WARNA PETANG DI DUSUN ITU (8)

Perangai liar itu terurai anggun, menjadi santun, namun sejenak saja, dan menyatu lagi bagai serpihan-serpihan pawana yang bergabung melahirkan prahara. Sejuknya air memang tidak pernah sepenuhnya mampu menundukkan jiwa-jiwa liar anak lelaki yang bersumber dari naluri primitif yang merenangi denyut nadinya.

Irin, yang sudah memanjat pohon di tebing sungai dan menggantung di akarnya, tiba-tiba mengayun sembari berteriak “Yahoo!” bagai Tarzan dan melepas badan mencebur memecah sungai, menciptrat air bercerai-berai semua dikenai, gelak berderai-derai. Boleh jadi perusahaan raksasa search engine “Yahoo!” di internet mencuri teriakannya dan menamai perusahaan yang terkenal itu.

Memerciki rekan dengan air, sampai yang bersangkutan lari menjauh kocar-kacir, suatu kesenangan yang di perigi mata air tidak mungkin dilangsir. Atau, menyelam dalam-dalam dan membetot ke bawah kaki teman. Terkadang diam-diam seseorang naik ke sawah dan membopong segumpal lumpur yang akan ditaruh di atas kepala teman dari belakang sebagai mahkota yang menggelimpang. Tak jarang pula beramai-ramai kami melumuri badan sendiri dengan lumpur sawah, menaiki batu besar, berpura-pura bagai orang gila, berteriak-teriak bagai orang utan, dan menukik lagi ke kedalaman sungai menyelam.

“Ini topiku!” teriak Undin sembari menunjuk batoknya yang diadoni lumpur.

“Itu bukan topi, tapi jengger ayam.”

“Jengger ayam berwarna merah.”

“Kamu berjengger ayam yang lagi sakit.”

Dari hulu sungai terpandang seseorang yang berjalan ke arah kami, menelusuri sungai di tepi. Coraknya berjalan, menenteng ikan di tangan, segera saja jelas menganyam kesan bahwa dia adalah Uda Batar yang piawai sekali menangkap ikan di hulu sungai; suatu hobi selepas melaku gawe tekun di sawah atau di kebun.

Selalu dia bergerak pada dimensi beda dengan kami. Sedang kami memancing ikan atau belut di wilayah yang masih selingkar dusun bersama-sama, dia lebih suka dan bernyali besar menerobosi hutan belantara sendirian menuju lubuk-lubuk ikan yang jauh, yang susah dijamah orang, tanpa saingan, sehingga wajar saja dia beroleh ikan yang banyak dan besar-besar. Seperti kami yang berkaki ayam, telapak kaki tebalnya mengeras yang sesuai dengan lingkungan alam yang keras, yang diperlu guna mendaki menuruni bukit tanah berbatu yang terjal, merambah hutan duri belukar yang berpangkal.

“Banyak dapat ikan, Uda Batar?” sapa Ilam.

“Lumayan. Tadi waktu mancing, beruang kulihat di seberang sungai.”

“Dikejarnya Uda?”

“Tidak. Aku melihatnya, dia melihatku. Lantas, aku terus mancing, dia terus menyantapi daun-daunan.”

“Hm,” gumam kami.

“Dia tak akan mengganggu selagi tidak diganggu.”

“Hm,” gumam kami lagi.

“Biasanya binatang buas itu segera menjauh kalau tahu manusia mendekat ke dia.”

“Hm,” gumam kami lagi, seirama lagi.

Memang belum pernah masuk telinga kami hal ihwal binatang buas yang menyerang orang. Namun, gerangan apa yang menghela mereka menjauhi manusia, sebagaimana ungkapan yang ditinggalkan Uda Batar? Suatu risalah sebab-akibat yang segera menjadi buah bibir di antara kami yang masih anyir. Jawab atas pertanyaan ini dibawa oleh Uda Batar, yang sudah melangkah jauh, lantaran kami yang telmi (telat mikir) ini terlambat mengaju tanya padanya.

