RENDANG 牛肉のココナッツ煮込み

hanaKami jarang makan daging, paling-paling sekali dalam satu dua bulan. Hana biasanya bikin rendang jika hendak meninggalkanku dalam waktu yang lama. Malam ini dia bikin rendang. Besok berangkat dia ke Hokkaido, pulau kelahirannya yang terletak di paling utara Jepang, dan tinggal di sana selama dua minggu bersama udara dingin yang mulai mendayu-dayu.

Pernah dia tengok almarhumah bundaku yang lagi bikin rendang sewaktu pertama kali datang ke Padang dan tercengang-cengang akan lamanya waktu yang diperlukan sampai siap dihidangkan; sesuatu yang tidak ada dalam masakan Jepang. Rendang itu yang parohan keduanya digawe dengan api kecil yang perlu terus-menerus dibalik-balik, diobok-obok, disodok-sodok, disorong-sorong, agar tidak gosong dan bumbunya merata jauh menyusup ke dalam daging secara utuh.

Selepas itu dia belajar sendiri dari buku bagaimana membuat rendang yang enak untuk suaminya yang tercinta (mungkin). Dengan jumlah daging sebanyak itu, perlu dimasak sekitar 4 jam sampai nyam betul, tetapi 3 jam saja kuminta sudah cukup, lantaran kasihan padanya yang mesti terus bekerja membalik-balik. Terkadang kugantikan posisinya.

Sebagian rendang itu diboyongnya ke Hokkaido untuk kakak perempuannya, Mayumi. Dulu waktu tiba di Padang pertama kalinya, sang kakak pun jatuh cinta pada rendang, dan terkadang mengisi mimpi-mimpinya di Jepang. Jadi, dia sangat menanti kedatangan rendang pedas yang sudah dipersiapkan oleh Hana. Memang sering kali media massa internasional memilih rendang sebagai salah satu masakan yang terenak di dunia, tetapi boleh jadi terlalu pedas bagi kebanyakan manusia negeri sakura.

Rendang kering yang awet berminggu-minggu ini menjadi peradaban yang penting dalam menyangga nasib buruk lelaki Minang yang dibuang oleh sistem matriarkad, khususnya semasa kendaraan belum hadir dalam hidupnya, sehingga perlu berjalan kaki jauh menuju daerah atau provinsi yang hendak dituju. Jadi, waktu itu mereka menenteng rendang yang disedia oleh bundanya dan memanggul peti mati yang disedia oleh sistem matriarkadnya untuk diguna di ujung dunia.

Dalam ketakhadiran bini, hidup sendiri didampingi usia yang terkondisi serta sifat lupa yang mulai sering menjangkiti, menggegar kesadaranku harus berhati-hati berlaku saban hari. Apabila masak sesuatu sembari kerja, maka di atas meja, di depan incat mata, selalu ditaruh burung hantu mainan dari granit yang mungil sebagai pengingat, aku lagi masak, berjaga-jaga tidak terjadi di dapur hal yang gawat, yang akan bikin aku kualat.

Sang kompor akan mati otomatis apabila ada yang tak beres dengan perapiannya. Tetapi, keberadaan sang burung hantu mampu menyedia rasa aman yang lebih. Matanya yang teduh menatapku lurus tak berkedip, seolah-olah berucap secara meyakinkan, “Selalulah turuti perintah binimu, atau merihmu terbang ditebas pedang samurainya!” Untungnya, burung hantu yang setia ini tidak pernah minta rendang sebagai upah untuk mengingatkanku.

SIMPATIKU PADA KAUM LGBT

Dalam setiap manusia terdapat hormon pria dan wanita yang memengaruhi perasaannya, termasuk rasa birahi terhadap lawan jenisnya. Terkadang lantaran suatu sebab, hormon wanita dalam diri seorang pria bisa bertambah drastis, sehingga merasa lebih nyaman dan bahagia dia menjadi seorang wanita; begitu pula sebaliknya. Bahkan sedari kecil ada pria atau wanita yang merasakan benar tidak sejalannya bentuk fisik dan perasaan kelamin mereka yang menimbul derita berkepanjangan hingga beroleh percaya diri dalam penerimaan. Ini banyak sekali terjadi di dunia. Seorang dokter atau biolog tentunya bisa bercerita panjang lebar tentang hal ini.

Kita tidak akan pernah bisa 100% merasakan derita batin kaum LGBT (Lesbian, gay, bisexual, and transgender), walaupun memahami hukum alam, walaupun meletakkan diri pada posisi mereka, apalagi kalau hanya membenci tak berketentuan saja. Adalah wajar kita bersimpati dan memberi udara segar buat kaum minoritas itu. Ngomong-ngomong, sekarang ada orang tua asuh yang LGBT yang ikut dalam proyek beasiswa uang kujalankan.

Tentunya paham pula kita bahwa fenomena LGBT tidak hanya terjadi pada spesies manusia, melainkan juga terjadi pada spesies hewan yang bisa berganti kelamin satu sama lain sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

Kalau mau terbuka dan konsisten dalam berpikir dalam ranah agama, kita mesti menerima fakta nyata perubahan hormon tersebut sebagai hukum alam yang sudah diketahui dan disahkan oleh Tuhan sebelumnya. Jadi, Tuhan sudah tahu jauh hari apakah seseorang itu akan menjadi kaum LGBT atau tidak sebelum dianya dilahirkan.

Saya yakini sifat LGBT ini sudah hadir sebelum Masehi karena sifat begitu juga muncul dalam dunia binatang yang terus berevolusi. Hanya saja pengesahan akan keberadaannya oleh ilmuwan, yang membuat banyak orang awam panik, histeris, dan berasa besok mau kiamat di Indonesia. Tatkala membicarakan soal LGBT, urusan bersetubuh saja yang duluan muncul dalam otak cabul mereka, sembari tidak lupa mengutip-ngutip ajaran agamanya yang irasional.

Bagi orang negara maju yang berpengetahuan sains luas, hal ini biasa-biasa saja, tidak dipermasalahkan. Aku punya teman homo di Amerika, Jepang, Taiwan, serta Belanda dan perasaanku biasa-biasa saja waktu jumpa. Andai anakku, misalnya, menjadi LGBT, tiada alasan bagiku untuk mencak-mencak dan akan menerimanya biasa-biasa saja sebagai kehendak Tuhan. Sebab, itu adalah sifat alam dan hak azasinya yang tidak boleh direnggut.

Tiada seorang pun yang berhak merampas hak azasi yang sudah melekat pada setiap manusia dengan alasan apa pun.

——-

Menristek M.Nasir CABUT PERNYATAAN LGBT MERUSAK MORAL BANGSA &  PELARANGAN MASUK KAMPUS

Hukum tertinggi Republik Indonesia, UUD 1945, telah menjamin hak asasi manusia setiap warga negara, termasuk di dalamnya LGBT. Ada sekitar 40 hak konstitusional warga negara Indonesia, Beberapa hak yang dimaksud di antaranya hak untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi (Pasal 28 F), hak mendapatkan pendidikan (pasal 31 ayat 1, pasal 28 C ayat 1 ), hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul (28 E ayat 3), hak untuk menyatakan pikiran (28 E ayat 2), hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun (Pasal 28 I ayat 2), dan masih banyak lagi.

