Yes, it is very different from city folks. Yet Mak Ngah is satisfied wearing the same clothes every time, at bedtime, time in the fields, and times when she visits others. Only on special days does she pull out better clothes to wear. Since everyone has a simple life with washed-out clothes that are similar to each other, garments are not used as a benchmark in assessing a fellow villager’s status.

She never went to town. If she saw those people’s extravagant and wasteful lifestyles, excessive eating that leads to stomach distension, and how they easily dispose of their clothes without a second thought, her heart would become pained.

One day when I cut down several thickets that surrounded our pond across the road, I heard the sweet sound of Mak Ngah’s from the house.

“Don’t cut it down!”

“Why, Mak Ngah?”

“Leave it as it is so the poolside won’t fall down.”

Mak Ngah was right. On one side of the pond, which is bound by a footpath, there is a ditch where a rapid stream flows when it rains hard. If the thickets’ roots that grip the earth were cleared, the probability of the walkway collapsing and the sewage water violently rushing into the pond would be enormous. Despite living in the village all the time, Mak Ngah is able to practice Mother Nature’s concepts by observing the natural, everyday phenomenon.

Old Mak Ngah continues to live in the same old village, together with her aged husband, and a declined population that has made the immediate area nearly deserted. Except for a daughter and a granddaughter who lives next door, all of her children and grandchildren already moved to other areas to change their own fates. Her wrinkled face expresses her challenging efforts to raise and educate her beloved children; the image of a mother who is always holding hope for her children to lead much happier lives than herself.

I have a longing to see Mak Ngah who also took care of me when I was child. I want to talk with her again and certainly she has many stories to share concerning her life up till present days, including how she managed to raise her children. I am sure she is proud of her offspring regardless their dissimilar ways of thinking, values, and lifestyles in West Sumatra regions that are very much different from hers.