“Barangkali beruang dan harimau itu ngeri melihat wajah manusia, jadi mereka menjauh dari kita,”

“Mungkin mereka merasa punya derajat yang lebih tinggi, jadi tidak mau dekat-dekat pada kita,”

“Boleh jadi manusia itu berbau busuk yang menyengat hidungnya,”

Dalam anggapan yang beragam-ragam ini, Kalonok yang pendiam menjadi sandaran utama, pergi tempat bertanya pulang tempat berberita. Sekeliling kami pandangi, tetapi batang tubuh kalonok yang berdegap itu tidak kelihatan, menguap menyatu dengan awan.

“Ke mana perginya?” tanya Siih.

“Mungkin sudah ditelan ular dia,” sela Cilik.

“Barusan masih kulihat berenang-renang dia di sana,” tutur Ayen.

Setiap mata menyigi aliran air kalau-kalau dia hanyut, kalau-kalau batang tubuhnya tersangkut. Tetapi, mustahil perenang tangguh itu bisa dihanyutkan oleh sungai. Sebab sang sungai pastilah pernah mendengar kisah Sang Yahudi, Nabi Musa, yang membelah Laut Merah, dan pula mengenal sungguh akan kekuatan Kalonok yang konon mampu membelah kawah, mengubah aliran air berbalik arah, membelah matahari menjadi jenazah, sehingga sang sungai pasti merasa ngeri sendiri dan akan binasa kalau coba-coba menggulung mempelitukkan tubuh gempalnya.

“Nok …!” teriak Irin memanggil.

Imbau yang tak bersahut. Perasaan risau memicu jantung debar galau bertalu-talu. Lentera petang yang sendu membasahi dinding hati kami yang pilu, bagai tersesat dalam hutan belantara, bingung bagaimana mengusut perkara. Sekeliling senyap, terasa sungguh sekeping daging lenyap, disergap suasana hati yang gelap.

Tak lama berselang terpandang seseorang bertelanjang bulat santai, menyeringai, mencogok dari balik batu besar di hilir sungai. Kalonok! Seperti biasa, pembawaannya tenang, tetapi bibir yang melebar menyembul kesan yang benar bahwa dia baru saja usai buang air besar.

“Buang hajat rupanya dia,” celetuk Undin dengan bahu yang jatuh.

Bayangan buruk akan dirinya lumerlah sudah. Terasa damai di hati, damai di bumi. Hilangnya seorang sobat selapik seketiduran akan sukar tertanggungkan, akan mengacaukan haluan bagi segenap penghidupan; sesuatu yang tidak boleh hadir di dusun dan bahkan dalam mimpi sekali pun.

(bersambung)

LABRAK KOYAK LINYAK

Mari lagi warnai jalan kelabu ini
Lepas hampa cita yang basi
Gairahkan hati berapi-api
Sekali terang membelah matahari

Segala nada kita raup
Segala makna kita kucup
Tempelbasahi jasad hidup
Kuyup hingga menyelusup

Paculah melumer habis kuyu
Kenang nasib akan beku
Buang sedih sendu mendayu
Tantang maut yang setia menunggu

Arahkan badai revolusimu
Ke ranah bangkai itu
Berpintu berpalang batu
Bercandu paham radang bau
Yang bikin hidup sesat lalu

Lantangkan sorak bertalu-talu
Gasak binasakan segala hantu
Labrak koyak linyak iblis tanpa ragu
Tindih lumat seperti kutu
Hancur luluh hingga berdebu

Laku hingga rautmu berkarat
Laku hingga nafasmu sekarat
Laku hingga duniamu kiamat
Sonder liang lahat sonder dilayat

(Di sana orang-orang yang berjiwa merdeka menyeru gegap gempita wejangan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”)

WARNA PETANG DI DUSUN ITU (7)

Begitu saja kami menelanjangi diri sendiri, melompat ke dalam sungai melenting, renang berkeliling, dan selam menungging. Bunyi kecipak-kecipung, suara yang membahana bergaung-gaung di bawah langit lembayung. Lantas, menggosok-gosok tubuh kumuh yang berlumpur kering untuk dikembalikan ke haribaan bumi. Lelah kerja menolong orang tua di tanah tani hari ini luruh dan hanyut bersama air ke hilir. Setiap orang mengangakan mulut lebar-lebar, ke arah hulu sungai, menyambut air segar yang akan mengaliri kerongkongan yang perlu dibasahi.