Seperti kita ketahui WHO pada 1990 telah mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa, yaitu pada nternational Classification of Diseases (ICD) edisi 10. Asosiasi Psikologi Amerika menyatakan bahwa penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa homoseksualitas adalah variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia. Sejak kali pertama diterbitkan pada 1952, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) menuai pujian dan juga kritik. Hingga kini, DSM sudah mengalami revisi lima kali. Dalam edisi ke-5 baik homoseksualitas maupun identitas trans* tidak lagi digolongkan sebagai gangguan jiwa. Indonesia juga tidak ketinggalan melalui Pedoman Penanggulangan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) ke II pada tahun 1983 dan III tahun 1993 telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa. LGBT juga sudah dikeluarkan DSM (Panduan Diagnostik dan Statistik untuk Gangguan Jiwa) versi IV dan V (diterbitkan oleh Asosiasi Psikiatri Amerika) dan ICD (Petunjuk Internasional untuk Penyakit yang diterbitkan WHO/Organisasi Kesehatan Sedunia), serta PPDGJ (Pedoman Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa) versi III dari Indonesia.

https://www.change.org/p/menristek-m-natsir-cabut-pernyataan-lgbt-rusak-moral-bangsa-larangan-masuk-kampus

lgbt

MENGENANG WAKAKO SATO 佐藤和佳子を悼んで

wakakoBegitu saja air mata merembesi pipiku saat mendengar berita duka yang tak dinyana tentang bekas pelajarku, seorang dokter hewan yang baru berusia 23 tahun, relawan JICA Jepang, berpulang di Dusun Garahan, dekat Jember, Jawa Timur, karena kecelakaan lalu lintas. Itu terjadi 20 tahun yang silam. Perasaan yang sama muncul memenuhi jiwa beberapa hari yang lalu saat mengenang keberadaannya.

Selepas menamatkan perguruan tinggi, dia bergabung menjadi relawan, lantaran ingin menyumbangkan ilmu pengetahuan di negara berkembang, agar kehidupan warga di sana menjadi lebih baik. Merasa beruntung aku bisa mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepadanya dan beberapa murid lain yang sangat antusias belajar. Sifatnya yang ceria mencipta suasana kelas selalu dipenuhi oleh gelak tawa saban hari.

Relawan seperti gadis muda yang berhati mulia dan berjiwa universal ini mau membantu siapa pun, tanpa peduli apa bangsa dan keyakinan yang dianut mereka. Usaha keras dengan mengorbankan waktu dan pikiran dilaku, demi mengubah kemiskinan menjadi kebahagiaan. Jiwa sukarelanya tidak terkungkung isme tertentu dan jauh dari kebiasaan banyak manusia agamis, yang hidup membeda-bedakan diri dengan penganut agama lain, sembari tidak pernah bosan-bosannya menyuarakan keunggulan-keunggulan agama irasionalnya.

Kegigihannya, untuk menyelamatkan mereka yang tersangkut di tebing jurang derita, perlu diacungi jempol tinggi-tinggi. Dia tabah hidup dan mengajar di dusun terpencil dengan jalan tanah yang berbeda jauh dengan negaranya yang dipenuhi oleh kepraktisan hidup yang menyenangkan. Senyumnya yang melimpah dan tabiatnya yang ramah membuat warga dusun menganggapnya sebagai keluarga sedarah.

Raganya sudah kembali ke haribaan bumi, tetapi jasa baiknya akan tetap dikenang. Kendati namanya kelak lenyap ditelan masa, kebaikannya yang tak terlihat akan tetap terpahat di hati banyak orang dan di hati bumi yang melahirkannya.

(Tulisan di bawah adalah terjemahan bahasa Indonesia dari artikel ibunya yang dimuat di salah satu surat kabar di Jepang)

Harian Sakigake, 19 Oktober 2004

IMPIAN ANAK-ANAK INAZAWA YANG MELINTASI LAUTAN
Pertalian dengan SD di Indonesia
Oleh Seiko Sato

“Cuti musim panas ini saya akan pulang kampung. Mau ikut?” ajak Bapak Edizal, yang bertugas sebagai pengajar bahasa Indonesia di Pusat Latihan Nihonmatsu, dan istrinya. Hal tersebut mendorongku menggunakan musim panas tahun ini untuk melakukan perjalanan ke Kota Padang yang terletak di Pulau Sumatra, Indonesia. Sepuluh tahun yang silam anak perempuanku, Wakako, belajar bahasa Indonesia di bawah bimbingan beliau di Pusat Latihan Komagane, Provinsi Nagano.

Kecelakaan yang tidak dinyana pada tanggal 20 Agustus 1996 di Jember, Provinsi Jawa Timur, menutup lembaran hidup Wakako tatkala dia berusia 23 tahun. Di salah satu sudut lahan peternakan dibuatkan makamnya untuk memenuhi perasaan hatinya sebagaimana yang tersirat dalam salah satu suratnya sebelum meninggal, “Amat suka saya akan kehidupan di sini, akan orang-orang dusun ini”. Tiap tahun berziarah aku ke makamnya, tapi tahun ini anak muda yang biasa menemaniku sibuk dengan kegiatannya yang membuatku berpikir-pikir bagaimana baiknya.

“Kalau begitu, mengunjungi Empi dan Nova saja!” Dengan demikian, hasrat yang besar menyelubungi hati untuk bersua dengan anak asuh saya yang berasal dari Dusun Kayupasak. Sejak Bapak Edizal memperkenalkan program anak asuh, aku menjadi orang tua asuh sejak 6 tahun yang lalu. Ditemani oleh Kiyoko Kudo, kami menginap di rumah orang tua Bapak Edizal dan menikmati hari-hari yang penuh arti mencakup kegiatan kunjungan ke SD, universitas, berbincang-bincang dengan murid dan mahasiswa, jalan-jalan ke kota dataran tinggi yang bernama Bukittinggi, mengenakan kimono kepada mahasiswi dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal dan sebagainya.

Tanggal 29 Juli kami mengadakan kunjungan ke SD 22 yang terletak di Padang. Pada waktu itu diserahkan titipan barang dari anak SD Inazawa yang terdapat di Kota Kyowa yang dibawa dari Jepang berupa gambar, kaligrafi, surat, kertas origami, panel foto dan sebagainya. SD Inazawa adalah SD kecil yang seluruh muridnya hanya berjumlah 22 orang, tapi sangat aktif mengembangkan kegiatan pendidikan dengan melaksanakan “Usaha Menyokong Proyek Impian” yang dicanangkan oleh Dewan Penilik Pendidikan Wilayah. Salah satu menu yang mengemuka adalah “Pengertian dan Kerjasama Internasional” sehingga diciptakan hubungan dengan SD di Padang lewat pengiriman karya murid. Tahun sebelumnya hal yang sama juga dilaksanakan dengan SD di Dusun Garahan, Jawa Timur.

Murid SD 22 berjumlah 174 orang dan semua gurunya adalah wanita. Murid-murid menyambut kami dengan agak tegang kelihatannya dan kemudian mempersembahkan tarian selamat datang. Barang bawaan diterangkan satu persatu yang diterjemahkan oleh Bapak Edizal. Kertas origami dibagikan dan diajarkan cara membuat bangau dan kodok. Mereka bisa paham dengan cepat dan girang sekali dengan hasil buatannya. Kiyoko Kudo memperkenalkan lagu “Oki na Kuri no Shita de” dengan menuliskan baitnya di papan tulis, pintar mengajarkannya dengan gerakan tangan, dan menyanyi bersama-sama.

Tatkala ditanya, “Siapa yang mau ke Jepang?”, secara serempak mereka mengacungkan tangan dan suara tawa riuh memenuhi kelas, “Saya! Saya!”

Aku berbicara sambil memegang buku terbitan Tokyo Shoseki yang berjudul “Moral – 6 – Menuju Hari Esok” tentang “Impian Wakako” yang digunakan di Provinsi Akita. Wakil kepala SD Inazawa, Bapak Ito, menulis tentang kegiatan Wakako yang menjadi relawan dan terjemahannya yang ditulis oleh Bapak Edizal diserahkan kepada anak-anak di sana. Kuberharap agar keinginan Wakako menjadi jembatan penghubung persahabatan Jepang dan Indonesia bisa terwujud sedikit demi sedikit.