“Air sungai ini selalu menyegar jiwa raga,” ungkap Cilik.

“Pada sangkaku akan hujan lebat hari ini,” ucapku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik minta kepastian.

“Angin membadai semalam berderai-derai,” imbuhku.

“Air laut asin, ya?” ujar Cilik, bersuara yang menderas.

“Pagi tadi langit cerah. Memang, gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas,” tambahku.

“Aku bilang air laut asin, ya? Jadi, bukan gabak bapakmu, bukan cewang moyangmu,” memburangsang Cilik kesal.

“Ya. Kasihan orang pantai yang mustahil mereguk air laut yang asin itu,” sela Undin menengahi.

“Di sini kita bisa minum air sungai sepuas hati.”

“Ngomong-ngomong, tahu tidak kenapa air laut asin?” tanya Inai, sekonyong-konyong.

“Karena mengandung garam,” jawab Kalonok.

“Itu betul. Tapi, juga lantaran semua makhluk hidup, tanpa terkecuali, buang kencing di atas bumi, yang mengasinkan air laut,” jelas Undin serius.

“Bidadari yang terkencing dari atas langit juga bikin air laut itu lebih asin,” sela Irin.

“Mungkin juga.”

“Katanya ada kolam renang di kota. Orang-orang juga terkencing di dalamnya?”

“Entahlah. Barangkali manusia yang berhati mutiara tak akan terkencing di sana. Tapi ke dalam sungai, ke dalam laut, kita bebas menyumbang air garam,” tambah Ayen.

“Tiada yang bisa menjamin kalau di kota gadis-gadis yang berwajah manis dan ibu-ibu yang berwajah labu tak terkencing dalam kolam renang.”

“Tanya langsung pada gadis kota.”

“Kirim Si Edi ke kota, suruh dia bertanya,” anjur Siih.

“Jangan suruh Edi. Gadis kota akan menonjok muka buruknya, mencabik-cabik tubuhnya, dan menyantap jantungnya,” gelak Undin yang diikuti secara berjamaah oleh yang lain.

Hanya tersenyum pahit kusimak guyonan kawan selapik seketiduran itu yang merendahkan tampang kapalanku.

Kuturunkan leher setentang air, memicing mata menikmati semilir aliran segar yang berganti-ganti menerpa tubuh bugilku yang menentang langit ungu. Sejuknya air yang bening mengalir tanpa henti melahir sonata alami, bagai alunan nada ninabobok meneduh hati, yang dinyanyi bunda menidurkan bayi. Merenung kusendiri dalam heran setentang gadis-gadis di dusunku dan di dusun lain yang lebih senang mandi di pincuran dan bukannya di sungai yang luas lapang.

Tapi, tunggu dulu! Andai gadis-gadis itu senang pula mandi di sini, dengan sendirinya hak guna sungai akan berada di telapak tangan mereka, bersenang ria kaum Hawa itu sampai senjakala, sehingga pria mesti mengurut dada dan terpaksa mandi di pincuran saja. Ini adalah malapetaka besar bagi kami! Syukurlah, makhluk berwajah teduh, yang terkadang berhati harimau itu, tidak berminat menjajah wilayah sungai, tempat kami bisa bebas tertawa berderai-derai, tempat perangai liar kami bisa terurai.

(bersambung)

YANG KURUS KERING DAN YANG BERDAGING

Apa yang kita laku manakala menengok seorang bocah kurus kering tinggal tulang sendirian di jalan tanpa seorang pun yang berusaha mengulurkan tangan? Adakah naluri kita akan melahir rasa dan sikap yang beda saat memandang anak malang yang beragama Islam, Kristen, Yahudi, atau tak beragama?

Dari segi agama, bocah Nigeria yang bagai tinggal puing ini sudah ditakdir Tuhan hidup prihatin sebelum Anja Ringgren Lovén, pendiri African Children’s Aid Education and Development Foundation, menyelamatkan sang bocah yang kelaparan, cacingan, dan hampir meregang nyawa. Dia ditelantarkan orang tuanya, rapuh sendirian di jalan, lantaran dianggap sebagai anak yang akan mendatangkan malapetaka.