Sebagai balasannya, kuterima sekitar 50 gambar anak-anak yang alami mencakup pemandangan laut, gunung, ladang, bunga, tokoh sejarah, dan sebagainya. Semuanya kubawa dengan hati-hati ke Jepang dan diserahkan kepada SD Inazawa bersama-sama dengan foto dan video.

Tanggal 1 September berkumpul 22 murid SD Inazawa di aula. Kulit anak-anak tersebut semuanya bersuasana musim panas dengan bola mata yang berbinar-binar. “Selamat siang. Hari ini aku akan berkisah tentang SD yang ada di Padang,” ucapku. Dari murid kelas 1 yang lugu sampai murid kelas 6 yang memperlihatkan pertumbuhan yang kuat semuanya menyimak dengan wajah yang serius. Manakala diperlihatkan video yang menayangkan karya sendiri, melimpah suara mereka dalam keterharuan. Perasaan ajaib memenuhi jiwa mereka selepas mengetahui karya sendiri dilihat oleh anak-anak seusia yang berada di negara lain.

Pertanyaan terbuka seperti, “Mereka makan apa?”, “Siang hari ada berapa jam?”, “Apakah ada makan siang yang disediakan oleh sekolah?” dan sebagainya mengalir sesudahnya. Sembari menjawab pertanyaan mereka satu per satu, membersit hasrat agar anak-anak ini dari sekarang pun tetap tertarik kepada negara yang disebut “Indonesia”. Hal tersebut dilandasi oleh keyakinan saya bahwa “minat”, “ketertarikan” merupakan awal dari “pemahaman internasional”, “pertukaran internasional”.

Tanggal 16 Agustus menjelang hari meninggalnya Wakako, relawan dari berbagai pelosok Indonesia dan lain-lainnya berangkat menuju Dusun Garahan yang jauh untuk berziarah ke makam Wakako. Kuterima imel yang menyatakan tentang Pustaka Wakako yang disumbangkan ke SD tersebut digunakan dengan baik dan orang-orang dusun menantikan dengan harap akan kedatanganku pada musim panas tahun depan.

Perlahan menggelembung impianku agar kelak anak-anak kedua negara bisa saling berkunjung, saling berkomunikasi, dan ini menjadi batu loncatan bagi kegiatan yang lebih luas ke seluruh dunia.

MENGARUNGI LAUTAN KEHIDUPAN

Terlahir aku sebagai anak kedua dari empat bersaudara di pedalaman Pulau Sumatra yang lengang. Keyakinan kuat ibuku bahwa berdiam terus di dusun tidak akan mengubah penghidupan anak-anak sehingga diputuskannya pindah ke kota dengan kondisi ekonomi yang menyedihkan.

Lantaran juga pengaruh sistem matriarkad yang kurang sopan terhadap anak laki-laki, selepas SMA hengkang aku merantau dan bersumpah tidak akan pulang kampung kalau tidak masuk perguruan tinggi di tanah Jawa, seperti sampan kecil yang bongkar sauh meninggalkan dermaga menuju lautan luas yang entah kapan tenggelam atau bocornya. Memang kapal yang kutumpangi pada dari Teluk Bayur ke Jakarta waktu itu sedikit bocor dan pompa air selalu dipekerjakan supaya kapalnya tidak istirahat abadi di dasar lautan.

Keinginan hendak menjadi pegawai perusahaan Jepang yang relatif menawarkan gaji yang lebih besar menjadi pendorong utama bagiku mencalonkan diri sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, IKIP Bandung (sekarang UPI) pada 1981. Kuteriakan pula sumpah pada langit dan Bumi bahwa badan buruk ini tidak akan muncul di kampung halaman sebelum menamatkan kuliahku.

Waktu memamah bangku tingkat tiga, impian menjadi pegawai perusahaan mengabur bersebab ada panggilan sanubari agar menjadi guru mengikuti jalan yang ditempuh nenek, ibu, dan kakak laki-lakiku. Tak pelak lagi pengetahuan kependidikan yang diperoleh selama belajar di IKIP Bandung ikut mendorong hasratku yang kuat untuk berkiprah dalam dunia keguruan.

Bekerja sambilan di sebuah percetakan untuk penambah-nambah biaya hidup merupakan pengalaman yang berharga dalam hidupku. Terutama kebaikan teman-teman seangkatan di IKIP Bandung memberi makan dan sebagainya merupakan kebaikan yang tak akan pernah pudar dari sanubari ini.

Meski sebagai pembelajar punya kemampuan otak yang rata-rata, namun aku merasa memiliki kelebihan dengan nilai tambah lebih banyak ketimbang rata-rata orang Indonesia yang lain, yaitu belajar sebanyak mungkin dan memercayai kesempatan bukannya ditunggu melainkan harus dicari dengan sepenuh hati.

Jadi, walau faktor keberuntungan juga berperanan dalam pemetaan jalan hidup, kuyakini faktor kesungguhan mempunyai motor pendorong yang lebih kuat daripada faktor keberuntungan tersebut. Ini juga merupakan cerminan dari pandangan Thomas Alva Edison (1847-1931) lewat ucapannya yang terkenal, “Genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration”. Hakikatnya, seseorang harus berusaha keras untuk maju. Pun seseorang akan bisa lebih cepat meraih sesuatu daripada orang lain yang lebih cerdas asal saja yang bersangkutan memeras keringat lebih banyak.

Cita-cita hendak menjadi guru bahasa Jepang pada salah satu SMA di Jawa Barat tidak kesampaian karena kebetulan ada lowongan kerja di Center for Japanese Studies, Universitas Nasional, Jakarta. Sesudah bekerja beberapa bulan di sini dan balik dari perjalanan singkat ke Jepang, barulah aku pergi menengok kampung halaman yang sudah kutinggalkan lebih dari 5 tahun bersebab sumpah yang harus kujalani.

Selama tinggal di Jakarta, hampir tidak ada kesempatan bagiku untuk mengajar bahasa Jepang sampai akhirnya beroleh kesempatan belajar di Universitas Hiroshima pada 1987. Seperti Bandung dan Jakarta, Hiroshima sedikit gagal mematangkan jiwa kecil mentahku dalam meniti penghidupan ini yang kala itu masih cenderung menyalahkan sesuatu atau orang lain atas kekurangan/kelemahan diri sendiri. Jalan yang berkerikil, yang sebagian besarnya disebabkan oleh faktor diri sendiri, menyebabkan cita-citaku banyak yang bergeletakan di tengah jalan.

Waktu belajar di Universitas Hiroshima berakhir, tiket pesawat balik ke tanah air yang sudah berada di genggaman berat dirasa lantaran kegagalanku memanfaatkan waktu dan energi secara optimal ketika tinggal di Jepang ditambah lagi dengan situasi ekonomi politik yang gunjang-ganjing di tanah air yang masih berada di bawah rejim diktator Suharto.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan ke Indonesia pada medio 1990, kebetulan datang informasi dari Prof. Arifin Bey yang waktu itu bertugas di Jepang sebagai dosen tamu tentang adanya lowongan mengajar bahasa Indonesia di sebuah lembaga pemerintahan dan segera saja aku mendaftarkan diri. Sesudah interviu, beberapa hari kemudian datang surat pemberitahuan bahwa aku diterima sebagai guru bahasa Indonesia di sana dengan kontrak kerja selama tiga bulan. Karena tidak ada masalah besar dalam pengajaran di samping juga kesehatan yang cukup prima, kontrak berikutnya diperpanjang setiap tahun.