Dari segi agama, adalah tanggung jawab kita semua, sesuai perintah Tuhan, untuk hidup-menghidupi dan bermurah hati menyelamatkan anak-anak yang malang di dunia ini, dengan mengebasi segala atribut ras dan agama yang kita miliki.

Banyak manusia tidak memedulikan pertumbuhan, pendidikan, dan masa depan anak darah dagingnya sendiri. Naluri primitifnya hanya mau memuaskan ego dan syahwat saja di dunia tanpa peduli atau tak paham akan tanggung jawab yang mesti menyertai lakunya.

Golongan menengah, yang menebal di Indonesia, juga kian menebalkan daging lambung mereka, berselaput lemak yang menggelembung bagai belatung. Andai kemanusiaannya juga menebal, pastilah disadari bahwa lemak yang menempel di lambung itu adalah hak jutaan orang miskin yang bertebaran di muka bumi ini, termasuk bocah dalam foto terlampir. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa makan-minum berlebihan adalah laku yang tak bermalu dan tak bermoral.

Kurasakan seberkas cahaya lembut sinar mata Anja Ringgren Lovén hangat menyelimuti kalbu dan sejuta rasa hormatku mengarah pada perempuan Denmark yang berhati bidadari ini.%e3%82%b9%e3%82%af%e3%83%aa%e3%83%bc%e3%83%b3%e3%82%b7%e3%83%a7%e3%83%83%e3%83%88-2017-02-13-6-26-29

WARNA PETANG DI DUSUN ITU (6)

Si bisu Ngeak berwajah sumringah. Mungkin senang ia dalam diam lantaran mampu menyadari keberadaan ular itu lebih cepat dari siapa pun dan sekaligus merasa bangga bisa menyumbangkan info yang berharga dalam kekerabatan saudara. Teduh wajahnya membias jiwa para pertapa, yang terbebas dari pengetahuan baru yang tidak perlu, dan hidupnya diisi dalam renung memperkaya batin, yang lepas dari tanya jawab duniawi, yang merusak pesanggrahan hati yang alami. Terpaling niscaya dia dari cerita neraka, yang berkian-kian banyaknya, yang ditakuti oleh manusia yang sonder tegar jiwa.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras lagi mengagetkan kami.

“Ular lagi?” tanyaku dalam hati.

Begitu saja semua langkah terhenti dan mendongak pandang ke arah mana telunjuk yang menjajaki. Di kejauhan di sudut sawah terpandang seekor elang terbang melayang seraya mencengkeram ular di cakar kakinya yang kukuh. Sungguh cengkeram kaki elang itu mampu meremukkan kepala anak kecil sehingga mangsa yang sudah tercengkeram mustahil berlepas diri, segera tak sadarkan diri atau mati suri.

Kami melanjut langkah perlahan sembari terus memandangi sang elang yang akhirnya menghilang ke dalam rimba lebat di seberang sungai petang.

“Ngeak ini tak mendengar, tapi matanya setajam elang,” celetuk Undin.

“Ya, betul,” tanggap Inai.

“Elang itu bisa memandang jelas sampai tiga kilometer,” jelasku.

“Bagaimana pula kamu tahu? Memang ngomong elang itu padamu?” tanya Siih.

“Tidak. Kalonok yang bilang begitu,” jawabku.

Semua mata memelototi Kalonok, minta pembenaran. Namun, yang dipelototi hanya diam dan memandang lurus saja ke dalam petang, sebagai pertanda apa yang dikata bisa dipegang.

“Mungkin Ngeak ini keturunan elang,” imbuh Irin.

“Betul kamu keturunan elang?” tanya Ayen, memutar kepala ke arah Ngeak.

“Sudah jelas tak mendengar dia, kok tanya juga? Bodoh kamu ini,” cetus Cilik seolah-olah mewakili Ngeak untuk menanggap.

Seperti biasa Ngeak tidak ambil pusing akan apa yang meluncur dari mulut-mulut kami, yang tidak mencapai pendengarannya; mulut-mulut yang sering asal bunyi tanpa arti. Seperti biasa pula sikapnya tenang lagi berwajah lempang. Senantiasa dia merasa sukacita menengok orang lain berbahagia, merasa gundah menengok orang lain susah. Dia sangat perasa dan bertoleransi tinggi, mudah tersenyum saat orang ceria, gampang menitik air mata saat orang dirundung duka.

Saking perasanya, diimbangi daya pendengaran maya yang luar biasa, konon kabarnya di tengah-tengah prahara badai pun mampu telinganya menangkap bunyi tapak kaki kucing, yang anggun melangkah di dusun lain. Konon pula kabarnya hidungnya dapat mencium bau malaikat maut yang lagi berjalan selangkah menghadap surut dan mematut-matut nyawa yang hendak dicabut.

Saat tiba di tepian mandi, awas-awas mata kami meneliti setiap jengkal tanah di sekeliling kalau-kalau ular besar yang diburu tadi memang sedang mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balasan yang mematikan. Tetapi, kekhawatiran itu tidaklah berasalan lantaran sosoknya sama sekali tidak kelihatan. Yang ada hanyalah melodi alunan sungai bening yang sesekali ditingkahi siulan merdu burung petang yang menyanyi untuk kami dan bumi.

(bersambung)

MENCIBIRI SIAPA?

Adalah Albert Einstein (1879-1955), sang jenius, yang mematri teori relativitas, pemenang Hadiah Nobel Fisika, dan diakui luas sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20. Pemikirannya menyumbang pada penciptaan bom atom yang melumatkan ratusan ribu nyawa pada PDII, tetapi belakangan mengakui salah satu kesalahan terbesarnya, yaitu menganjurkan Presiden Roosevelt mencipta bom atom, namun membenarkannya pula lantaran bahaya Jerman yang saat itu juga merancang bom atom. Dia adalah pencinta damai dan mengutuki penjatuhan bom atom di Jepang.

Pada awalnya bapaknya hanyalah penjual ranjang belaka, tetapi bersemangat menyediakan pendidikan buat si Einstein kecil. Lantaran tidak tersedia peta menuju ranah keberhasilan, anak-anak harus diajari betul bahwa jalan menuju ke ranah itu haruslah dibuat dengan tangan sendiri. Namun, orang tua jualah yang perlu menyedia petunjuk dasar bagaimana merambah jalan tersebut.

Pemberian dorongan, semangat, atau motivasi yang terus-menerus akan merangsang perkembangan otak anak, yang akan membuatnya nanti bisa berpikir sendiri, kreatif, progresif, tanpa disuruh-suruh. Orang tua berperanan amat guna menempa jiwa mereka agar berpikiran empiris (yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah), mandiri, dan tidak cengeng kelak; kecengengan yang akan dicibiri Einstein dan anak-anak.

Wajah mencibir ini merupakan salah satu potret Einstein yang paling dikenal di seluruh dunia. Mungkin dia agak jengkel lantaran selalu dipotret di mana-mana dan mancibir, atau mencibiri manusia yang sibuk-sibuk mengelu-elukan keunggulan agamanya yang irasional.

Yang ikut-ikutan mancibir ekspresif di foto terlampir adalah anak-anak Indonesia. Mungkin kedua anak ini akan menjadi orang biasa saja, setingkat Einstein yang Yahudi, atau melebihinya. Tiada yang tahu karena seorang anak bisa melompat sejauh kodok melompat, atau jauh melambung melampaui pagar angkasa raya, seperti biji pohon jati yang selang membesar, yang julang mencuar.
einstein-mencibir

PILU YANG MENGHUJANI KALBU

Sang bapak meninggal saat anak dusun ini masih bersekolah, sehingga familinya ikut menyingsingkan lengan baju guna menyokong pendidikannya. Dia, Luthfiati, anak yang sangat rajin, punya nilai rapor yang tinggi, gigih berusaha, sehingga bisa memasuki gerbang Universitas Andalas. Penyelesaian kuliahnya juga tidak terlepas dari bantuan orang tua asuhnya di Jepang yang disalurkan lewat proyek beasiswa yang kami kelola. Kegigihannya bermuara pada diterimanya dia sebagai staf Bank BRI di Padang Panjang; suatu prestasi kemilau yang pantas diperolehnya.