Sekitar setahun berselang ada seorang perempuan yang berkenan mempersuamiku dan kami melangsungkan pernikahan di Amerika. Selama 10 tahun kami saling menjadi pasangan, teman, dan sekaligus guru di mana kami saling berbagi pengetahuan tentang hidup. Ikatan perkawinan dengan wanita Amerika itu dilerak kembali menjadi ikatan persahabatan dan dua tahun kemudian aku membentuk rumah tangga baru dengan gadis Jepang yang mantan muridku. Sementara itu dia beberapa tahun kemudian memulai hidup barunya dengan pria senegaranya. Kami masih sering berkomunikasi dan kadang-kadang dia mengirimkan bantuan keuangan untuk membantu anak-anak dusun yang miskin di Sumatra Barat.

Tidak beranak aku, tetapi mempunyai beberapa anak asuh yang di antaranya sudah ada yang menamatkan pascasarjananya. Mengalihkan uang untuk membesarkan anak-anak yang sudah terlahir malang ke dunia ini lebih baik daripada melahirkan anak sendiri manakala jumlah penduduk Indonesia makin membludak tak terkendali dewasa ini dalam tataran persaingan yang menciutkan hati.

Sangat disayangkan, kebanyakan dari penerima beasiswa tersebut tidak lagi memberi kabar sesudah beasiswanya berakhir atau sudah berhasil dalam hidupnya. Masih kurangnya kesadaran betapa pentingnya rasa berterima kasih ini dalam masyarakat kita merupakan faktor utama kenapa penerima beasiswa tersebut tidak lagi memedulikan keberadaan pemberi beasiswa yang sudah menyangga keberhasilan hidupnya tersebut. Kita tahu, seringkali orang tua yang tidak berdisiplin akan melahirkan anak yang tidak berdisiplin, orang tua yang tidak tahu berterima kasih akan melahirkan anak yang tidak tahu berterima kasih, dan seterusnya.

Banyak aku menulis buku yang berkaitan dengan kejepangan atau bahasa Inggris di sela-sela kegiatan rutin, tetapi sebagian besarnya hanya dicetak sekali saja dan selanjutnya hilang lenyap ke dalam Bumi. Sukar juga menyisihkan waktu memperbaiki kesalahan dalam buku-buku yang sudah diterbitkan karena waktuku banyak tersedot oleh pekerjaan mengajar, menggalang dana untuk membangun sekolah di dusun, menjalankan proyek beasiswa untuk anak-anak miskin, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Hubunganku dengan penerbit buku-buku awal terputus karena kurangnya informasi (termasuk kesalahanku sendiri) sedangkan sesudah itu penerbit buku yang lain bangkrut sehingga buku-bukuku pernah tidak lagi beredar di pasaran. Nanti waktu bakal mengetukkan palu keputusan apakah buku-bukuku yang sedang beredar di pasaran sekarang ini masih perlu diberi ruang ataukah harus dikuburkan mengikuti buku-buku yang lainnya.

Bayangan menjadi guru bahasa Jepang di salah satu sekolah di Indonesia terkadang melintas dalam kepalaku dan mereka-reka kapan hal tersebut bisa diwujudkan. Nantinya tidak hanya mengajarkan bahasa Jepang melainkan juga mengajarkan banyak hal kepada generasi muda di Indonesia bagaimana disiplinnya, tegasnya, tegarnya manusia Jepang menempa diri sehingga bisa memajukan negaranya yang dipanuti bangsa lain. Generasi muda Indonesia yang banyak berjiwa guyah lemah itu perlu lebih aktif menyimak gempitanya teknologi dan pengetahuan yang didasarkan kepada sesuatu yang bisa dilihat secara kasat mata, terukur, dan bukannya sesuatu yang buta logika seperti agama.

Nampaknya banyak kenalan yang menganggap aku berhasil dalam hidup, tetapi hampir semuanya tidak mengetahui betapa banyaknya kegagalan dan penderitaan panjang yang harus kucicipi. Tentu saja tiap-tiap orang punya penderitaan dalam kehidupan dengan tingkatan yang beragam dan secara umum manusia menjalani penghidupan yang sebagian besarnya diisi oleh kesusahan hidup.

Relatif kita beroleh berkah yang besar dengan perjalanan hidup yang kita nikmati selama ini dibandingkan dengan golongan bawah yang selalu berjalan tertatih-tatih dalam derita yang tidak juga kelihatan sinar kecil di ujung terowongan yang gelap itu. Kesadaran begini mendorongku untuk mengulurkan tangan sebanyak mungkin, walau dengan kemampuan yang sejumput, sampai perjalanan hidup ini berakhir di terminal penghabisan.

Aku berprinsip bahwa rasa terima kasih terhadap apa yang sudah dimiliki mestilah mengakar dalam hidup. Bisa aku memastikan diri bahwa sikap tahu berterima kasih ini membuat banyak orang di negara maju di Asia, Amerika, dan Eropa memercayaiku menyalurkan beasiswa dari mereka untuk anak-anak kampung di Sumbar, termasuk pendirian bangunan SD di daerah yang terpencil.

Sifat cengeng dan minta dibelaskasihani yang tidak akan menegarkan jiwa tersebut mestilah dibuang jauh-jauh dari kamus hidup kita. Juga kita mesti menghargai diri sendiri dalam tataran kebajikan di mana, kalau dianggap perlu, lebih baik menjelek-jelekkan seseorang di depannya dan memuji-muji seseorang di belakangnya.

Lebih baik ditipu daripada menipu, lebih baik dihina daripada menghina, dan selalu merasa bahagia melihat orang lain berbahagia merupakan adagium lain yang perlu dijiwai oleh semua orang di dunia ini. Di samping itu juga diharapkan orang-orang senantiasa punya pikiran yang positif dan memberi maaf atas kesalahan orang lain karena seringkali otak orang yang bersangkutan tidak mampu menyadari bahwa itu adalah suatu kesalahan atau kejahatan.

Sifat pemberian maaf ini pentinglah sekali diemban karena ketidaksukaan atau kebencian seseorang terhadap orang lain tidak hanya difaktori oleh kecemburuan, tetapi juga faktor lain yang tidak dipahami bahkan oleh orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, suatu kebencian tanpa alasan yang jelas. Barangkali psikolog yang juga mendalami dunia kromosom bisa memberi jawab atas gejala ini.

Dengan usiaku yang kian lanjut ini kekhilafan atau kesalahan masa silam yang tidak menyenangkan terkadang melintasi pikiran dan kupahami sebagai sesuatu yang tidak terelakkan karena jiwa raga yang masih muda waktu itu di mana belum mampu melihat dengan jelas garis demarkasi yang tegas antara yang baik dan yang buruk. Berbuat sebanyak mungkin, terutama membantu orang yang kurang beroleh rahmat di dunia ini, adalah juga semacam penebusan kesalahan yang kuperbuat selama ini.

Boleh jadi selembar jalan hidupku yang tercecer di pinggiran jalan akan dipunguti anak muda, dibaca, dan dijadikan pegangan hidup atau dibuang ke tempat sampah.