Saban kali terdengar kami berada di Padang, dia bersama keluarganya dan terkadang ibunya selalu menyempat diri menemui kami. Ada-ada saja buah tangan yang dibawakannya dari Padangpanjang, yang kami terima dengan rasa bahagia dan rasa terima kasih. Tentu saja, tidak pernah kami mengharap buah tangan tersebut, tetapi merasa senang sekali bisa jumpa dengan orang yang menepisi kabut abu-abu yang membelenggu, tegar, berjuang memetakan jalan hidupnya sendiri, dan berhasil mandiri dalam hidup ini.

Yang membahagiakan lagi adalah selalu dia menanyakan bagaimana keadaan orang tua asuhnya yang sudah manula di Negeri Sakura, yang mencerminkan betapa dia orang yang selalu ingat akan kebaikan orang, kepada siapa dia berhutang budi. Sikap baik tersebut dipahami orang tua asuhnya sehingga mau terus mengulurkan tangan guna membantu anak dusun lain bersekolah; suatu teladan yang patut kita tiru, di samping juga sifat tegar, tenang, dan rendah hati itu.

Berita mengenai berpulangnya Luthfiati sangat menyentak hati, memilukan hati. Pembedahan untuk mengangkat kanker usus yang dideritanya tidak berhasil dengan baik, yang menyebabkannya cepat-cepat saja kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Di sisi lain, meninggalnya Luthfiati di masa yang masih muda ingatkan kita lagi bahwa tiada yang tahu apa yang bakal terjadi esok hari, apakah kita akan sakit, hidup tenang, atau sudah mati. Adalah lumrah kita mempersiapkan segala sesuatunya yang akan membuat hidup ini berjalan dengan lancar dan tidak menjadi beban bagi anggota keluarga yang lain.

Anak muda perlu belajar gigih untuk merambah jalan hidup, tidak cengeng berlayar di lautan nasib yang bergelombang, tidak berlebihan (makan minum), tidak perlu modis (pakaian), dan sebagainya, apalagi selagi masih menggantungkan hidup pada orang tua atau orang yang lain.

Luthfiati, yang menolak dipermainkan nasib, bisa dijadikan sosok teladan yang tenang, rendah hati, bersahaja, dan berhati tegar penerjang badai dalam merambah jalan hidup ini.

WARNA PETANG DI DUSUN ITU (5)

Serat-serat mentari petang sudah mulai berwarna jingga tatkala kami mulai menapaki pematang sawah luas yang menuju tepian mandi. Di atas dusun hijau kami, di sebelah timur yang jauh, terpandang sejumput awan putih bersih mengapung kesepian diam di kubah angkasa terancam warna jingga yang ditebari sang mentari. Ada noktah tipis kecil berkilat redup melayang pelahan bagai akan membelah bungkahan awan itu, yang membuat mata kami sejeank tatap memaku.

“Pesawat terbang, ya?”

“Pasti terbangnya ke Padang.”

“Padang di sebelah kanan, jadi pasti ke Amerika.”

“Memangnya tidak gamang orang naik pesawat terbang?”

“Pasti gamang semuanya, pucat muka seperti mayat.”

“Tak ada jalan di langit. Jadi, tak akan aku kuat naiknya.”

“Naik mobil saja belum kita, konon lah pula naik pesawat terbang.”

“Ya, betul.”

Semua lantas diam membisu menikmati pesawat terbang yang kian jauh kecil melaju, suatu tontonan yang jarang sekali bisa menjamu mata dalam setahun. Akhirnya noktah putih itu mengecil dan mengecil sehingga akhirnya lenyap ditelan langit yang melebur impian. Begitu saja kami membalikkan badan dan lagi mengayun tungkai menelusuri sawah yang padinya sudah dipanen beberapa waktu yang lalu.

“Aah …, Aah …!” tiba-tiba Ngeak bersuara keras mengejutkan kami.

Semua menghenti langkah dan menirus mata ke arah telunjuk yang diaju-ajukannya. Di samping pematang, di balik batang padi yang sudah disabit, terpandang seekor ular sawah yang cukup besar panjang diam bergelung-gelung menanti mangsa datang menjelang. Ular yang berekor sekitar 4 meter itu (Semua badan ular adalah ekor!) pastilah lagi mengintai kodok, tikus, atau makhluk lain. Keberadaannya sukar disadari lantaran berwarna tanah sawah mirip sekali. Batang tubuh kami mungkin terlalu besar bagi mulutnya dan hanya bakal mendesis saja sebagai peringatan agar tidak terlalu dekat padanya.

Sudah menjadi hukum alam barangkali kalau sesuatu yang dianggap akan menjadi ancaman dalam kehidupan perlu disingkirkan dan kalau perlu dimusnahkan. Bagi kami sendiri yang kelangsungan hidupnya ditopang oleh keberadaan alam sekitar, binatang yang akan mengerkah hewan peliharaan atau diri sendiri dikategorikan sebagai musuh yang perlu dibasmi, paling tidak disuruh berkirap jauh dari dusun kami. Dengan sendirinya dari tangan-tangan kecil kami gumpalan tanah sawah begitu saja beterbangan tanpa rehat ke arah sang ular yang membuatnya merasa terancam, lekas-lekas melarikan diri, dan menghilang dalam semak belukar di samping sungai.

“Wah, ular itu larinya ke sungai!”

“Kita melemparnya dari sini, ya larinya ke sana.”

“Mungkin dinantinya kita di sungai itu.”

“Malahan bagus karena banyak batu di sana yang bisa melayang ke arahnya.”

Pernah suatu kali kami yang berani mati memburu seekor ular di belakang rumah berumput antusias sekali yang memaksa sang ular secepat mungkin menjalar lari. Saat jarak kami memendek, sang ular yang merasa terancam betul nyawanya mendadak berhenti sembari menaikkan kepala menghadap ke arah kami, seakan-akan berucap, “Ayo sini, kalau kalian berani!” Ini sangat mengagetkan, membuat kami mengerem lari, dan balik lintang pukang melarikan diri. Ternyata sifat bernyali dan berani mati hanya dimodali saat musuh kelihatannya lebih lemah daripada diri sendiri.

(bersambung)

DINGIN MENDINDING BEKU

Hari-hari belakangan kian banyak udara beku dari kutub utara diboyong memerciki seluruh permukaan Negeri Sakura, terutama di wilayah utara yang berlangit jarang tembus cahaya. Fenomena ini ingatkan kita lagi bahwa saban tahun sang bumi yang lonjong senantiasa berputar-putar mencong-mencong, menyondong-nyondong ke arah matahari kepada siapa ia berutang budi.

Di beranda terpajang pot bunga yang membopong bunga mungil yang masih keluarga nadeshiko; bunga yang kuat hidup bertahan dalam gigitan musim salju yang gosong. Hanya sekali dua minggu kuberi minum dan sisa air yang terdapat dalam penyiram membeku terus menjadi, terutama pada suhu – 7˚ Celcius di pagi kelabu yang bersalju ini.

Kolam luas, yang mengambil jarak tak jauh dari apartemen kecilku, permukaannya juga sudah membatu es. Boleh jadi di malam hari peri-peri turun melancong dari langit dan bersilancar di atasnya. Tengah bermimpi aku menikmati lagu keroncong, boleh jadi pula biniku yang kelahiran daerah paling utara, Pulau Hokkaido, yang bersuhu bisa mencapai – 30˚ Celcius itu menggendong rindu, diam-diam menyelinap ke luar di malam hari, menyongsong peri-peri, dan ikut-ikutan berskating bersuka ria di atas permukaan kolam itu.