地球は一つの村

長年にわたって青年海外協力隊派遣前訓練のインドネシア語の語学授業を担当しているエディザル講師が自身の経験を通し、JICAボランティアへの思いを執筆した。

2016年8月24日

天才とは、1%の ひらめきと99%の努力である

その静かな村はインドネシア スマトラ島西部の緑あふれる山奥にある。6つの高床式の家に25人が住んでいるその集落は山腹に横たわっているため、村人は谷にある川へ水浴びや水汲みに毎日行かねばならない。子供たちは鉛筆やノートなども無く、曲がりくねった未舗装の道を下って、裸足で一時間の道のりを徒歩で、隣村にあるドアも窓も無い小学校に通っていた。私はその子ども達の一人で、たまに町からやって来るトラックの運転手が格好良く見えて、将来の夢はトラックの運転手になることだった。

家族と町に引っ越したため、それなりに夢の選択肢が増えた私は、必死に町の子供と競争をして学校生活を送り、やがて大学の日本語教育学科に入学した。日本に留学するチャンスも手に入れたが、私の教育費をまかなうために、両親は一所懸命に働き、一家の生活費を削らざるを得なくなった。そんな親の苦労を胸に、私は勉学に励んだ。

私の記憶力と学校の成績は人並み程度だったが、現在の職に辿り着けた要因は、努力を積み重ねたことであり、「天才とは、1%の ひらめきと99%の努力である」というトーマス・アルバ・エジソンの有名な言葉があるように、情熱こそが私の真の原動力である。本質的に、人は前に進むために汗をかく必要があり、常に努力し続ければもともとの能力が高い人より何かを早く手に入れることができる。

素晴らしい環境に生まれ育った日本の若者には、親の苦労を忘れずに一所懸命に努力をし、輝かしい将来を掴んで欲しい。それは親への恩返しの一つだろう。

情けは人のためならず  ~巡り巡って返ってくる~

30年程前に来日した私は、日本の先端技術については勿論のことだが、日本が自国よりはるかに清潔であることに驚き、それはずっと心に残っている。今でも、道端や公園でビニール袋を持ってゴミを拾うボランティアの姿をしばしば見かける。インドネシアの首都ジャカルタで、毎週日曜日にジャパンクラブの方々が道端のゴミを拾う活動がインドネシアのニュースに載り大きな話題となっている。その活動はインドネシア人のゴミに対する考え方に大きな影響を与えている。自分の住んでいる町や自分の住んでいる地球がきれいになれば、自分の気持ちも良くなり、他人の気持ちも良くさせることができるだろう。インドネシアではゴミ拾いの活動だけでなく、様々な分野で活躍する日本のボランティアが多くいる。

助けを求める人々の声に耳を傾け、ボランティア活動を展開していくには、勇気や情熱、根気や寛容さが必要となるが、活動を通して日本では感じられない自分らしさを再発見することもできる。それはその後の人生において重要な付加価値ともなる。また日本での普通の暮らしがどんなに恵まれているかを知る事ができ、あらためて日本人としての自分に誇りを持ち、より充実した日々を送ることができるだろう。多くの人を笑顔にする自分の活動が、世界のために大きな力になることに遣り甲斐を感じられるだろう。

交通環境が進歩したおかげで、地球は一つの村になった。どこかがきしむと、世界の隅々まで響き渡る。外国で起きている貧困の問題や戦争は、多かれ少なかれ日本にも影響を与えるのである。自己主義の色が濃くなった激動の現代にあって、世界を舞台に「水火を辞せず」の強い志を持ち、開発途上国のために日本のために、と海外で活躍しようとする思いには大きな意味がある。「情けは人のためならず」という広い視野を持って活動しているボランティアにこれからも尊敬の気持ちを持ち続けたい。

http://www.jica.go.jp/nihonmatsu/topics/2016/ku57pq00000fo8ed.html

KIMIGAYO 君が代

Lagu kebangsaan Jepang ini diciptakan pada 1869 atas anjuran instruktur band militer Inggris, John William Fenton, yang mengemukakan pentingnya kehadiran lagu kebangsaan yang belum dimiliki Jepang saat itu. Lirik lagu tersebut dipetik dari tanka (puisi 31 suku kata) yang terdapat dalam Kokinwakashu 古今和歌集, antologi puisi abad ke-10. Musiknya sendiri digubah tahun 1880 oleh Hiromori Hayashi yang merupakan musikus istana dan lantas dipoles oleh konduktor musik Jerman, Franz Eckert.

Meski pengesahannya sebagai lagu kebangsaan diundangkan pada 1888 dan diperbarui pada 9 Agustus 1999, sekarang pun masih banyak kelompok di Jepang secara terang-terangan menghendaki lagu tersebut tidak dinyanyikan, terutama dari kalangan pendidik. Alasannya, liriknya berisi pendewaan terhadap kekaisaran, tidak mewakili kesadaran rakyat keseluruhan, dan pernah digunakan kalangan militer untuk mengobarkan semangat sovinisme dan nasionalisme rakyat, yang bermuara pada penjajahan dan penderitaan bangsa Asia.

Pada Desember 1974 pemerintah menyebarkan angket mengenai lagu kebangsaan dan mendapat masukan bahwa 76.6% menganggap lagu ini cocok sebagai lagu kebangsaan sedangkan 9.5% menilainya tidak cocok.

Dulu Depertemen Pendidikan Pemda Tokyo menegaskan akan memberikan hukuman kepada guru sekolah umum yang tidak mau menaikkan bendera Hinomaru dan menyanyikan lagu Kimigayo pada upacara sekolah. Ini membuat berang asosiasi guru di sana dan mengumandangkan bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan kebebasan berpikir yang dijamin oleh UUD. Tahun-tahun belakangan ini rakyat yang menyokong keberadaan lagu kebangsaan ini kian meningkat dan sikap asosiasi guru melunak.

Ketua Komite Olimpiade 2020 Tokyo, Yoshiro Mori, yang pula bekas perdana menteri Jepang itu menyatakan bahwa mereka yang tidak menyanyikan lagu kebangsaan tidak bisa dianggap sebagai wakil Jepang. Banyak yang mengamini dan banyak pula yang menolak pernyataan tersebut. Prof. Yoko Shida, eksper UUD, dari Musashino Art University menyayangkan pernyataan sang ketua itu sembari menegaskan bahwa penguasa tidak boleh memaksakan baik jiwa Olimpiade maupun UUD ke dalam hati orang lantaran setiap martabat individu yang bebas perlu dihormati. (Harian Asahi, 23-8-2016)

KIMIGAYO君が代

Kimigayo wa 君が代は
Chiyo ni yachiyo ni千代に八千代に
Sazareishi no さざれ石の
Iwao to nariteいわおとなりて
Koke no musu madeこけのむすまで

Hiduplah sang kaisar!
Dari generasi ke generasi, selama-lamanya
Hingga bebatuan kecil
menjadi karang besar yang tinggi menjulang
berselimut lumut

Ctt: Terjemahan liriknya dirangkum dari beberapa bahan yang saya jadikan referensi, tetapi tidak menutup kemungkinan kurang akurat.

PEJANTAN PENCINTA PEREMPUAN MUDA

“Sudah kawin … sungguh, kalian lelaki yang sudah kawin tidak memberi kesempatan kepada para bujangan.”

Itulah ucapan yang melesat dari mulut gadis manis penyanyi bar saat menyentuh cincin kawin di tangan kiri tamu setengah baya yang menggamitnya menjalin hubungan asmara, sebagaimana yang tertuang dalam novel “Pengemis”, gubahan Naguib Mahfouz, sang peraih Hadiah Nobel.

Novel tersebut menggambar penyelewengan seorang pengacara kaya, yang sudah berbini beranak pula, yang mencari kesenangan ragawi di klub malam di Mesir. Tetapi gambaran tersebut bukanlah hal yang ganjil dalam masyarakat Indonesia, sama tidak ganjilnya dengan berjibunnya lelaki Indonesia yang doyan memperbini gadis yang berusia jauh lebih muda, sejalan dengan tuntutan libido yang mengaliri urat nadinya.

Sekapal laki-laki terkenal yang suka melalap daun muda di luar negeri kita ketahui, seperti Charlie Chaplin, Frank Sinatra, Woody Allen, dan Larry King. Dulu juga heboh di Jepang tentang seorang biksu kaya sebuah biara yang doyan bermain cinta dengan murid SMA. Cerita tentang biksu yang tidur dengan perempuan lain tidak begitu menjadi sorotan betul, tetapi pengakuannya bahwa dia sudah bermain cinta dengan lebih dari 100 murid SMA menerjang kesadaran orang terjungkang. “Dia sakit,” celetuk banyak orang.