Kemarin dulu tatkala berangkat kerja, aku ditodong pemandangan dinding dingin pagi bersuhu – 3˚ Celcius, sebagaimana foto terlampir. Terkadang udara hangat, yang menyelimuti diri sepanjang tahun di negeri tropis nun jauh di seberang lautan, menghasut rindu bertumpukan, dimabuk angan-angan. Tetapi, tak boleh kumelolong, hari esok mesti disongsong tanpa banyak cincong.salju

WARNA PETANG DI DUSUN ITU (4)

Sesampai di lembah, mata kami diserbu oleh panorama yang indah memesona, hamparan sawah beda ukuran yang menjembatani kaki bukit dan sungai, sesuatu yang tidak akan ditemui di mana pun di dunia dan mungkin pula di sorga. Pemandangan yang tersulam angin sepoi merayap riak sunyi ditemani capung-capung yang mengembang sayap di petang yang senyap.

Berpapasan kami dengan seorang lelaki yang memanggul cangkul di bahu, menjinjing sebongkah ubi kayu, tuju dusun di punggung bukit. Dia famili kami yang pula menyandar hidup dengan bertani. Ya, bertani adalah satu-satunya kerja yang tersedia di sini dan swasembada pangan yang penuh membebaskan diri dari kecemasan akan dipecat oleh atasan di kota apabila bermalas-malasan.

“Dari sawah, Paman?”

“Ya. Kalian mau ke sungai?”

“Ya, Paman.”

“Tadi kulihat rusa di seberang sungai itu.”

“Oh, ya?”

“Waktu lihat aku, lari dia cepat-cepat masuk rimba.”

Selepas melenggang kami melenggok menelusuri jalan setapak yang berbelok-belok, di samping kiri terdapatlah pincuran yang selalu mengalirkan air bersih sepanjang tahun, tempat untuk mandi dan sekaligus sumber air untuk memasak bagi seluruh isi dusun. Hak guna perigi sepenuhnya berada di telapak tangan wanita, tetapi pria masih diperkenankan memakai seandainya tidak ada bayang makhluk itu hadir di sana. Adalah tindakan arif meninggalkan pincuran segera sesudah terlihat wanita datang mendekat dari arah tebing atau dari sawah di sekeliling, sebelum petir menggelegar dari mulutnya agar berkirap cepat dari sana. Pelajaran penting bagi lelaki yang diperoleh sewaktu kecil adalah terkadang perempuan lebih menakutkan daripada harimau.

Perigi ini agak menjorok ke dalam tebing dan tidak akan tampak orang yang mandi dari arah jalan setapak. Andai ada wanita yang berdiri dekat perigi, berarti ada yang lagi mandi sehingga lelaki diharamkan melewati. Saat begini, yang bisa dilaku adalah menunggu di kejauhan hingga ada isyarat izin dari sang penguasa akan bolehnya melintasi teritori mereka. Jadi, lelaki perlu menyelaras diri pada aturan baku yang sudah terbentuk sedari dulu; boleh jadi aturan baku ini adalah hasil musyawarah kongkalingkong di antara kaum hawa itu.

Setumpak sawah yang menghijau daun meneruskan jalan ke parit kecil, tempat bermukimnya ikan lele yang sering menyangkut di pancingan kami. Melangkahi dasar parit untuk menyeberang adalah cara yang lugas, tetapi meminggir ke samping kanan, menjauh berancang-ancang, berlari sehabis daya, dan melompat tinggi di atasnya adalah cara yang taat azas, sesuai dengan tuntutan jiwa anak laki-laki yang penuh vitalitas. Yang belum punya kiat bernas lepas landas tidak bakalan sampai ke seberang, melenjit sungsang, tersangkut morat-marit, menyelongsor badan ke dalam parit, dan terpaksa bergerak menuju tempat yang aman untuk diseberangi. Suatu hiburan alami yang mengundang gelak tawa semuanya.

“Bodoh amat kamu melompat!” sindir Undin.

“Tergelincir aku waktu berlari,” dalihku.

Dalih yang bagus sekali untuk mengusir rasa malu dan menyelamatkan muka akan ketakmampuan diri. Sifat berdalih begini, demi menutupi kekurangan atau kelemahan sewaktu kecil, menjadi benih negatif yang terpupuk dalam jiwa manusia dewasa yang lapuk.

(bersambung)