Seorang temanku (40 tahun) yang pernah bertugas di Indonesia menyunting dan memboyong ke negaranya perempuan yang berusia 20 tahun lebih muda. Juga, seorang kenalan di Indonesia, direktur perusahaan real estate yang kaya raya, menginjak-injak kesetiaan istrinya demi mengeloni perempuan yang jauh lebih segar. Terbetik pula berita tentang Broeri Marantika yang mati meninggalkan bini yang berusia 30 tahun lebih muda dan tentang Ismet Siregar, jutawan kelapa sawit yang sudah beranak pinak, punya anak di luar nikah dengan biduan Dewanti Bauty yang jauh lebih muda. Yusril Ihza Mahendra (50 tahun) yang menikahi perempuan 23 tahun juga pernah bikin heboh Indonesia. Itu hanyalah segelintir pejantan golongan atas yang terbudur incat matanya menengok perempuan yang beraut wajah jauh lebih muda.

Guruh Soekarno Putra (49 tahun) mempersunting wanita yang berusia 22 tahun. Dari segi umur yang berbeda 27 tahun itu, mestinya gadis itu lebih layak dijadikan anak angkat, dikawinkan dengan anak saudara/kenalan, dan bukannya diperbini sendiri. Adakah dia mewarisi sifat bapaknya yang doyan mengawini gadis-gadis muda?

Presiden Sukarno, sang orator ulung, diktator ulung, sekaligus berlibido ulung, memperbini 9 wanita yang di antaranya:
Haryati 23 tahun; usia Sukarno 40 tahun.
Fatmawati 20 tahun; usia Sukarno 42 tahun.
Ratna Dewi 23 tahun; usia Sukarno 61 tahun.
Yurike Sanger 18 tahun; usia Sukarno 63 tahun.
Heldy Djafar 18 tahun; usia Sukarno 65 tahun.
Boleh jadi banyak pula perempuan muda lain yang menolak dinikahi bandot tua yang bernafsu syahwat kelas kakap ini yang senang gonta-ganti bini, tebal muka tak bermalu. Mestinya gadis-gadis ini, terutama dua yang terakhir yang masih bau kencur sepangkat cucunya, tidak jatuh dalam pelukannya, melainkan dibiarkan menikmati masa remajanya secara alamiah.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari perilaku pejantan ini? Apakah itu bisa dikategorikan sebagai kejahatan sosial?

Kendati tiada larangan menikahi perempuan yang berumur puluhan tahun di bawah umur sendiri dan tidak diharamkan oleh agama impor atau lokal, perilaku para pejantan ini bikin manusia modern menelengkan kepala. Yang lebih mengherankan lagi adalah para pejantan itu tega nian melecehkan keberadaan istrinya selama ini, demi memenuhi ego mengawini perempuan yang lebih segar. Dan, seringnya Tuhan berpihak pada pejantan ini dan membiarkan sang istri meratap lemah, pilu air mata yang bersimbah, tempat bergantung yang patah.

Kita tahu suami bekerja dari pagi hingga sore di tempat kerja. Istri bekerja dari subuh sampai malam, di dalam dan luar rumah, untuk mempersiapkan segala kebutuhan anak suaminya, dengan waktu jam kerja yang jauh lebih banyak. Seandainya terjadi perceraian, wajarlah segala harta benda yang diperoleh selama pernikahan setidak-tidaknya DIBAGI DUA SECARA ADIL, seperti di negara maju yang menempatkan keadilan sebagai sesuatu yang selalu aktual, ideal, universal, dan sakral. Bahkan suami yang ketahuan selingkuh akan beroleh harta yang lebih sedikit daripada bininya.

Tentu saja, pejantan negara berkembang yang berjiwa primitif tidak akan berkehendak berpikiran objektif, untuk mencipta keseimbangan masyarakat yang progresif. Bini yang dicerai terpaksa memagut pilu yang menghujani kalbu, ihwal balutan cinta suci dikhianati secara keji, dan sungguh malang dibuang secara sewenang-wenang.

Seperti karat, fenomena ini mustahil sama sekali dikerat, tetapi bisa dikurangi dengan tekad. Tuhan, yang muak dengan segala kenistaan ini, bisa menciptakan nabi lokal yang membopong wahyu yang berisi prinsipiil adil akan hak bini atau laki yang diceraikan. Agaknya Tuhan belum berkehendak sehingga manusia sendirilah yang mesti turun tangan, untuk mengentaskan masalah ini dengan membuat peraturan yang jelas tegas. Usulanku, bini yang diceraikan mesti beroleh 3/4 dari semua harta yang ada dan begitu pula sebaliknya. Jadi, seandainya semua harta (tabungan, rumah/tanah, dsb.) mencapai nilai Rp2.000.000.000, maka bini mesti beroleh tiga perempatnya, yaitu Rp1.500.000.000. Sesuatu yang adil dan sekaligus konsekuensi ini akan melunakkan fantasi mesum yang lahir dari otak cabul sang lelaki.

Belum pernah kudengar ada kenalan dekat, yang membuatnya bagai meregang nyawa, bila tidak mengawini wanita muda, dan mencampakkan bini pertamanya. Apabila ada di antara kita yang berpikiran begitu, marilah merenung agak ia-ia dalam-dalam akan apa yang sudah dipersembahkan sang bini selama ini. Andai renungan itu tidak juga mampu menggapai kesadaran manusiawi kita, cobalah hunjamkan belati ke rusuk kiri hingga menembus jantung, untuk mengembalikan darah ini ke bumi lagi, sehingga nanti akan kita beroleh jawab atas segala pinta yang buta dan segenap harap yang bau kurap.

Sumber: Wikipedia dll.sukarno

ONLY WITH HONOR

“You are going far away, my son. I have no advice for you. You do not need it. Please go and take care of yourself.” That is all that my mother said to me at our home in Padang as I bowed my head down on the floor without uttering a word to listen to her judicious voice. Then, I stepped up on a bus bound for the harbor in 1981 where I boarded a ship that took me to the promise land, Java Island.

As the second son of four siblings, including an older brother and two younger half-sisters, I frequently helped my mother by sweeping the floor, cooking, and doing other household chores. Since she was busy as an elementary school teacher and my step-father was on the road as a truck driver, they did not have enough time to take care of my much younger sisters. I often took care of them, especially since my older brother did almost nothing to help. His existence around the house was like an extraterrestrial being, as far as I was concerned.

Even though I was a diligent child who liked to do many things around the house, I strongly shunned anything that was against my principles and frame of mind – even advice from my own parents that went against my ideas. So, it was not strange that my mother’s lightning frequently struck. Gradually she realized my stubbornness, which was like a wide-based mountain, was impossible to abolish and accepted it as a matter of course from a super-independent hominid. Consequently, when my departure day came to go study far away, she had refrained from producing the following traditional words from her lips as advice to me,

Karatau madang di hulu

babuah babungo balun.

Marantau bujang dahulu

di rumah baguno balun.

This old adage mentioned here urges young Minangkabau men to go away from their hometown since they are not unusable yet. This concept is like the tip of a sharp sword pointed to my throat, like other males who are born in West Sumatra, too. This is part of our matrilineal society, a society that forces young men to stay far away from their mothers and leave their home region as soon as possible. The tradition is to make them go to as far away as possible, obtain success in that foreign land before returning. The time was ripe for me to cany out the mission of the “ouster”.

Under a heavy cloud that was hanging from a gray sky, the old little bus that I got on roared down the road with an exhausting sound eventually faced the face of the harbor. Upon arrival, my mind was still dim about the fact that I had to leave my own birthplace, even though leaving is embedded deeply in my culture. When I was about ready to board the ship, a heavy drizzle began that made people feel gray. With burdened hearts, everyone got soaked to the skin. The sea birds that grew reluctant to fly dimmed the atmosphere much more.

The ship that would take 3 days to get to Jakarta was very big for that time. I wonder if it was about 50 meters in length. It did not seem to be old yet. A great number of passengers with their big luggage moved very slow to step on the only stair to board the tall ship enduring a drizzle that had turned into a rain that continued to get heavier. I had a trunk and a bundle full of clothes, books, and food.

Needless to say, walking on the stair without luggage would be quicker. One of my friends who I was departing with sparked electricity in his brain with the idea to get on without our luggage and then throw down a rope that was hanging at the side of the ship to retrieve our things. Those who stayed on land, he thought, would tie the luggage to the rope and we would pull it up. It was “a thumbs up” idea, so we began to work on this. Three of us were quite exhausted to pull up the heavy luggage. However, it took only about I0 minutes to do it rather than slowly bring it up the stair. After we finished, other passengers grabbed up on my friend’s idea and did the same thing, too.

About three hours later, the ship weighed its anchor and gradually receded from the harbor accompanied by the “Teluk Bayur” song that was sung by Ernie Djohan. “Teluk Bayur”, which is the name of the harbor. The song was so popular at that time, so it certainly never faded away from those who left their homeland.

Goodbye lovely Teluk Bayur.

I will go across the sea.

I will pursue the knowledge of a foreign land

as for a foothold in my life when I am old. …

By the way, my mother was very strict to educate us, her children, and hated to see someone be a crybaby. Men have to harden their hearts against self-pity. Even though she looked sad at the harbor, she shed no tears. A few years later, a family member told me that my mother cried hard after arriving back home. I think she did not want to pour out her tears to my heart, the one who was leaving for a far away destination.

It seemed the ship was monopolized by graduates of senior high school, Iike me, who would pursue studies elsewhere. Everyone’s faces reflected their sadness and uneasiness mixed with hope for success. Most of us were busy to read books earnestly to prepare for university entrance examinations. There was a silhouette in my brain that some of these young men who were the same age as me will someday be great people, common people, Iower class people, and even thieves. Certainly all of us would be thieves, namely to steal someone’s goods, office supplies, or at least steal a woman’s heart.

Many of the seamen were still young who came from many prefectures in the Indonesian archipelago. One day, a seaman who was already close with us took us to the machine room that was situated in the lower part of the ship. It was a courtesy since the area was private and forbidden for any passengers to enter. There was a water pump working 24 hours a day to suck out water that ran into the machine room from a crack in the wall. If the pump broke, surely the scenario of our life would be broken, too. In spite of realizing that death is a natural process of human beings’ lives, anxiety arose across my face, especially when I thought about the major obligation to my parents to be successful in a foreign place was not repaid yet.

Unwritten information on the ship was flowing from mouth to mouth, and it was not strange that the information would change along the way. The further away the firsthand information went, the weaker the accuracy of reality it became. Water which sometimes leaked out at given times from the shower spouts suddenly stopped altogether, and many passengers were screaming while their bodies were still full of soap. My friend and I could not help but laugh whenever screaming came from the public shower room. During the entire trip, I never had the guts to take a shower and endured a stinking body until we got off in Jakarta.

The toilet tank was full of human excrement and urine which was smelly yellow and chocolate colors. At certain times, a seaman would come to pour water into it. Of course, there was no toilet paper available. Usually I brought a cup of water to the toilet with me to wash my small buttocks.

When I was a senior in high school, I was confused about what kind of road I would have to choose to make my dreams come true. There was no plan to leave for Java Island which is so far away from my hometown. Moreover, I did not have any relatives there. (It is in our culture to try to go to a place where we have some sort of relative living there.) Fortunately, one of my friends strongly encouraged me to go together with him and stay with one of his relatives in Jakarta. Also, when we arrived in Bandung, the city where we would take the university exam, alumnae from our high school let us stay with them until we completed our exam and found our own apartment.

I was stunned into silence pondering with blind jealousy toward friends who had brains that rotated like quick discs to easily accomplish complicated calculations. I suffered from an inferiority complex that made me feel distant from those around me. When I was still in high school, my grades were in the middle range. So, I convinced myself not to choose a department in the university that was allocated for bright students. There were three departments I could choose from in the same or different universities but I chose only two departments. As expected, I could not enter the Economic Department at the Pajajaran University that I really desired due to my entrance exam results. However, the Bandung Institute of Education accepted me for the Japanese Language Department, which had less examinees at that time.

Actually, before boarding the ship, I swore to myself I would never step foot in my hometown again unless I could enter a university on Java Island. So, I felt like I was canying a heavy load on my shoulders when the ship gradually floated further and further away from land. After I passed the university exam, I told my parents I would not go home until I graduated.

Even though I succeeded to graduate, I did not want to show my face in my hometown until I began a job in the big city of Jakarta. This was a matter of honor. After working there for a few months, a study program brought me to Japan for two weeks. Then a few months later, my office sent me to attend a symposium about Japanese education that was held in West Sumatra. It was a golden opportunity for me to see my hometown again after six years.

This new age gave birth to a new breed of Minangkabau males who are developing somewhat different characteristics from the older generations. Most of them still leave their hometown, but most of them become weak-spirited. They tend to return to their parents at any available time before obtaining any substantial success. They are indeed a fountain of emotions. It might be unavoidable that the hegemony of this new age will remove the old tradition entirely one day. These young men whose spirits are fading away through and through as they leave their home to make a way in life is a disappointing phenomenon.

edizal

KEMALINGAN LAGI DAN NEZUMI KOZO 鼠小僧

nezumi kozoBeberapa waktu yang lalu rumah kami di Padang disantroni maling lagi, entah buat yang keberapa kali. Yang disambar adalah komputer laptop mahasiswi yang menyewa salah satu kamar di sini yang bikin kami trenyuh sekali, lantaran rutinitas belajarnya terganggu, dan bahkan dia trauma berhati tak menentu. Tidak tahu aku berapa persen rumah yang belum disinggahi oleh uda maling di Sumbar yang katanya pekat beraroma keagamaan, yang saban hari mendengar ayat suci berbahasa Arab yang tidak mereka pahami dari ribuan masjid di sana-sini.

Kuyakini di antara uda-uda pencuri itu ada yang melakukan gawe demi kelangsungan hidup sendiri atau keluarga sendiri, lantaran tidak mampu beroleh kerja, lantaran tersingkir oleh mereka yang berpunya (pendidikan, akses, dana, dll), suatu produk kesenjangan sosial dalam masyarakat kapitalis yang setengah matang. Saudara kita yang mencuri adalah mereka yang kesempitan dalam persaingan hidup yang tak berkesudahan. Tentu saja, ini bukan suatu pembenaran. Yang jelas, perilaku begini adalah semacam tanggapan yang wajar terhadap nasib yang kurang ajar.

Adakah di antara para maling itu yang berbudi luhur seperti sosok Nezumi Kozo di Jepang atau kisah rekaan Robin Hood di Inggris yang menggasak harta orang kaya untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang hidup merana?

“Nezumi Kozo” yang berarti “Buyung Tikus” adalah sebutan untuk pencuri terkenal yang malang melintang mengembat barang-barang kaum samurai yang berstrata sosial tertinggi dalam masyarakat feodal Jepang pada Zaman Edo (1603-1867). Kendati tahu bahwa mencuri itu berat hukumannya, apalagi menggasak harta milik kaum samurai, dia melaksana panggilan hatinya untuk menyelamatkan kaum yang ketakutan dan menderita di bawah bayang-bayang pedang samurai. Nama aslinya sendiri adalah Nakamura Jirokichi 仲村次郎吉 (1797 – 1831).

Dia tertangkap pada 1822, ditato, dan diusir dari Tokyo. Saat tertangkap lagi pada 1831, dia mengaku sudah menggasak lebih dari 100 rumah kaum samurai dengan jumlah kerugian yang amat besar. Lantaran hasil kerjanya itu disuplai untuk orang miskin, dia hampir tidak beruang saat tertangkap terakhir kalinya. Sesudah diikatkan ke kuda dan diarak dalam kota, hukuman pancung di depan umum digelarkan dan kepalanya dipancangkan sebagai pelajaran buat orang banyak. Dia menyerahkan surat cerai sebelum tertangkap demi menjaga kehormatan sang bini agar tidak terbawa-bawa oleh kegiatan relawan yang dia jalani. Namanya tetap dikenang sampai kini sebagai sosok terpuji yang berhati suci, buat kaum miskin, yang menapaki jalan hidup berduri.

Kalau di Nottingham (Inggris) Anda bisa menemukan patung Robin Hood, di daerah Asakusa (Tokyo) boleh jadi Anda kaget setengah mati melihat patung Nezumi Kozo yang mencogokkan wajah, mengendap-ngendap di atap bangunan dengan kotak curian yang dikepitnya. Boleh jadi dia juga mau merampas uang Anda, uang yang merupakan hak orang miskin.

Ada kleptomania, sifat mencuri yang disisipi Tuhan ke dalam kromosom manusia, yaitu yang bersangkutan senantiasa beroleh kepuasan dengan mencuri, kendati uangnya banyak sekali. Para maling, termasuk pegawai negeri yang banyak menyambar uang/barang rakyat, tanpa risi, tentunya tidak bisa dikategori ke dalam penyakit kleptomania ini.

Perlu kita berhati-hati, tidak teledor, dengan memanfaat nalar secara optimal untuk menghambat gawe tamu yang tidak diundang ini. Selagi Tuhan tidaklah berkehendak, seperti karat, mustahil gejala buruk ini bisa dientaskan habis dari masyarakat. Tetapi, jelas bisa dikurangi. Mengurangi jumlah penduduk dan mengekang nafsu, sembari menyelamatkan mereka yang kurang diberkahi oleh Tuhan, akan membuat hidup ini lebih indah, lebih sejuk, lebih beraroma wangi kesturi yang berlantai pualam dan berdinding tersulam alun bosanova yang temaram.

Sang maling boleh jadi menikmati derita hidup dalam kabut yang bersinar redup, berpikiran buntu lantaran tidak ada tempat untuk mengadu. Jumlah penduduk yang menggelembung tak terbendung, tak pelak lagi, menjadi pemicu fenomena yang tidak diingini ini. Perut-perut yang menggelembung juga menjadi bukti nyata betapa banyaknya manusia egosentris dengan urat malu yang menipis, mengabaikan kaum miskin yang hidup meratap tangis.

Perlu dibikinkan patung sebagai pengingat bagi banyak manusia yang jahat. Jadi, baiknya di Sumbar atau di provinsi lain didirikan patung pencuri yang pejantan atau yang bersosok pegawai negeri yang memegang kitab suci, yang enteng saja mencuri uang/barang rakyat tanpa risi.

BUAH KAMBING MENTAH

buah kambingSetentangan orang Jepang yang menyantapi sashimi (ikan mentah) yang katanya nikmat, baru masuk telingaku tatkala mulai melapal hidup di Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di Bandung, di mana hal-hal yang berbau kejepangan mulai bergayut-bergelantung di dinding jiwa ini. Sudah barang tentu saat itu muncul perasaan bergidik membayangi makan ikan mentah itu dan tidak ada keinginan untuk mengicapnya, lantaran ianya tidak pernah tersilang berpotong dalam makanan sehari-hariku.

Semasa kuliah itu pernah pula kudengar orang Jepang yang makan daging sapi mentah yang bikin nafsu makanku hilang musnah. Namun, keseringan mendengar makanan mentah tersebut dalam persentuhan budaya yang beda-beda, apalagi sesudah diperlaki wanita sakura, perasaan ngeri dan bergidik itu tidak lagi menggelitik perasaanku yang udik.

Banyak jenis sashimi yang umum dalam masakan Jepang. Di bawah ini dibariskan beberapa jenis sashimi lain beserta daging mentah yang bisa dinikmati. Perlu dicatat, tidak semua makanan tersebut populer di setiap daerah di Negeri Sakura.

Gyusashi 牛刺し: Irisan daging sapi mentah.
Basashi 馬刺し: Irisan daging kuda mentah yang cukup spesial di Provinsi Kumamoto, Nagano, Gifu, dan Toyama.
Torisashi 鶏刺し: Irisan daging dada ayam mentah yang cukup spesial di Provinsi Kagoshima dan Miyagi.
Butasashi 豚刺し: Irisan daging babi mentah.
Yagisashi 山羊刺し: Irisan daging kambing mentah yang cukup spesial di Provinsi Okinawa.
Torisashi 鳥刺し: Irisan daging ayam mentah.
Rebasashi レバ刺し: Irisan hati sapi mentah.
Ikizukuri 活き造り: Ikan hidup disiangi cepat, dipotong-potong, dan lantas disusun lagi di atas nampan khusus dengan menyertai kepala + ekornya. Ikan yang masih bernyawa bergelinjangan tersebut kelihatan lebih segar (katanya).
Odorigui 踊り食い: Hal menyantap hidup-hidup ikan kecil.

Makan larva lebah mentah-mentah, yang masih berupa ulat, di daerah pedalaman Provinsi Nagano dan Provinsi Yamanashi mengingatku pada saudara kita di pedalaman Papua yang pula menikmati ulat besar mentah-mentah yang diperoleh dari dalam pohon yang sudah lama tumbang. Protein yang banyak terkandung dalam ulat tersebut pastilah diperlukan amat oleh batang tubuhnya.

Sewaktu bertandang ke provinsi paling selatan di Jepang, Okinawa, lebih dari 30 tahun yang silam, yang kuketahui adalah mereka sangat doyan menyantap babi dengan berbagai jenis masakan. Lama sesudah itu baru kuketahui bahwa orang di sana juga menyantap kambing yang dimasak, daging kambing mentah, bahkan buah kambing mentah. Kalau berkunjung ke Tokyo, yang berminat mencoba masakan begitu bisa mampir di Restoran Little Okinawa (Ritoru Okinawa).

Seandainya Tuhan melahirkan kita di Provinsi Okinawa, boleh jadi tidak muncul perasaan risi, ngeri, atau jijik disuguhi makanan buah kambing mentah, tempat bersemayamnya jutaan sel sperma kambing itu. Di mana kita dibesarkan, ilmu dan pengalaman hidup yang kita dapatkan, berpengaruh amat besar dalam menempa indera dan dari tataran ini menjauhkan kita dari saudara sedunia yang diberkahi jalan hidup yang beda.

Sewaktu ibuku berkunjung ke Jepang, selalu saja daya sentrifugal bekerja yang membuat ia menjauh dari daging babi yang dipajang berderetan dengan daging sapi. Wajahnya yang berkerinyut-kerinyut mewakili suasana hatinya yang carut marut menengok daging babi yang diharamkan oleh agamanya. Hal yang sama pasti juga dirasakan oleh saudara kita yang beragama Hindu menengok sapi, binatangnya yang suci, disantap oleh penganut lain saban hari. Andai Tuhan melahirkan ibuku di Provinsi Okinawa, mungkin sumringah dia menikmati kambing mentah dan babi mentah.